Berita

Sri Mulyani/Net

Bisnis

Sri Mulyani Bikin Gairah Ekonomi

KAMIS, 11 AGUSTUS 2016 | 09:30 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Dua pekan masuknya Sri Mulyani ke Kabinet Kerja berbuah manis terhadap gairah ekonomi. Pasar keuangan kini berbunga-bunga. Aliran modal asing yang masuk kian mengalir deras. Indeks harga saham gabungan (IHSG) terkerek terus hingga mendekati level 5.500. Nilai tukar rupiah pun merapat ke angka Rp 13 ribu per dolar AS.

Bergairahnya ekonomi seperti ini, disebut bagian dari Sri Mulyani Effect, begitu kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida.

Nurhaida menyampaikan, bunga-bunga di pasar keuangan itu tak lepas dari sejumlah kebijakan pemerintah yang menuai sentimen positif dari para pelaku usaha dan bisnis. Tren positif ini dimulai saat golnya UU Tax Amnesty, disertai kesungguhan pemerintah mensosialisasikannya.


Dari sana, pasar keuangan mulai berbunga. IHSG terkerek. Tren positif terus berlanjut. "Puncaknya saat Presiden memutuskan untuk membawa kembali Srikandi Ekonomi, Sri Mulyani ke Tanah Air," kata Nurhaida, di acara Peringatan 39 Tahun Diaktifkannya Bursa Saham Indonesia, di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, kemarin.

Kata dia, saat Jokowi mengumumkan Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan pada 27 Juli lalu itu, IHSG langsung melejit. IHSG naik ke level 5.247. Nilai kapitalisasi pasar saham pada hari itu mencapai Rp 5.676 triliun, dan nilai transaksi saham mencapai Rp6 triliun. Padahal sebelumnya IHSG selalu bercokol di kisaran 4.900.

Sentimen positif terus berlanjut hingga penutupan perdagangan kemarin. IHSG bertengger di angka 5.440. Dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 5.859 triliun dan nilai transaksi sebesar Rp 8,78 triliun. "Sungguh angka-angka yang cukup fantastis, tidak kita perkirakan sebelumnya di awal tahun, namun jelas patut kita syukuri dan kita sangat ingin pertahankan bahkan lebih tingkatkan lagi di hari-hari perdagangan mendatang," ucap Nurhaida.

Bagaimana tanggapan Sri Mulyani? Perempuan yang akrab disapa Ani itu optimis kinerja pasar modal sampai akhir tahun ini. Hanya saja, eks direktur pengelolaan Bank dunia itu belum puas dengan hasil saat ini. Apalagi dia menilai pasar modal kurang berkontribusi terhadap perekonomian. Contohnya, di saat sektor keuangan mencatatkan pertumbuhan ekonomi, tapi di sektor riil seperti perdagangan dan pertanian justru menurun. Jadi hanya segelintir orang yang menikmati keuntungan. Sementara masyarakat masih tertinggal. "Enak di sini tapi tidak enak bagi ekonomi. Dan ini tidak sustainable (berkelanjutan)," kata Sri, di lokasi yang sama.

Karena itu, dia meminta para pelaku pasar keuangan membantu pertumbuhan ekonomi. Caranya, misalnya dengan membuat instrumen investasi atau peraturan yang mendorong peningkatan dana kelolaan. Dana itu dapat dipakai untuk pembangunan infrastruktur. Tujuannya agar pembangunan infrastruktur bisa dilakukan pemerintah bersama-sama dengan pihak swasta melalui skema Public-Private Partnership (PPP).

Dengan begitu, anggaran pemerintah hanya digunakan untuk membangun infrastruktur dasar, baik di perkotaan dan di perdesaan. Sementara infrastruktur lainnya dibangun melalui program kerjasama dengan swasta. Hasilnya adalah perekonomian bisa tumbuh secara berkesinambungan sehingga menciptakan lapangan kerja, mengurangi kemiskinan dan ketimpangan.

Selain itu, pelaku pasar keuangan dan pasar modal bisa memanfaatkan progam tax amnesty. Caranya, mendorong investor potensial untuk membawa masuk dananya ke dalam negeri melalui berbagai instrumen seperti membangun infrastruktur. "I'm very happy kalau (institusi keuangan) ketemu saya, sudah dapat sekian banyak partisipan tax amnesty dan sekian puluh triliun yang saya kelola. Kalau (hanya) sekian triliun, tidak usah ketemu saya, itu bukan kelas Anda. Apalagi miliar rupiah," kata Sri.

Pengamat pasar uang Bank Himpunan Saudara Rully Nova menilai sentimen positif tengah melanda para pelaku pasar. Mereka menaruh keyakinan yang tinggi terhadap masa depan perekonomian nasional. Pertumbuhan ekonomi yang meningkat dan adanya aliran dana asing dari program tax amnesty membuat pasar keuangan kembali bergairah. Kehadiran Sri Mulyani, program amnesti pajak, menjadi faktor yang menjaga stabilitas nilai tukar rupiah untuk tetap berada di area positif.

"Dana repatriasi dari program amnesti pajak mendorong permintaan rupiah meningkat, program itu juga memberi harapan yang tinggi bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia," kata Rully.

Suksesnya program amnesti pajak, lanjut dia, akan membantu pendanaan pembangunan infrastruktur di dalam negeri yang akhirnya berdampak positif pada perekonomian nasional. Pelaku ekonomi percaya perlambatan ekonomi segera berakhir, berganti pertumbuhan ekonomi yang lebih baik. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

UPDATE

Adab di Atas Selebrasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 04:12

Belgia vs Mesir Berbagi Skor 1-1

Selasa, 16 Juni 2026 | 04:10

Pidato Bernuansa Sindiran Berpotensi Memicu Reaksi Balik Publik

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:39

Membongkar Skandal #SellIndonesia, Hebatnya Rupiah Menguat

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:19

Edura School Jawab Tantangan Guru di Era Digital

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:03

SEI Bongkar Dampak Kebijakan Batu Bara Bahlil: Pasokan Tersendat, Listrik Alami Gangguan!

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:37

Mahfud MD: UU Polri Abaikan Komisi Reformasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:24

ART Indonesia Disiksa Mirip Samsak Tinju di Malaysia

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:01

Kerja Prabowo Sudah Bagus, tapi Jangan Pidato Meledek Lagi

Selasa, 16 Juni 2026 | 01:29

Sambut 1 Muharam Setop Saling Fitnah dan Provokasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 01:25

Selengkapnya