Lifter putra, Eko Yuli Irawan menambah medali perak untuk Indonesia pada cabang angÂkat besi kelas 62 kilogram di Olimpiade Rio de Janeiro, Brasil, Senin (8/8) waktu setempat.
Dalam pertandingan di Pavilion 2 kompleks olahraga Riocentro tersebut, Eko mencatat angka total 312 kg, hasil dari snatch 142 kg dan clean and jerk 170 kg. Total angkatan Eko lebih ringan dibandingkan pada Olimpiade 2012 lalu
Raihan medali ini menjadiÂkan Eko sebagai satu-satunya atlet angkat besi yang meraih medali dalam tiga penampiÂlan pada pesta akbar olahraga dunia empat tahunan ini. Di Olimpiade Beijing 2008, Eko meraih medali perunggu. Pada Olimpiade London 2012, dia menyelamatkan wajah kontinÂgen Indonesia dengan merebut perunggu bersama Triyatno yang meraih perak saat buluÂtangkis gagal mempertahankan tradisi medali emas.Namun, Eko belum puas dengan hasil yang diraihnya tersebut. "Jika dilihat dari medali, hasilnya memang lebih bagus. Namun, angkatanÂnya turun dibandingkan dengan Olimpiade London 2012 lalu," ungkapnya.
Turunnya nilai toÂtal angkatan Eko diÂakuinya sebagai salah satu strategi tim. Lifter yang telah meraih medali di 3 Olimpiade berbeda ini mengaku lebih mengamankan medali terlebih dahulu. "Kita maunya mengamankan medali dulu, baru belakangnya di-boom. Namun ternyata saya gagal angkat," terangnya.
Pertandingan kelas 62 kilogram putra tersebut diÂwarnai dengan tersisihnya lifter China pemegang rekor dunia clean and jerk Chen Lijun. Lifter China yang sempat difavoritkan tersebut mengalami cidera kaki kanan ketika mencoba angkatan snatch 143 kilogram. Lifter Indonesia lainnya, Muhammad Hasbi, juga tampil di kelas 62 kilogram ini, namun gagal menÂcapai tiga besar, dengan angkaÂtan total 290 kilogram. Medali emas kelas 62 kg diraih si "kuda hitam" lifter Kolombia, Oscar Albeiro Figueroa Mosquera, yang memiliki berat badan lebih ringan dari Eko dengan total angkatan total 318 kg (Snatch 142 kg dan Clean and Jerk 176 kg). Sedangkan perunggu diÂambil lifter Kazakhstan, Farhad Kharki, dengan total angkatan 305kg (Snatch 135 kg dan Clean and Jerk 170 kg).
Perak dari angkat besi atas nama Eko itu menjadi medali ke-29 dari total perolehan medÂali yang diperoleh Indonesia sepanjang keikutsertaan dalam Olimpiade dan menjadi sumÂbangan medali ke 10 dari cabang olahraga Angkat Besi Indonesia sampai saat ini.
Pengurus Besar Persatuan Angkat Besi, Angkat Berat dan Binaraga Seluruh Indonesia (PABBSI) akan berupaya memÂpertahankan eksistensi daÂlam perolehan medali di Olimpiade. Ketua Umum PB PABBSI, Rosan P Roslani mengapresiasi prestasi Eko. "Sejak Olimpiade Beijing 2008 hingga Rio 2016 kita selalu mendapat medali, tradisi ini harus dipertahÂankan," katanya.
Rosan mengatakan, PABBSI akan terus menggencarkan kaderisasi lifter agar pada Olimpiade berikutnya traadisi medali ini bisa berlanjut dan meningÂkat. Menurutnya, perlu ada lifter-lifter pelapis yang siap untuk persaingan di Olimpiade menÂdatang, katanya.
Soal bonus untuk peraih perak Olimpiade 2016, Rosan mengatakan bahwa selain yang sudah dijanjikan Kemenpora, PB PABBSI sendiri akan memberikan hadiah berupa rumah. "Kalau hadiahnya berupa rumah kan ada kenangannya nanti," katanya.
Tak hanya PABBSI, Eko juga akan mendapat apresiasi dari Duta Besar (Dubes) Australia untuk Indonesia, Paul Grigson. Rencananya, Eko dan tim untuk akan ditraktir makan steak dagÂing sapi bersama sepulangnya dari Brasil. ***