Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

Sudah Saatnya Pemerintah Geber Pengadaan Listrik Bagi Nelayan

SELASA, 27 SEPTEMBER 2016 | 04:41 WIB | LAPORAN:

RMOL. Pemerintah diminta untuk terus mewujudkan pengembangan listrik bagi nelayan di Indonesia. Selain kebutuhan ini mendesak, tenaga untuk mengerjakannya sudah siap. Proyek listrik 35 ribu mega watt dapat diwujudkan dengan teknologi yang sudah dirintis oleh anak bangsa.
 
Koordinator Bidang Energi dan Sarana Prasarana DPP Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Siswaryudi Heru menyampaikan, beberapa pengadaan infrastruktur pro nelayan, seperti pengadaan listrik bagi nelayan telah terbukti bisa dilakukan dengan harga yang terjangkau dengan teknologi yang bagus dan bisa dilakukan di Indonesia.
 
"Listrik bagi nelayan itu harus segera di wujudkan di seluruh Indonesia. Nelayan-nelayan kita di berbagai pulau, pesisir dari Sabang sampai Merauke, sangat membutuhkan listrik untuk dan pengembangan infrastruktur yang terjangkau, agar mereka bisa mengembangkan potensinya,” tutur Siswaryudi, dalam surat elektronik yang dikirimkan ke redaksi, Selasa (27/9).
 

 
Pemerintah, lanjut dia, juga tidak perlu bersusah hati mencari pemodal dan tenaga yang bisa mewujudkan itu semua. Sebab, teknologi yang sudah terbukti seperti di Benoa dalam mewujudkan listrik bagi masyarakat pulau sudah tidak perlu diragukan lagi.
 
"Kita berharap, mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia tidak terkendala karena belum terwujudnya pengadaan listrik bagi nelayan-nelayan kita di pulau-pulau. Nelayan kita akan menjadi penopang utama progan mewujudkan tol laut dan Poros Maritim Dunia, maka utamakan juga mereka,” ujar Siswaryudi.
 
Sebagai keberlanjutan perwujudan listrik bagi pulau-ulau dan nelayan, keberadaan Benoa LNG terminal kembali menorehkan prestasi dan menjadi magnet bagi investor. Terbukti Jumat (23/9) lalu telah dilakukan penanda tanganan MOU antara PT Pelindo Energi Logistik dengan China Communication Construction Company, Ltd. untuk mengembangkan proyek infrastruktur energy  di Indonesia.
 
Direktur PT Pelindo Energy Logistik, Gembong Primadjaja menyampaikan, MoU ini bertujuan membangun kolaborasi mewujudkan terminal-terminal LNG berikutnya setelah terbukti sukses di Bali. Terminal-terminal dimaksud bisa berupa small skill maupun yang berkapasitas besar.
 
"Untuk bali kan sudah berjalan dengan investasi Rp 1,2 Triliun. Dengan MoU ini kita akan pelajari kemungkinan untuk pengembangan-pengembangan di wilayah lain,” kata Gembong Primadjaja.
 
Selain di benoa saat ini PT. Pelindo Energy Logistik juga sedang menggarap pembangunan terminal LNG untuk Celukan Bawang.
 
Semetara itu proyek lainnya yang masih dikaji bersama adalah untuk Surabaya dengan nilai Rp 20 Triliun. Dari kajian nantinya akan dirumuskan skema permodalan. Berapa besaran dari investor maupun yang disiapkan oleh Pelindo. "Dari MoU lakukan perhitungan berapa investasinya berapa mereka dan berapa kita,” katanya.

Gembong Primadjaja menjelaskan bahwa MOU ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan presiden RI, Joko Widodo ke Cina beberapa waktu yang lalu.
 
Dalam kunjungan tersebut, ada 3 kesepakatan yg dihasilkan, di antaranya adalah mengembangkan investasi utk manufaktur dan infrastruktur di Indonesia. CCCC Ltd sebagai  perusahaan konstruksi infrastruktur no 1 di China. Salah satu proyeknya sudah dapat kita nikmati di Indonesia adalah Jembatan Suramadu.
 
Presiden Jokowi dalam kunjungannya ke Benoa LNG Terminal pada bulan Juni lalu, beliau melihat bahwa ini adalah pencapaian yang luar biasa, dan harus segera didukung oleh PLN serta secepatnya diimplementasikan pada tempat yang lain.
 
Sebagai perusahaan public, CCCC Ltd yg merupakan perusahaan infrastruktur pemerintah Cina, telah menyiapkan capital expenditure (capex) senilai USD 20 miliar, dengan focus lebih besar  untuk membangun infrastruktur di ASEAN. CCCC ltd saat ini juga tercatat sebagai perusahaan pengerukan ketiga terbesar di dunia dan telah mencatatkan pendapatan sebesar USD 54,8 milyar 2015 lalu. [sam]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

UPDATE

PDIP Duga Ada Pengerahan Komcad Saat Pengamanan Demo Mahasiswa, Ini Penjelasannya

Senin, 15 Juni 2026 | 08:19

Bursa Asia Hijau Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 08:12

Harga Minyak Dunia Rontok Usai Trump Umumkan Kesepakatan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:54

Harga Logam Mulia Melonjak, Emas Mendekati Rekor Baru

Senin, 15 Juni 2026 | 07:42

AS dan Iran Bakal Teken Perjanjian Damai di Swiss Jumat Ini

Senin, 15 Juni 2026 | 07:26

Pemerintah Dorong Susu Hadir Setiap Hari dalam Program MBG

Senin, 15 Juni 2026 | 07:15

Trump Klaim Amankan Kesepakatan Damai Terbesar dengan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:00

Pengelolaan Blok Andaman Diusulkan Pakai Skema Hybrid

Senin, 15 Juni 2026 | 06:50

Dokter Tifa Dukung Prabowo Pimpin RI Tanpa Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 06:27

Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor

Senin, 15 Juni 2026 | 06:23

Selengkapnya