Berita

Foto/Net

Bisnis

Konglomerat Ikut Tax Amnesty, Realisasi Dana Tebusan Melejit

Tommy Soeharto Mau Bawa Pulang Aset Di Luar Negeri
JUMAT, 16 SEPTEMBER 2016 | 09:13 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Capaian pengampunan pajak (tax amnesty) kemarin cukup menggembirakan. Realisasi dana tebusan sampai kemarin sore, tercatat Rp 21,3 triliun, naik signifikan jika dibandingkan dua hari sebelumnya yang baru terkumpul Rp 9,31 triliun. Capaian itu antara lain dampak makin banyaknya konglomerat ikut program tax amnesty.
 
Kemarin, ada lagi pengusaha kakap yang ikut tax amnesty. Dia adalah Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto. Tommy mengakses tax amnesty melalui Kantor Wilayah Direk­torat Jenderal Pajak Besar IV, di Sudirman, Jakarta.

"Hari ini saya berkunjung ke kantor pajak untuk mendaftar­kan dalam program tax amnesty. Alhamdulilah, semua berjalan lancar," kata Tommy.


Tommy mengatakan, dirinya ikut tax amnesty karena ingin memanfaatkan kesempatan yang diberikan pemerintah kepada wajib pajak yang belum me­laporkan asetnya.

Dia menilai, program tersebut sangat baik karena ke depan akan memudahkan dirinya men­jalankan bisnis.

Tommy mengungkapkan, sebagian besar harta yang dide­klarasikannya adalah kekayaan yang ada di luar negeri. Ben­tuknya bermacam-macam. Ada aset dalam bentuk saham, reksa dana, piutang, dan sebagainya.

Aset-aset tersebut, kata Tom­my, selama ini tersimpan di berbagai negara. Menurutnya, sebagian harta tersebut sebagian akan dibawa ke dalam negeri.

"Harus dibawa kembali setelah dilaporkan (repatriasi-red), sebe­lum akhir tahun," terangnya.

Berapa nilai aset di luar negeri yang akan direpatriasi? Tommy enggan menyebutkannya. "Itu rahasia dong," jawab Tommy.

Tommy mengaku dirinya ikut tax amnesty atas inisiatif pribadi. Tidak ada keluarga Cendana yang lainnya tahu.

"Saya belum ngomong sama mereka. Ya, harusnya mereka juga memanfaatkan kesempatan ini," katanya.

Selain Tommy, pengacara kondang Hotman Paris Hutapea kemarin juga ikut tax amnesty. Hotman selama ini juga dikenal sebagai pengacara tajir.

Hotman mengungkapkan, dirinya ikut tax amnesty karena ada hartanya di luar negeri be­lum dilaporkan ke pemerintah.

Dia yakin bukan hanya dirinya saja yang menyimpan sebagian hartanya di luar negeri. Tapi, semua masyarakat kelas menengah lainnya.

"Semua masyarakat kelas menengah di Indonesia pasti punya tabungan di luar negeri. Saya pernah ketemu di Citibank Singapura, pedagang bakmi dari Siantar. Jadi memang itu sudah sifat dari semua pengusaha berusaha menghemat pajak," ungkapnya.

Hotman merasa lega setelah melaporkan hartanya lewat pro­gram tax amnesty.

"Kalau kita tidak mengaku, atau tidak ikut, kena 25 persen. Kalau tertangkap kena 48 persen dendanya, belum lagi pidananya. Belum lagi kita capek bikin rekayasa. Kalau ini kan, ini har­taku, kena cuma 2 persen. Tapi tahun depan jangan ganggu gua lagi ya," pintanya.

Hotman memuji program tax amnesty. Dia menilai, tax amnesty sebagai ide jenius. Karena, era keterbukaan infor­masi perbankan akan digelar pada 2018.

Seperti diketahui, sebelum Tommy Soeharto, sehari sebe­lumnya, konglomerat kakak beradik Garibaldi Thohir dan Erick Thohir ikut tax amnesty. Banyaknya pengusaha kakap ikut program ini bisa jadi men­jadi penyebab melonjaknya realisasi dana tebusan.

Terus Sosialisasi

Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengungkapkan, pemerintah terus melakukan sosialisasi tax amnesty. Hal tersebut dilakukan demi menyakinkan Wajib Pajak (WP) yang masih ragu ikut tax amnesty.

"Pemerintah meyakinkan ke­pada meeka bahwa tax amnesty program baik," ujar pramono.

Dalam melakukan sosialisasi, lanjut Pramono, pemerintah me­nyampaikan bahwa dana yang diperoleh dari tax amnesty akan dimanfaatkan untuk membangun berbagai infrastruktur seperti jalan, jembatan, pelabuhan hing­ga bandara yang meningkatkan konektivitas antar wilayah juga termasuk pembangkit listrik, sehingga bisa mendorong perce­patan pertumbuhan ekonomi.

"Program tax amnesty tidak membidik rakyat kecil. Karena sasaran utamanya orang-orang yang memakirkan dana atau asetnya di luar negeri," sebut politisi PDIP itu. ***

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Legislator Gerindra Dipanggil Majelis Kehormatan Usai Viral Main Game saat Rapat

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:19

Emas Antam Ambruk, Satu Gram Dibanderol Rp2,81 Juta

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:10

Di Forum BRICS, Sugiono Kenang Empat TNI Gugur dalam Misi Perdamaian Lebanon

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:02

Pengamat: Kombinasi Sentimen Global Bikin Rupiah Tersungkur

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:29

Jakarta Masih Ibu Kota Kabar Baik untuk Masa Depan Indonesia

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:23

ARUKKI Surati Ketua KPK, Minta Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Diperiksa

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:16

Jemaah Haji Lansia dan Sakit Tetap Raih Pahala Meski Beribadah di Hotel

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:09

Resmi Masuk RI! Ini Spesifikasi dan Harga MacBook Neo, Laptop Termurah Apple

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:03

PKB Gagas Reformasi Perlindungan Santri Lewat Temu Nasional Ponpes

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:01

Di Balik Pelemahan Rupiah, Ada Tekanan Besar pada Ekonomi Domestik

Jumat, 15 Mei 2026 | 10:51

Selengkapnya