Para petani tembakau dan cengkeh meminta pemerintah menghentikan wacana kenaiÂkan harga rokok Rp 50 ribu per bungkus. Kebijakan ini hanya akan semakin mematikan petani saja dan syarat kepentingan asÂing. Padahal, selama ini industri hasil tembakau menyumbang besar penerimaan negara.
Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), Suseno Riban mengatakan, wacana kenaikan harga rokok sangat mengganggu. Wacana ini membuat petani tembakau gaduh karena harga tembakau jadi murah dan penyerapannya juga menurun.
"Baru wacana saja sudah gadÂuh, apalagi sudah diterapkan," ujarnya kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.
Kemarin, Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), Asosiasi Petani Cengkeh IndoÂnesia (APCI), dan Federasi SerÂikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan Minuman â€" Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSP RTMM- SPSI), menggelar jumÂpa pers menolak wacana kenaiÂkan harga rokok Rp 50 ribu.
Menurut dia, harga rokok naik jadi Rp 50 ribu sama sekali tidak membuat petani untung tapi malah buntung. "Harga mau dinaikkan tengkulak belinya sedikit dan harganya rendah kalau dibeli dengan jumlah beÂsar. Khawatir nanti tidak laku," katanya.
Dengan harga naik, kata dia, ke depannya volume pembelian rokok akan menurun drastis, dampaknya sangat signifikan bukan saja buat para petani tapi juga industri hasil tembakau yang sudah menyerap banyak tenaga kerja.
Menurut Soeseno, dalam kurun waktu lima tahun terakhir, ada sekitar 1.200 pabrik rokok yang gulung tikar dan terjadi pemuÂtusan hubungan kerja (PHK) 102.500 pekerja. Jika harga rokok naik hingga Rp 50 ribu, dikhawatÂirkan jumlah pabrik rokok yang gulung tikar semakin besar dan berdampak pada PHK massal.
"Kami meminta pemerintah tegas terhadap wacana kenaiÂkan harga ini agar tidak merÂugikan petani tembakau dan petani cengkih. Siapa yang bertanggung jawab jika banyak pekerja di-PHK akibat peneliÂtian Univesitas Indonesia itu," tukasnya.
Ketua Umum Asosiasi Petani Cengkeh Indonesia, Dahlan Said mengatakan, lebih dari 6 juta orang yang bersentuhan langsung dengan pabrik rokok akan teranÂcam PHK jika wacana tersebut terealisasi. "Belum lagi mereka yang tidak bersentuhan langsung bagaimana nasib mereka kalau rokok tidak laku," ucapnya.
Produksi cengkeh sendiri di Indonesia saat ini sekitar 100 ribu - 110 ribu ton per tahun, dan 94 persen diserap pleh industri rokok. Dia yakin, wacana ini tidak akan begitu saja disetujui pemerÂintah. "Tidak mungkin negara mau bunuh diri, pasalnya dengan menaikkan harga rokok bakal merugikan negara," jelasnya.
Cukai terbesar Indonesia disÂumbang oleh perusahaan rokok, jika harga naik maka pemasuÂkan negara pun bakal nyungsep. "Yang dirugikan dengan harga rokok selangit bukan hanya dari kalangan petani dan industri rokok tapi juga negara," jelasnya.
Rokok menyumbang pemasuÂkan terbesar bagi negara. Lebih dari Rp 173 triliun pertahun yang diterima negara dari cukai rokok sendiri. ***