Berita

Rudiantara/Net

Bisnis

Di Tangan Rudiantara, Ekonomi Digital NKRI Bisa Habis Dijual Murah Ke Asing

RABU, 07 SEPTEMBER 2016 | 10:57 WIB | LAPORAN:

Presiden Joko Widodo (Jokowi) diminta memberikan perhatian lebih terhadap sepak terjang dari Rudiantara yang sudah dinilai melenceng dari Nawacita dalam mengemban jabatan menteri komunikasi dan informatika (Menkominfo).

"Saya perhatikan selama hampir dua tahun sebagai Menkominfo, Rudiantara melenceng dari Nawacita dan Trisakti, khususnya dalam mewujudkan kemandiran ekonomi berbasis teknologi digital di Indonesia," kata Direktur Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala, di Jakarta, Rabu (7/9).

"Andaikan bulan September ini memang ada reshuffle, sebaiknya jabatan Menkominfo masuk dalam gerbong yang harus diganti," saran dia.


Menurut Kamilov, bukti melencengnya Rudiantara dari Nawacita dan Trisakti bisa dilihat dari rekam jejak kebijakan yang diambilnya selama dua tahun terakhir.

Dimulai dari kontroversi Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) smartphone 4G, rencana uji coba balon Google, revisi biaya interkoneksi dan aturan telekomunikasi serta frekuensi yang dianggap pro asing. Terakhir, ide mengangkat bos Alibaba, Jack Ma, masuk dalam Steering Committee (SC/Dewan Pengarah) untuk Road Map e-Commerce Indonesia.

"Bagi saya aksi yang terakhir (mengajak Jack Ma), itu sudah cukuplah. Ini kalau dibiarkan bisa habis ekonomi digital NKRI dijual murah semua ke asing. Jokowi harus lihat kalau aksi yang terlihat populis ini bisa membahayakan kedaulatan ekonomi digital dan membuat kompetisi tak sehat di industri," jelasnya.

Kamilov bilang, ide mengangkat Jack Ma sebagai dewan pengarah road map eCommerce seperti memberikan karpet merah bagi pengusaha asal Tiongkok itu untuk menguasai e-Commerce Indonesia.

"Pemain asing yang mau menggarap e-Commerce Indonesia bukan hanya dari Tiongkok, Anda bisa lihat dari pemodal ventura yang gelontorkan uang ke startup lokal. Kita ini ibarat gadis cantik yang diburu banyak pemuda, kenapa kita tak pintar-pintar bawa diri untuk meningkatkan valuasi? Bicara UKM, pelaku usaha Indonesia ini beda dengan Tiongkok atau negara manapun, jadi alasan yang dikemukakan itu tak masuk akal selain untuk popularitas tanpa memikirkan efeknya ke industri," keluhnya.

Ia pun mengingatkan, saat ini Tiongkok tengah membangun kembali kejayaan jalan sutra (silk road) dengan adanya e-Commerce. Jika Indonesia tak pintar memposisikan diri dan menjaga kedaulatan, bisa berubah hanya menjadi bagian kecil dari perdagangan online internasional bukan sebagai pemain utama.
 
"Alibaba itu tengah merintis eSilk Road, kita harus melihat semuanya secara keseluruhan. Presiden Jokowi punya harapan Indonesia menjadi energi digital Asia, apa dengan cara-cara yang ditunjukkan Rudiantara itu tercapai? Baiknya dievaluasi lagi ajakan terhadap Jack Ma itu," terangnya.

Lebih lanjut kritik dia, Rudiantara masih minim prestasi jika melihat hasil survei PBB tahun 2016 tentang perkembangan e-government di seluruh dunia yang menempatkan Indonesia pada urutan ke 116 dari 192 negara, posisi 135 sampai dengan 192 diisi sebagian besar oleh negara-negara Afrika.

Posisi ini jauh di bawah Singapura, Thailand, Brunei, Malaysia, dan Vietnam. Di Asia Tenggara, Indonesia setara dengan Kamboja dan Laos, di atas Timor Leste. Secara umum skor Indnoesia hanya 0.420  di bawah rata-rata dunia 0.49. Artinya Indonesia hanya di atas Least Developed Countries (LDC) yaitu Myanmar, Kamboja dan Laos.
 
"Asal Anda tahu saja, Vietnam itu semula juga negara LDC, tetapi mampu melewati Indonesia tanpa harus mengadopsi teknologi 4G. Ini Menkominfo sejak menjabat gembar-gembor 4G, mau 4,5G pula. Sibuk saja urus seluler, lupa dengan tugas pokok lainnya. Mumpung masih ada tiga tahun lagi, baiknya dicari pejabat yang benar-benar mau kerja bagi kabinet kerja, bukan hanya mencari popularitas," tutupnya.

Sebelumnya, ketika melakukan kunjungan ke markas Alibaba, Rudiantara mengajak Jack Ma masuk dalam dewan pengarah e-Commerce Indonesia.[wid]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

UPDATE

PDIP Duga Ada Pengerahan Komcad Saat Pengamanan Demo Mahasiswa, Ini Penjelasannya

Senin, 15 Juni 2026 | 08:19

Bursa Asia Hijau Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 08:12

Harga Minyak Dunia Rontok Usai Trump Umumkan Kesepakatan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:54

Harga Logam Mulia Melonjak, Emas Mendekati Rekor Baru

Senin, 15 Juni 2026 | 07:42

AS dan Iran Bakal Teken Perjanjian Damai di Swiss Jumat Ini

Senin, 15 Juni 2026 | 07:26

Pemerintah Dorong Susu Hadir Setiap Hari dalam Program MBG

Senin, 15 Juni 2026 | 07:15

Trump Klaim Amankan Kesepakatan Damai Terbesar dengan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:00

Pengelolaan Blok Andaman Diusulkan Pakai Skema Hybrid

Senin, 15 Juni 2026 | 06:50

Dokter Tifa Dukung Prabowo Pimpin RI Tanpa Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 06:27

Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor

Senin, 15 Juni 2026 | 06:23

Selengkapnya