Berita

Totok Daryanto/Net

Politik

Mengalir, Dukung Acandra Kembali Masuk Kabinet Kerja

JUMAT, 09 SEPTEMBER 2016 | 08:28 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Belakangan ini beredar spekulasi politik bahwa Presiden Jokowi akan segera melantik kembali Achandra Tahar sebagai Menteri ESDM setelah dicopot pertengahan bulan yang lalu. Pernyataan Menkunham di DPR bahwa status kewarganegaraan Achandra sudah clear adalah WNI, tidak bisa dimaknai lain kecuali ada hubungannya dengan kemungkinan dilantiknya kembali Acandra sebagai Menteri ESDM.

Terhadap spekulasi ini respon masyarakat terbelah, ada yang setuju dan ada yang tidak atau kurang setuju dengan beberapa alasan.

Yang kurang setuju mengatakan, karena tugas di bidang ESDM begitu penting dan sangat strategis maka sebaiknya dijabat oleh orang yang tidak memiliki beban apa pun, sementara Acandra sebelumnya punya masalah dwi kewarganegaraan karena memegang paspor AS. Di samping itu isu Freeport yang distigmatikan merugikan Indonesia berkaitan dengan kontrak karyanya, segera akan memasuki tahapan negosiasi kontrak perpanjangan, kebetulanperusahaan tersebut berasal dari Amerika. Inilah beban yang dipikul oleh seorang Acandra ketika memulai tugas barunya sebagai Menteri ESDM yang harus di depan mewakili kepentingan Indonesia berhadap-hadapan dengan Freeport dalam proses negosiasi yang mungkin sangat alot.


Wakil Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Totok Daryanto yang juga anggota Komisi Energi DPR RI, mengapresiasi Presiden apabila mengangkat kembali Acandra sebagai Menteri ESDM. Selain merupakan hak konstitusional Presiden, hak prerogatif, mengangkat kembali Acandra sebagai menteri juga dipandang dapat menepis rumor bahwa Presiden salah pilih atau serampangan dalam menunjuk pembantu-pembantunya. Ini sudah menyangkut ranah kepercayaan publik terhadap leadership Kepala Negara, yang baru sekali ini terjadi dalam sejarah kepresidenan RI seorang menteri hanya berumur 20 hari jabatannya dikarenakan kesalahan prosedur administratif.

Menurut Totok, pemilihan Acandra juga tidak akan menimbulkan persoalan di Parlemen karena dukungan mayoritas partai di DPR dapat mengamankan setiap kebijakan yang diambil Presiden. Hal ini juga sekaligus menjadi sarana uji kesetiaan bagi partai-partai politik yang belakangan bergabung mendukung pemerintah.

"Jadi banyak aspek positifnya bagi Jokowi dalam hal ini," tegas Totok yang juga wakil Ketua Badan Legislasi DPR ini, Jumat (9/9).

Mengenai jabatan Menteri ESDM ini sebagian besar suara publik menghendaki berasal dari profesional dan tidak berasal dari partai politik, walaupun sesungguhnya dikotomi profesional dan politisi bukanlah pemilahan yang tepat. Sektor energi merupakan jantungnya ekonomi nasional sehingga wajar masyarakat pada umumnya menghendaki jabatan menterinya diserahkan kepada profesional yang independen, tidak berafiliasi atau di bawah pengaruh partai politik.

Sementara ada pula yang mengusulkan agar jabatan menteri ESDM diambilkan dari profesional yang ada di dalam negeri. Mengapa Presiden tidak menunjuk di antara mereka yang pasti tidak punya masalah seperti Acandra? Menurut Totok, barangkali Presiden punya pertimbangan lain, suatu kepercayaan selalu memiliki ruang mempribadi, dan kita tidak perlu berteka-teki tentang hal ini karena sebentar lagi akan segera mendapatkan jawaban ketika Presiden melantik menteri ESDM apakah Acandra atau profesional lainnya.

Yang jelas, lanjut Totok, harapan publik dewasa ini menyuarakan dorongan jabatan menteri yang strategis agar definitif, tidak dijabat oleh Plt Menko Maritim yang pasti sudah sedemikian sibuknya menangani tupoksinya sendiri. Tugas negara yang begitu besar tantangannya tidak bisa ditangani oleh figur rangkap jabatan. Nanti ada kesan tidak serius mengurusi sektor energi.

"Menteri yang baru nanti harus bisa membuktikan kinerjanya sebagai profesional dan nasionalis. Terhadap kontrak karya asing harus dapat menciptakan hubungan ekonomi yang adil bahwa kekayaan alam kita didedikasikan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Menteri juga harus paham bahwa era kita sekarang ini hilirisasi, jalan baru pengelolaan sumber daya alam yang secara ideologis kita yakini benar," demikian Totok. [rus]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

UPDATE

PDIP Duga Ada Pengerahan Komcad Saat Pengamanan Demo Mahasiswa, Ini Penjelasannya

Senin, 15 Juni 2026 | 08:19

Bursa Asia Hijau Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 08:12

Harga Minyak Dunia Rontok Usai Trump Umumkan Kesepakatan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:54

Harga Logam Mulia Melonjak, Emas Mendekati Rekor Baru

Senin, 15 Juni 2026 | 07:42

AS dan Iran Bakal Teken Perjanjian Damai di Swiss Jumat Ini

Senin, 15 Juni 2026 | 07:26

Pemerintah Dorong Susu Hadir Setiap Hari dalam Program MBG

Senin, 15 Juni 2026 | 07:15

Trump Klaim Amankan Kesepakatan Damai Terbesar dengan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:00

Pengelolaan Blok Andaman Diusulkan Pakai Skema Hybrid

Senin, 15 Juni 2026 | 06:50

Dokter Tifa Dukung Prabowo Pimpin RI Tanpa Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 06:27

Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor

Senin, 15 Juni 2026 | 06:23

Selengkapnya