Berita

Foto/Net

Bisnis

Harga Daging Stabil Mahal, Pemerintah Mau Impor Lagi

Presiden Belum Puas Kinerja Menteri
KAMIS, 11 AGUSTUS 2016 | 08:23 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Data pemerintah menyebutkan harga daging belum turun, stabil mahal di kisaran Rp 120 ribu per kilogram (kg). Untuk menekan harga, kabinet kerja berencana melakukan impor lagi.
 
Presiden Jokowi kemarin mengumpulkan lima menteri membahas perkembangan harga pangan. Kelima menteri itu yakni Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Per­dagangan Enggartiasto Lukita, Menteri Pertanian Amran Su­laiman, Menteri BUMN Rini Soemarno, dan Menteri Perin­dustrian Airlangga Hartarto. Se­lain itu, ikut dalam rapat Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Thomas Lem­bong dan Direktur Utama Bulog Djarot Kusumayakti.

Darmin mengungkapkan, dalam rapat Presiden Jokowi meminta agar para menteri terkait menyiapkan rencana strategis untuk menstabilkan harga pangan, apalagi menjelang akhir tahun. "Selain kita laporan soal perkembangan pangan. Kita bicarakan soal rencana jangka pendek. Nanti untuk jangka panjang akan ada pembahasan sendiri," kata Darmin.


Dalam rapat, pembahasan fokus kepada persoalan pangan utama. Yakni beras, gula, daging sapi, cabai, bawang, daging ayam dan jagung. Kepada awak pers, Darmin menerangkan perkembangan dua pangan, yakni beras dan daging.

Untuk beras, menurut Darmin, harga stabil, bahkan cenderung turun sebesar 1,1 persen bila dibandingkan Januari 2016. Na­mun demikian, Presiden belum puas, dan menginginkan agar diturunkan lagi. Karena, tahun ini produksi beras cukup bagus. "Cuaca cukup mendukung. Meski musim kemarau, namun pada beberapa daerah terjadi hujan," terangnya.

Untuk harga daging, belum mengalami penurunan. Artinya, harapan harga komoditas terse­but turun menjadi Rp 80 ribu per kg belum tercapai. "Harganya belum turun. Stabil tinggi, iya. Itu namanya ramai lancar," terangnya.

Darmin mengungkapkan, untuk menekan harga, pemerintah akan kembali melaku­kan impor. Dalam rapat tidak dibicarakan mengenai kuota impor. Karena, sebelumnya pemerintah sudah menetapkan akan melakukan impor sapi bakalan sebesar 600 ribu ekor pada tahun ini. "Realisasi impor sudah dilakukan mencapai sepa­ruhnya. Jadi kita ini meneruskan keputusan saja," terangnya.

Darmin menuturkan, menu­runkan harga daging tidak bisa instan. Meskipun ada tambahan pasokan daging impor, bukan berarti harga langsung turun. Karena, ada indikasi usaha yang tidak sehat terjadi di pasar dalam negeri. "Pasar kita itu kelihatannya gayanya gaya preman. Dari laporan banyak daging impor ditolak masuk pasar," terang Darmin.

Berbeda dengan Darmin, Amran menerangkan, tidak semua pasar menjual daging di atas Rp 100 ribu per kg. "Ada sejumlah pasar sekarang menjual daging Rp 75 ribu sampai Rp 80 ribu per kg," kata Amran.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengungkapkan, daging impor akan didatangkan dari Eropa dan Amerika Latin. "Tadi kami bicara impor daging dari dari Meksiko, Brasil, Argentina, Spanyol. Realisasi impor tahun ini," ungkap Enggar.

Menurut Enggar, pemerin­tah mengimpor dari negara tersebut untuk memperbaiki sistem impor. Karena bila hanya bergantung impor dari Austra­lia, bisa menyebabkan praktik monopoli.

Direktur Utama Bulog Djarot Kusumayakti menambahkan, kebijakan impor bertujuan agar pasokan daging bertambah dan bisa menurunkan harga.

"Itu akan ada penguatan dan penambahan. Kemarin dari Australia, terus masuk dari India, kini akan masuk dari Spanyol, Brasil, dan lain-lain," terangnya.

Dia menjamin kualitas daging dari Spanyol. Menurutnya, daging sapi dari negeri matador tersebut merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Karena, peternakan sapi di Spanyol dikembangkan dengan sangat baik. "Banyak negara yang juga mengimpor daging dari negeri tersebut. Untuk harga tidak jauh dari Australia, tetapi kualitasnya lebih bagus," pung­kasnya. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

UPDATE

Adab di Atas Selebrasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 04:12

Belgia vs Mesir Berbagi Skor 1-1

Selasa, 16 Juni 2026 | 04:10

Pidato Bernuansa Sindiran Berpotensi Memicu Reaksi Balik Publik

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:39

Membongkar Skandal #SellIndonesia, Hebatnya Rupiah Menguat

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:19

Edura School Jawab Tantangan Guru di Era Digital

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:03

SEI Bongkar Dampak Kebijakan Batu Bara Bahlil: Pasokan Tersendat, Listrik Alami Gangguan!

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:37

Mahfud MD: UU Polri Abaikan Komisi Reformasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:24

ART Indonesia Disiksa Mirip Samsak Tinju di Malaysia

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:01

Kerja Prabowo Sudah Bagus, tapi Jangan Pidato Meledek Lagi

Selasa, 16 Juni 2026 | 01:29

Sambut 1 Muharam Setop Saling Fitnah dan Provokasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 01:25

Selengkapnya