Berita

Foto/Net

Bisnis

Industri Smelter Desak Keran Ekspor Minerba Jangan Dibuka

Investasi Rp 158 Triliun Terancam Sia-sia
SENIN, 05 SEPTEMBER 2016 | 09:07 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pelaku industri smelter mengaku resah dengan keinginan pemerintah melonggarkan atau melakukan relaksasi kebijakan ekspor mineral mentah. Pengusaha takut investasi sebesar 12 miliar dolar AS atau Rp 158 triliun yang selama ini digelontorkan untuk pembangunan smelter akan sia-sia.

Ketua Umum Asosiasi Peru­sahaan Industri Pengolahan dan Pemurnian Indonesia (AP3I) Prihadi Santoso mengatakan, relaksasi ekspor mineral mentah akan membuat iklim investasi bakal berantakan. Ujungnya, wacana tersebut bakal merugi­kan pengusaha smelter.

"Kami saat ini resah karena pe­rusahaan dan investor yang sudah membangun pabrik pemurnian (smelter) kembali memikirkan keekonomian jangka panjang smelter tersebut karena terancam oleh relaksasi ekspor," ujarnya ke­pada Rakyat Merdeka, kemarin.


Ia mengatakan, masih menunggu pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menge­nai masalah ini. "Kami menganut pada pernyataan RI 1. Kami tunggu perkembangannya seperti apa," ungkapnya.

Ia berharap, pemerintah tetap menjalankan amanat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (UU Minerba) untuk tidak mengekspor mineral mentah sebelum membangun smelter. "Jangan sampai cuma karena satu dua perusahaan ingin ekspor, investasi smelter sebesar 12 miliar dolar AS jadi sia-sia," cetusnya.

Saat ini, asosiasi tengah berkoordinasi dengan anggota guna menyikapi wacana relaksasi ini. "Kami saat ini tengah berkoordi­nasi bagaimana agar wacana ini tidak menguntungkan beberapa pihak saja," tukasnya.

Wakil Ketua Umum AP3I Jonathan Handjojo mengung­kapkan, relaksasi ekspor minerba akan berdampak buruk terhadap program hilirisasi komoditas tambang. "Relaksasi ekspor tidak akan berdampak positif terhadap hilirisasi," ujarnya.

Ia mengingatkan, agar pemerintah mempertimbangkan lebih matang sebelum memberikan relaksasi ekspor kepada peru­sahaan tambang. "Kebijakan ini tidak akan banyak mem­bantu perusahaan tambang untuk mendapatkan pendanaan dari pasar," tuturnya.

Menurutnya, kebijakan ini tidak adil bagi perusahaan yang sudah membangun smelter jika keran ekspor mineral mentah kembali dibuka. Apalagi, saat ini sudah ada 24 smelter telah sele­sai dibangun dan belasan proyek tengah dalam progres.

"Sudah 24 smelter sejak 2012. Mereka serius bangun dan telah selesai dan itu sebagian besar asing," ujar Jonathan.

Menurut Jonathan, alasan pe­merintah akan melakukan relak­sasi karena banyak perusahaan smelter yang kehabisan dana saat pembangunan tidak masuk akal. "Relaksasi ini alasannya kurang bisa diterima akal sehat," jelasnya.

Ia mengungkapkan, investor pasti menyiapkan dana yang cukup sebelum membangun smelter. "Itu kan dana yang sudah tersedia. Masak di tengah jalan diekspor karena butuh dana. Dia mau sungguh-sungguh buat apa nggak," papar Jonathan.

Ia menambahkan, revisi UU Minerba akan membuat Indonesia dikenal sebagai negara yang memi­liki ketidakpastian hukum. Karena dalam waktu beberapa tahun, bisa melakukan revisi atas UU.

"Apa kata dunia, Indonesia mudah ubah UU. Kalau begitu ceritanya, Indonesia dipermalu­kan. Siapa yang usul, tidak ada satupun dari kami," tukasnya.

Sebelumnya, Pelaksana tu­gas (Plt) Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, relaksasi diberikan lan­taran proyek smelter belum signifikan. Ada yang pencapaian proyek hanya 35 persen, bahkan ada yang sudah berhenti pembangunannya.

"Berhentinya (proyek) karena cash flow-nya. Dengan kita me­lihat secara adil, memberikan relaksasi ini, dalam tenggat waktu tertentu saya kira akan membuat kita juga bagus," kata Luhut.

Ia menuturkan, pemerintah memiliki andil terkait terlunta-luntanya pembangunan smelter di dalam negeri. Penyebab­nya ialah aturan pelaksana UU Minerba baru diterbitkan pada 2014. Padahal UU Minerba su­dah disahkan pada 2009.

"Ketika amanah Undang-Undang Minerba mulai berlaku di 2014 kon­disi harga komoditas menurun dan berpengaruh pada pembangunan proyek smelter," tuturnya.

Luhut memastikan, UU Minerba teranyar dapat ram­pung tahun ini. "Kita sepakat revisi Undang-Undang Minerba Desember tahun ini harus sele­sai," katanya. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

UPDATE

PDIP Duga Ada Pengerahan Komcad Saat Pengamanan Demo Mahasiswa, Ini Penjelasannya

Senin, 15 Juni 2026 | 08:19

Bursa Asia Hijau Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 08:12

Harga Minyak Dunia Rontok Usai Trump Umumkan Kesepakatan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:54

Harga Logam Mulia Melonjak, Emas Mendekati Rekor Baru

Senin, 15 Juni 2026 | 07:42

AS dan Iran Bakal Teken Perjanjian Damai di Swiss Jumat Ini

Senin, 15 Juni 2026 | 07:26

Pemerintah Dorong Susu Hadir Setiap Hari dalam Program MBG

Senin, 15 Juni 2026 | 07:15

Trump Klaim Amankan Kesepakatan Damai Terbesar dengan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:00

Pengelolaan Blok Andaman Diusulkan Pakai Skema Hybrid

Senin, 15 Juni 2026 | 06:50

Dokter Tifa Dukung Prabowo Pimpin RI Tanpa Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 06:27

Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor

Senin, 15 Juni 2026 | 06:23

Selengkapnya