Berita

Foto :Net

Politik

Jakarta Sekarang Lebih Mirip Kota Kompeni

SENIN, 29 AGUSTUS 2016 | 09:56 WIB | LAPORAN:

Kota Jakarta hari ini makin jauh dari kota yang memiliki ide dan ber"nation". Padahal Jakarta disebut oleh Bung Karno sebagai kota wajah Indonesia.

Sejarawan JJ Rizal mengemukakan, Soekarno membangun kota Jakarta dengan menerapkan ide cita-cita yang tertuang di dalam Proklamasi yakni kemanusiaan dan keadilan. Bagi Soekarno, ide kemanusiaan menjadi sangat penting dalam ibukota.

"Buat Bung Karno, orang miskin punya tempat di Jakarta. Bagian dari tempat Jakarta. Jakarta bukan hanya buat mereka yang tinggal di gedong, tapi juga kaum Marhen," ujar Rizal di Jakarta, Senin, (29/8).


Ini terbukti dari fakta sejarah, saat Soekarno hendak membangun kawasan Senayan sebagai kompleks gelanggang olahraga. Soekarno memindahkan warga yang tingga di kawasan Senayan ke daerah Tebet.

"Warga yang dipindahkan, dibangunkan kampung baru, namun sama persis dengan yang di Senayan, termasuk nama-nama gangnya," ulas Rizal.

Padahal saat itu Soekarno adalah presiden. Namun, begitulah relasi antara presiden dengan ibukota. Presiden hadir untuk mengingatkan gubernur DKI jika mengingkari ide kemanusiaan dan keadilan. Namun ide itu menurut Rizal, telah hilang di kota Jakarta sekarang, di mana Presiden Jokowi sama sekali tidak memperdulikan sikap Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang menghadirkan tangisan di ibukota.

Menurut Rizal, Jakarta yang berkeadilan telah diperankan dengan baik oleh Gubernur DKI legendaris, Ali Sadikin. Saat itu, Ali Sadikin marah kepada Bappenas karena enggan memberikan dana untuk mengurusi orang miskin di Jakarta.

"Ali Sadikin kasar juga, keras, main gampar, tapi kerasnya untuk siapa? Dia bisa keras terhadap Bappenas, ketika dia minta dana proyek, dijawab Bappenas pemerintah pusat nggak ngurusin orang miskin, Ali Sadikin marah," kata Rizal menyindir perilaku Gubernur DKI saat ini yang hanya berani keras kepada rakyat kecil.

Hari ini, lanjut Rizal, Jakarta lebih mirip sebagai kota kompeni atau kota yang dikelola Belanda pada masa penjajahan. Jakarta semakin jauh dari ide-ide. Jakarta hanya memberikan ruang kepada kaum aristokrasi yang berduit, tapi tidak untuk masyarakat bawah. Jakarta cenderung seperti kota yang dikelola oleh perusahaan multinasional, dan digerakkan oleh uang.

"Orientasi pembangunan oleh materi. Kota kehilangan ide. Orientasi pembangunannya  dibangun untuk orang kaya. Kaum marhen gak punya tempat, rakyat dianggap hama," tegas Rizal.

 "Teman-teman bergaul gubernur itu dengan orang yang ber-uang, bukan dengan orang yang beride. Makan siangnya dengan pengembang sebulan sekali," nyinyir Rizal.[wid]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

AS Gempur ISIS di Suriah

Minggu, 11 Januari 2026 | 18:14

Aksi Kemanusiaan PDIP di Sumatera Turunkan Tim Kesehatan Hingga Ambulans

Minggu, 11 Januari 2026 | 18:10

Statistik Kebahagiaan di Jiwa yang Rapuh

Minggu, 11 Januari 2026 | 17:52

AS Perintahkan Warganya Segera Tinggalkan Venezuela

Minggu, 11 Januari 2026 | 17:01

Iran Ancam Balas Serangan AS di Tengah Gelombang Protes

Minggu, 11 Januari 2026 | 16:37

Turki Siap Dukung Proyek 3 Juta Rumah dan Pengembangan IKN

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:53

Rakernas PDIP Harus Berhitung Ancaman Baru di Jawa Tengah

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:22

Rossan Roeslani dan Ferry Juliantono Terpilih Jadi Pimpinan MES

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:15

Pertamina Pasok BBM dan LPG Gratis untuk Bantu Korban Banjir Sumatera

Minggu, 11 Januari 2026 | 14:50

Pesan Megawati untuk Gen Z Tekankan Jaga Alam

Minggu, 11 Januari 2026 | 14:39

Selengkapnya