Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

Pemerintah Asik Ngutang, Rakyat Miskin Terbebani Rp133 Ribu/Bulan

SELASA, 20 SEPTEMBER 2016 | 19:36 WIB

UNTUK memenuhi hasrat bagi-bagi mega proyek infrastruktur, pemerintah terus berburu uang. Tampaknya langkah ini diambil karena keadaan ekonomi sedang memburuk. Pemerintah memandang satu-satunya cara untuk mendapat uang dalam jumlah banyak adalah dengan menumpuk utang.
 
Benar kata pak Jokowi waktu kampanye Pilpres 2014 lalu bahwa uang Indonesia banyak. Ternyata yang dimaksud Presiden Jokowi uang banyak tersebut benar, tinggal utang sebesar besarnya, maka uang Indoensia pasti banyak.
 
Bayangkan, selama 22 bulan Presiden Jokowi berkuasa, telah berhasil mencetak utang pemerintah sebanyak Rp. 732,366 triliun. Utang pemerintah tersebut bersumber dari dalam negeri sebanyak Rp. 384,617 triliun (sampai Agustus 2016) dan bersumber dari luar negeri Rp. 347,749 triliun (sampai qwartal II 2016).
 

 
Dengan demikian, setiap orang Indonesia selama 22 bulan pemerintahan Jokowi telah dibebani tambahan utang sebesar Rp. 2,929 juta perkapita. Berarti, setiap orang miskin di Indonesia yang rata rata pendapatan per bulannya Rp. 415 ribu dibebani tambahan utang Rp 133,15 ribu/bulan.
 
Dengan demikian, Presiden Jokowi setiap bulan meciptakan utang rata rata Rp. 33,289 triliun (belum termasuk utang luar negeri pemerintah sepanjang Juli-September 2016). Ini luar biasa hebat, prestasi Presiden Jokowi mengalahkan seluruh presiden manapun di Asia Tenggara.
 
Padahal, pada saat yang sama pemerintah gembar gembor tentang capaian tax amnesty. Menurut keterangan resmi pemerintah harta yang sudah masuk dalam tax amnesty sudah mencapai Rp. 1000 triliun. Ini adalah angka yang besar, dunia bahkan bergetar. Singapura katanya dehidrasi.
 
Pertanyaannya? Kalau sudah berburu dan dapat uang haram dari tax amnesty, mengapa pemerintah masih berburu utang. Sejak program tax amnesty diberlakukan antara bulan Juli-Agustus 2016 tambahan utang pemerintah yang bersumber dari surat utang negara (SUN) mencapai Rp. 59,071 triliun. Katanya pajak melimpah kok nambah utang gila gilaan? [***]

Penulis adalah Koordinator Pusat Kajian Ekonomi Politik Universitas Bung Karno (UBK)

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

UPDATE

PDIP Duga Ada Pengerahan Komcad Saat Pengamanan Demo Mahasiswa, Ini Penjelasannya

Senin, 15 Juni 2026 | 08:19

Bursa Asia Hijau Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 08:12

Harga Minyak Dunia Rontok Usai Trump Umumkan Kesepakatan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:54

Harga Logam Mulia Melonjak, Emas Mendekati Rekor Baru

Senin, 15 Juni 2026 | 07:42

AS dan Iran Bakal Teken Perjanjian Damai di Swiss Jumat Ini

Senin, 15 Juni 2026 | 07:26

Pemerintah Dorong Susu Hadir Setiap Hari dalam Program MBG

Senin, 15 Juni 2026 | 07:15

Trump Klaim Amankan Kesepakatan Damai Terbesar dengan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:00

Pengelolaan Blok Andaman Diusulkan Pakai Skema Hybrid

Senin, 15 Juni 2026 | 06:50

Dokter Tifa Dukung Prabowo Pimpin RI Tanpa Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 06:27

Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor

Senin, 15 Juni 2026 | 06:23

Selengkapnya