Berita

Foto/Net

Bisnis

Kurang Diminati, Pedagang Ogah Jualan Daging Kerbau

Bulog Bakal Gelontorin 9.500 Ton Ke Pasar Bulan Ini
SELASA, 06 SEPTEMBER 2016 | 09:28 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Perum Bulog tampaknya harus kerja keras untuk bisa mendistribusikan daging kerbau impor ke masyarakat. Pedagang pasar enggan menjual komoditas tersebut karena takut rugi.

Daging kerbau impor dari India yang sudah masuk ke Ta­nah Air akan mulai distribusikan ke pasar. Saat ini sudah masuk 700 ton dari 9.500 ton daging kerbau impor yang akan masuk secara bertahap pada bulan ini.

Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri mendukung upaya pe­merintah menyediakan daging murah. Hanya saja, dia ragu upaya tersebut mendapatkan respons baik dari konsumen.


"Konsumennya kecil, walau­pun harganya setengah dari daging sapi. Pedagang juga nggak ada yang minat jualan karena takut rugi," kata Mansuri kepada Rakyat Merdeka, baru-baru ini.

Mansuri menilai, daging kerbau tidak diminati karena masyarakat Indonesia tidak ter­biasa mengkonsumsi komoditas tersebut. Selain itu, banyak masyarakat yang meragukan kehalalannya.

Mansuri bilang, pasar daging kerbau bukan tidak ada sama sekali. Sejumlah pasar di Su­matera dan Kalimantan ada yang menjual daging kerbau. Hanya saja persentasenya kecil, di bawah 1 persen.

Keraguan Mansuri ternyata benar. Pedagang daging di pasar Kebayoran Lama, Jakarta Sela­tan, Paiman, mengaku tidak mau menjual daging kerbau.

"Di sini nggak ada yang mau jual daging kerbau, masyarakat nggak ada yang suka. Kan per­cuma kalau jualan tapi nggak laku," cetusnya.

Paiman menilai, daging ker­bau tidak disukai masyarakat karena lebih keras dari daging sapi. Selain itu, juga serat daging kerbau lebih kasar. Menurutnya, dulu peminat daging kerbau ada walaupun sedikit, tetapi semakin lama peminatnya turun.

Paiman pesimistis keberadaan daging kerbau akan bisa mene­kan harga daging sapi. Karena, penjulan daging sapi beku impor belum lama ini saja tidak mampu membuat harga daging sapi bergerak dari harga Rp 120 ribu per kg. Apalagi daging kerbau peminatnya sedikit.

Paiman berpendapat, kegemaran masyarakat terhadap daging sapi sulit digeser. Hal itu bisa dilihat dari masih tingginya permintaan meskipun harga mahal. "Ini harga daging sapi terus erangkak naik. Sekarang di daerah sapi kawin, anak sapi dijual Rp 9 juta masih laku," jelasnya.

Meskipun diramal kurang laku, peternak sapi resah dengan serbuan daging kerbau. "Daging kerbau impor bisa merusak harga sapi hidup. Peternak akan meng­hadapi potensi kerugian," kata Sekretaris Jenderal Perhimpunan Peternakan Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Rochadi Tawaf.

Rochadi memastikan, bila pemerintah terus memperbesar impor daging kerbau, peternak sapi lokal akan sulit bersaing. Menurutnya, bila daging kerbau India dijual Rp 65 ribu per kg, artinya harga kerbau hidupnya Rp 25 ribu per kg. Sementara, harga sapi hidup di peternak lokal saat ini Rp 40 ribu per kg. Dan, peternak tidak mungkin menurunkan harga karena dari harga jual sapi itu, peternak hanya mengambil keuntungan kecil.

Seperti diketahui, Menteri BUMN Rini Soemarno dan Dirut Perum Bulog Djarot Kusumayakti meluncurkan daging kerbau impor asal India di Kantor Bulog, Jumat (2/9). Mereka menyampaikan akan mendistribusikan daging kerbau impor kepada masyarakat. Pe­nyediaan daging dari Negeri Hindustan tersebut dilakukan se­bagai alternatif untuk masyarakat mendapatkan daging murah.

Distribusi daging kerbau terse­but rencananya akan dilakukan melalui berbagai cara. Antara lain melepas komoditas itu ke pedagang.

Direktur Pengadaan Bulog Wahyu memastikan, daging kerbau impor dari India yang masuk ke Indonesia telah melalui proses pemeriksaan yang ketat di Badan Karantina Kementerian Pertanian di Pelabuhan.

"Insya Allah aman. Daging kerbau sudah lewat proses yang pemeriksaan, kemudian sudah disertifikasi bebas Penyakit Mulut dan Kaki (PMK). Sebe­lum sampai ke sini, itu sudah diperiksa ketat," terangnya.

Selain itu, Wahyu juga men­jamin bahwa daging kerbau impor halal. Sebab, Bulog telah bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk ikut mengawasi. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

UPDATE

PDIP Duga Ada Pengerahan Komcad Saat Pengamanan Demo Mahasiswa, Ini Penjelasannya

Senin, 15 Juni 2026 | 08:19

Bursa Asia Hijau Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 08:12

Harga Minyak Dunia Rontok Usai Trump Umumkan Kesepakatan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:54

Harga Logam Mulia Melonjak, Emas Mendekati Rekor Baru

Senin, 15 Juni 2026 | 07:42

AS dan Iran Bakal Teken Perjanjian Damai di Swiss Jumat Ini

Senin, 15 Juni 2026 | 07:26

Pemerintah Dorong Susu Hadir Setiap Hari dalam Program MBG

Senin, 15 Juni 2026 | 07:15

Trump Klaim Amankan Kesepakatan Damai Terbesar dengan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:00

Pengelolaan Blok Andaman Diusulkan Pakai Skema Hybrid

Senin, 15 Juni 2026 | 06:50

Dokter Tifa Dukung Prabowo Pimpin RI Tanpa Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 06:27

Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor

Senin, 15 Juni 2026 | 06:23

Selengkapnya