Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama disarankan untuk datang ke Surabaya dan meminta maaf langsung kepada Walikota Tri Rismaharini. Hal ini penting untuk mencegah konflik horizontal.
Pengamat Komunikasi Politik Universitas Pelita Harapan (UPH), Emrus Sihombing, menyarankan demikian terkait kemarahan Risma karena Ahok memandang kecil Surabaya.
"Jangan sampai ucapan ngawur Ahok memancing kemarahan warga Surabaya. Makanya dia harus datang ke Surabaya untuk meminta maaf kepada Risma selaku kepala daerah Surabaya," kata Emrus saat dihubungi RMOLJakarta, Jumat (12/8).
Menurutnya, pernyataan Ahok yang menyebutkan Surabaya cuma seluas Jakarta Selatan, semakin menguatkan penilaian publik bahwa selama ini pria asal Belitung Timur itu memang tidak menguasai data dan fakta. [Baca:
Risma: Kalau Merasa Kinerjanya Bagus, Ahok Tak Perlu Takut Kalah]
"Padahal Risma itu jauh lebih berhasil dalam memimpin Surabaya. Buktinya dengan APBD Rp 7,2 triliun, Surabaya makin maju dan sejahtera. Sedangkan APBD Jakarta sebesar Rp 70 triliun justru penyerapannya paling rendah se-Indonesia," kata Emrus.
Sebelumnya Risma langsung bereaksi keras menanggapi pernyataan Ahok yang menyebut keberhasilan ibu kota Provinsi Jawa Timur membangun pedestrian adalah keberhasilan kecil di wilayah seukuran Jakarta Selatan.
Menurutnya, apa yang disampaikan Ahok sama saja menghina dan merendahkan harga diri warga Surabaya. Risma memperlihatkan data bahwa luas Surabaya itu 374 kilometer persegi, sedangkan Jakarta 661,5 kilometer persegi.
Tidak hanya soal luas, Risma juga menegaskan bahwa di Surabaya ia sendirian menjabat wali kota. Namun di Jakarta Ahok dibantu oleh lima wali kota dan satu bupati, sedangkan untuk anggaran belanjanya pun Kota Surabaya sebesar Rp 7,9 trilliun dengan total penduduk sebanyak 2,9 juta jiwa.
Sedangkan Jakarta anggaran belanjanya sebesar Rp 64 trilliun dengan total penduduk 10 juta orang.
"Ahok itu kan kepala daerah sama seperti Risma, sehingga dia tidak berhak memberikan penilaian. Jangan hanya karena takut bersaing, makanya Ahok menjelek-jelekan kepala daerah lain," demikian Emrus.
[zul]