Berita

Farid Alfauzi/Net

Hukum

Sebaiknya KPK Ungkap Direksi BUMN Penerima Suap Di Singapura

JUMAT, 16 SEPTEMBER 2016 | 07:49 WIB | LAPORAN:

. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebaiknya tidak beropini atas adanya direksi salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menerima suap di luar negeri.

Pasalnya, KPK mendapat amanat undang-undang untuk tidak beropini, tetapi harus menindak tegas pelaku korupsi.

"KPK hanya menyebut salah satu direksi BUMN tanpa memastikan siapa sebenarnya yang dimaksud. Padahal kan direksi BUMN banyak," ujar Wakil Ketua Komisi VI DPR Farid Alfauzi kepada redaksi, Jumat (16/9).


Dia mengatakan bahwa BUMN jumlahnya banyak. Pada sektor perbankan ada BNI, Mandiri, BRI. Di sektor pengolahan ada Semen Gresik, Pupuk Petrokimia. Di sektor pertambangan ada Pertamina, PGN, dan di sektor konstruksi ada Wijaya Karya dan lain sebagainya.

Farid mengkhawatirkan apabila opini yang dibangun KPK mendapat respon negatif dari publik. Hal itu justru akan berimbas pada sentimen buruk pada pasar saham.

"Saham nasional bisa anjlok dan dapat mengakibatkan kerugian yang lebih besar," bebernya.

Selain itu, opini KPK juga dapat membuat resah dan kecurigaan satu sama lain di kalangan direksi dan komisaris perusahaan-perusahaan BUMN. Tidak menutup kemungkinan karena opini KPK ini juga membuat runtuh moral karyawan yang akhirnya memperburuk kinerja perusahaan.

Mengingat, KPK merupakan lembaga negara legitimate. Sekali ada opini yang bersumber dari sana, tentu akan melahirkan respon yang besar di kalangan masyarakat. Lain hal kalau opini yang berkembang justru menunjukkan ketidakpastian maka tentu yang muncul adalah kegaduhan.

"Sebaiknya KPK langsung tunjuk, langsung saja tangkap supaya tidak muncul kegaduhan. Bangsa ini butuh ketentraman dan stabilitas," jelas Farid.

"Kalau memang sudah ada bukti awal kenapa tidak segera ditangkap . Sehingga menteri BUMN bisa menunjuk direksi baru," tegas politisi Partai Hanura tersebut.

Sebelumnya, Ketua KPK Agus Rahardjo mengungkapkan bahwa pihaknya sedang menyelidiki dugaan suap ke salah satu direktur BUMN. Menurutnya, transaksi suap dilakukan di Singapura agar tidak terlacak Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

Namun, KPK ternyata sudah menjalin kerja sama dengan Biro Investigasi Praktik Korupsi Singapura (CPIB). Karenanya, KPK pun mendapat pasokan data dari CPIB tentang oknum dirut BUMN penerima suap itu. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Ini Pesan SBY untuk Pemerintahan Prabowo soal Langkah Stabilisasi Ekonomi

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:45

Pengusaha Perikanan jadi Tersangka Kasus Alih Fungsi Lahan di Batang

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:19

Atlet Terbaik Taekwondo Asia Siap Tampil di Jakarta pada Agustus Mendatang

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:55

SBY: Masih Tersedia Opsi dan Solusi dari Otoritas Moneter dan Fiskal Kita

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:31

Reformasi MBG dan Menjaga Asa Prabowo

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:02

Program MBG Jangan Dihancurkan Gegara Tata Kelola Bermasalah

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:42

Danantara Perkuat Fokus Bisnis Telkom Lewat Pemangkasan Anak Usaha

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:21

Said Didu soal Kasus BGN: Prabowo Betul-betul Dikhianati

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:07

Kapuspen TNI: Media Miliki Peran Strategis Mencerdaskan Bangsa

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:50

DPD Minta Dapur MBG yang Sudah Berjalan Jangan Diputus Mendadak

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:30

Selengkapnya