Berita

Foto/Net

Bisnis

Jumlah Petani Terus Susut Dan Banyak Berusia Lanjut

SENIN, 26 SEPTEMBER 2016 | 09:44 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pertanian di Tanah Air tengah menghadapi persoalan sumber daya manusia. Jumlah petani mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Dan, lebih dari separuh, kini sudah berusia lanjut.
 
Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) menyoroti serius masalah tersebut. Mereka ke depan akan memfokuskan diri meningkatkan kualitas pengelo­laan lahan.

"Peningkatan kualitas petani sekarang mutlak harus dilaku­kan. Jangan lagi mengandalkan kuantitas (petani), karena jumlah petani terus menurun semen­tara kebutuhan pangan terus meningkat," kata Ketua KTNAWinarno Tohir di hadapan ratu­san petani pada acara Rembug Utama Kelompok KTNA 2016, di Planery Hall Convention Hall Samarinda (CHS), Kalimantan Timur, Jumat (23/09).


Winarno memaparkan tren penurunan jumlah petani di Tanah Air dari tahun ke tahun. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), Winarno me­nyebutkan jumlah rumah tangga usaha tani di Indonesia pada 2003 tercatat masih 31,17 juta. Namun sepuluh tahun kemu­dian, 2013, jumlahnya menyusut menjadi 26,13 juta. Turun sekitar lima juta selama sepuluh tahun. "Kalau dirata-rata penurunan jumlah petani setiap tahun sebe­sar 1,75 persen," terangnya.

Winarno mengatakan, penu­runan jumlah petani disebabkan minat kaum muda bekerja di sek­tor pertanian mengalami penu­runan. Mereka lebih cenderung memilih bekerja di kota.

Dia berharap, peningkatan kualitas pertanian, tidak hanya mengerek hasil produksi, tetapi juga kesejahteraan petani. Se­hingga dengan demikian, per­tanian dapat kembali diminati kaum muda.

Selain penyusutan jumlah, Winarno mengungkapkan, dunia pertanian juga menghadapi masalah minimnya tenaga produktif. "Sebanyak 65 persen petani kita berusia lanjut, sudah tua-tua," ungkapnya.

Masalah lain yang menjadi sorotan KNTAyakni mengenai target swasembada pangan. Winarno menegaskan, pihaknya siap mendukung target pemerintah. Menurutnya, pihak akan mengadopsi sistem per­tanian Jepang dalam pengelo­laan lahan. "Pola pertanian di Jepang cocok dikembangkan dengan kondisi jumlah petaninya sedikit," ujarnya.

Dia menjelaskan, produk­tivitas pertanian di Jepang ba­gus karena petaninya memi­liki pengetahuan yang luas atas jenis tanaman yang ditanamnya. Mereka trbukti bisa mengubah masa musim panen dari biasanya satu tahun sekali, menjadi tiga kali dalam satu tahun.

"Kita akan penuhi kebutuhan petani seperti air, pupuk, hingga menjual hasil pertanian begitu panen," terangnya.

Winarno yakin pihaknya akan berhasil mengerek hasil perta­nian di dalam negeri. Karena, KNTA memiliki jejak rekam, berhasil membantu pemerintah dalam menciptakan swasembada beras pada medio 1984-1986.

"Saat Indonesia swasembada beras, kami ikut membantu kor­ban kelaparan di Ethiopia, Af­rika. Saat itu, KTNA menyum­bang 100.100 ton," ungkapnya.

Jaga Produksi

Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Per­tanian (Kementan) Suwandi mengamini tren penurunan jumlah petani di tanah Air.

Dia menjelaskan, banyaknya tenaga kerja lebih senang bekerja di sektor industri meru­pakan tren yang banyak terjadi di negara berkembang.

"Kami di Kementan untuk mengatasi masalah itu memiliki program khusus, yakni mengajak kaum muda bertani," kata Suwandi.

Program itu antara lain mengenalkan dan memberi­kan bantuan peralatan perta­nian modern. "Dengan mekanisasi, semuanya pekerjaan bisa dikerjakan dengan praktis dan cepat, modernisasi ini pasti menarik minat anak generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian," ungkapnya.

Sementara itu soal produk­tivitas pertanian, Suwandi menegaskan, pihaknya terus berupaya mencetak sawah baru. ***

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Legislator Gerindra Dipanggil Majelis Kehormatan Usai Viral Main Game saat Rapat

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:19

Emas Antam Ambruk, Satu Gram Dibanderol Rp2,81 Juta

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:10

Di Forum BRICS, Sugiono Kenang Empat TNI Gugur dalam Misi Perdamaian Lebanon

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:02

Pengamat: Kombinasi Sentimen Global Bikin Rupiah Tersungkur

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:29

Jakarta Masih Ibu Kota Kabar Baik untuk Masa Depan Indonesia

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:23

ARUKKI Surati Ketua KPK, Minta Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Diperiksa

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:16

Jemaah Haji Lansia dan Sakit Tetap Raih Pahala Meski Beribadah di Hotel

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:09

Resmi Masuk RI! Ini Spesifikasi dan Harga MacBook Neo, Laptop Termurah Apple

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:03

PKB Gagas Reformasi Perlindungan Santri Lewat Temu Nasional Ponpes

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:01

Di Balik Pelemahan Rupiah, Ada Tekanan Besar pada Ekonomi Domestik

Jumat, 15 Mei 2026 | 10:51

Selengkapnya