Berita

Sri Mulyani/Net

Politik

Sri Mulyani Ditantang Negosiasi Utang Luar Negeri

JUMAT, 02 SEPTEMBER 2016 | 10:22 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) akhirnya menyetujui kebijakan Pemerintah memangkas APBN Perubahan 2016 hingga Rp 133 triliun.

Anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar, M. Misbakhun mengingatkan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani agar bisa menggunakan APBNP 2016 untuk mendistribusikan pendapatan yang berkurang dengan memacu pertumbuhan berkualitas. Wakil rakyat asal Jawa Timur itu tidak mau Menteri Sri hanya memangkas APBN demi penghematan.

Senada dengan Misbakhun, analis ekonomi dari Lingkar Studi Perjuangan (LSP) Gede Sandra menuntut agar Sri Mulyani juga jangan hanya berani potong anggaran, tetapi harus berani menegosiasikan utang luar negeri dengan para kreditor.


"Ibu Sri jangan hanya berani potong anggaran belanja. Seharusnya dapat lebih melihat peluang untuk menegosiasikan sebagian utang luar negeri pemerintah dengan para kreditor, agar dapat memberi ruang bagi terwujudnya program-program Nawacita dalam APBN. Tapi saya rasa, setelah melihat track record Ibu Sri, dia tidak memiliki nyali untuk ini," sebut Gede kepada redaksi, Jumat (2/9).

Berdasarkan data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu, utang luar negeri Indonesia (di luar Bank Sentral) pada Maret 2016 mencapai US$ 146 miliar. Sebesar US$ 22,7 miliar merupakan utang bilateral, US$ 26,5 miliar merupakan utang multilateral, US$ 44,3 miliar merupakan utang dari surat berharga negara (SBN) internasional, US$ 45,6 miliar merupakan utang SBN domestik, dan sisanya US$ 6,7 miliar adalah utang fasilitas kredit ekspor dan komersial.

Gede menambahkan, melihat komposisi kreditor yang lebih dari sepertiganya merupakan negara-negara dan organisasi sahabat, seharusnya ada peluang sangat besar menuju renegosiasi pembayaran cicilan pokok dan bunga utang. Apalagi porsi pembayaran cicilan pokok dan bunga utang yang terbesar tahun 2016 adalah untuk membayar utang bilateral dan multilateral.

"Di luar itu tidak tertutup juga peluang untuk bernegosiasi dengan para kreditor dari lembaga-lembaga keuangan swasta yang membeli obligasi (SBN) pemerintah kita," pungkas dia. [rus]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya