Berita

Bisnis

Direksi Pertamina Harus Klarifikasi Gagalnya Akuisisi Di Blok West Qurna 2

SABTU, 03 SEPTEMBER 2016 | 14:09 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Pensiunan Pertamina mengeritik kebijakan Direksi Pertamina telah memutuskan melakukan akuisisi saham milik Jean Francois Hanin atas nama perusahaan Pacifico.

Perusahaan itu memiliki saham 24,53 persne di holding Maurel & Proum (P & M) Perancis, dan memiliki aset blok migas di berbagai negara dengan total cadangan terbukti hanya sekitar 250 juta barel dan produksinya hanya sekitar 29.000 barel ekuivalen perhari (BOEPD), terdiri dari hasil negara Gabon , Tanzania dan Nigeria.

Ketua Umum eSpeKape (Solidaritas Karyawan Pensiunan Pertamina), Binsar Efendy Hutabarat, menyatakan tak habis pikir dengan kebijakan itu. Kekagetan Binsar berawal dari rilis Direksi Pertamina pada 30 Agustus 2016 bahwa pihaknya telah meneken kerjasama penggunaan kilang Shell Singapore untuk mengolah minyak mentah milik Pertamina dari sumur West Qurna 1 Irak sebanyak 1 juta barel per bulan dengan skema "Crude Processing Deal" (CPD). Bahkan secara terselubung Pertamina mengakui kehandalan kilangnya masih jauh di bawah kilang Singapore dan kilang Pertamina sudah tidak efisien, serta program upgrading kilang masih sebatas wacana.


Sebelumnya (26 Agustus 2016), Direksi Pertamina sudah lebih dulu merilis keterangan telah mengakuisisi 24, 53 persen saham dengan nilai 201,2 juta Euro setara Rp 29, 9 triliun. Dan akan menyiapkan sekitar 220 juta Euro setara Rp 32, 5 triliun untuk dua bulan mendatang agar bisa mengakuisisi sahamnya lagi sekitar 27 persen untuk menjadi pemilik saham mayoritas dan bisa mengendalikan asetnya.

Berdasarkan kedua informasi tersebut, memancing kecurigaan publik bahwa transakasi yang dilakukan terhadap perusahan M&P penuh dugaan korupsi. Karena di samping harganya sangat mahal, ternyata Pertamina tidak membeli aset. Faktanya asetnya juga terletak berjauhan di tiga negara dengan volume produksinya di bawah 29.000 BOEPD.

"Ini tentu memancing 'gagal paham'. Apa motif dan tujuan Direksi Pertamina melakukan aksi korporasi itu?" tanya Binsar.

Padahal prospek itu sudah pernah ditawarkan kepada Direksi Pertamina yang lama pada tahun 2013 dan berdasarkan kajian kala itu tidak layak untuk ditindaklanjuti. Bahkan sebelum dieksekusi oleh Direksi Pertamina yang baru, salah satu komisaris Pertamina dikabarkan tidak setuju atas nilai per saham 4,2 Euro, karena faktanya harga rielnya jauh di bawah itu.  Bahkan saham pernah di-suspend pada Juli 2016 oleh Otoritas Bursa Saham di Perancis.

"Kalau hanya produksinya segitu dan harga beli sahamnya sangat fantastis, kenapa tidak Pertamina berhemat dan fokus mengambil blok migas di dalam negeri yang kontrak PSC-nya akan berakhir tahun 2017 dan 2018, selain murah dan produksi ya juga masih lebih baik dari membeli saham milik M&P Perancis," jelasnya.
 
Masih kata Binsar, jika Pertamina jadi mengakuisisi 30 persen saham dari LukOil di West Qurna 2, sebenarnya Pertamina memiliki jatah minyak sekitar 101.250 barel perhari (bph). Pada 2019, Blok West Qurna 2 ditarget bisa meningkatkan produksi minyaknya ekuivalen hingga 1,2 juta bph. Itu berarti untuk tiga tahun ke depan, jika tidak batal mengakuisi, Pertamina punya jatah minyak di Blok West Qurna 2 sebanyak 270 ribu bph.

Diperkirakan cadangan minyak di Blok West Qurna 2 total mencapai 13 miliar barel, yang dihasilkan dari dua formasi utama, yakni Mishrif dan Yamama. Blok West Qurna Barat 2 adalah salah satu ladang minyak terbesar nomor dua di dunia setelah Blok Ghawar di Saudi Arabia.

Berdasarkan informasi yang dihimpun eSPeKaPe jika Pertamina jadi mengakuisisi Blok West Qurna 2, konon hanya perlu mengucurkan dana sekitar US$ 1,2 miliar atau sekitar Rp 15,8 triliun, dengan asumsi harga minyak saat itu US$ 70 per barel. Kini, rata-rata produksi minyak ekuivalen di Blok West Qurna 2 berkisar 450 ribu bph. Sehingga dengan harga minyak saat ini rata-rata di bawah US$ 45 perbarel, Pertamina hanya butuh sekitar US$ 1 miliar setara Rp 13 , 2 triliun untuk mengakuisisinya.
 
"Sekarang kalau untuk mengambil 24,5 persen sahamnya saja Pertamina sudah merogoh kocek Rp 29, 7 triliun, maka untuk mengambil saham berikutnya tentu Pertamina harus siap-siap merogoh kocek lagi sekitar Rp 32, 5 triliun, agar bisa mengontrol mayoritas di Holding M&P," ucap Binsar Effendi Hutabarat dalam rilisnya.
 
Ketua FKB KAPPI Angkatan 1966 ini menyatakan, jika saja Pertamina jadi mengakuisisi Blok West Qurna 2, maka hanya perlu mengeluarkan dana Rp 15,8 triliun, itu pun dengan asumsi harga minyak saat itu US$ 70 per barel.

"Bagaimana kalau Pertamina serius bernegosiasi dengan LukOil di saat harga minyak rata-rata di bawah US$ 45 perbarel, tentu diperkirakan didapat harga indikasi disekitar US$ 1 miliar atau setara Rp. 13, 2 triliun saja," ujarnya.
 
Guna menghindari adanya kegaduhan di ruang publik atas hilangnya peluang akusisi di Blok West Qurna 2, Pensiunan Pertamina meminta jajaran direksi menyampaikan klarifikasi ke publik. [ald]

Populer

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

UPDATE

Istana Merdeka Menjelma jadi Pusat Pesta Rakyat dan Surga Kuliner UMKM

Jumat, 21 Agustus 2026 | 00:09

Mirza Fakhrul Islam Alamgir Terpilih Jadi Presiden Baru Bangladesh

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:52

Penanganan Bencana NTT Tidak Boleh Ada Kendala Anggaran!

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:38

Penumpang Bus NPM Pembawa Ratusan Vape Etomidate Diringkus Polisi

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:18

PDIP Lepas Kapal RS Apung Laksamana Malahayati ke Lokasi Gempa NTT

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:26

Purbaya Siapkan Rp3 Triliun Insentif untuk Satu Juta Motor Listrik

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:15

DPO Narkoba Club Malam Batam Diringkus saat Mau Kabur ke Malaysia

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:01

Dewan Adat Bamus Betawi Minta Warga Pati Tak Demo di Jakarta

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:30

Gibran Minta Maaf ke Pengungsi Gempa NTT

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:06

Sayembara Ijazah SMA Gibran Tak Mengubah Standar Pembuktian Hukum

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:02

Selengkapnya