Berita

Foto/Net

Bisnis

Satu Bulan Pasca Lebaran Harga Pangan Belum Turun

Pemerintah Tidak Boleh Kalah Dengan Spekulan
SENIN, 08 AGUSTUS 2016 | 08:36 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Satu bulan pasca Lebaran, se­jumlah harga kebutuhan pokok belum mengalami penurunan. Kejadian ini pertama terjadi selama lima tahun terakhir.

Dari pemantauan Rakyat Merdeka di beberapa pasar tradisional di Jabodetabek, beberapa harga pangan belum mengalami penurunan. Antara lain, harga bawang merah Rp 45 ribu-Rp 48 ribu per kilo gram (kg). Harga bawang putih Rp 40 ribu per kg. Harga daging sapi Rp 120 ribu per kg, harga gula Rp 16 ribu sampai Rp 17 ribu per kg, harga Ayam Rp 33 ribu per kg, dan cabe rawit merah Rp 53 ribu per kg. Harga-harga tersebut kurang lebih sama dengan pada saat bulan Ramadan lalu.

Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri menilai, belum turun­nya sejumlah harga pangan menjadi catatan buruk kinerja pemerintah. "Ini fenomena pertama dalam lima tahun terakhir, biasanya dua pekan setelah Lebaran harga sudah turun," kata Mansuri kepada Rakyat Merdeka, pada akhir pekan.


Menurut Mansuri, belum tu­runnya sejumlah harga pangan menunjukkan kegagalan pemerintah memperbaiki sistem distribusi. Karena, beberapa pangan sedang panen raya.

Dia meminta, pemerintah segera mengambil langkah-langkah untuk mengintervensi harga. Karena, harga saat ini tidak terjangkau masyarakat berpenghasilan rendah.

Wakil Sekretaris Jenderal Ikappi Miftahudin berharap, Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menjadikan penurunan harga pangan menjadi fokus utama kerjanya.

"Konsumsi masyarakat sudah menurun, tetapi harga belum turun. Ini harus disikapi secara serius," kata Miftahudin.

Kejanggalan harga pangan telah menjadi perhatian Presiden Jokowi. Empat hari lalu, pada saat memimpin rapat koordinasi nasional Tim Pengendalian Inflasi Daerah, Jokowi menginstruksikan kepada ja­jarannya untuk melakukan pengecekan stok dan harga.

Dia menilai aneh harga bawang di pasaran mencapai Rp 40 ribu per kg, padahal ditingkat petani hanya Rp 14 ribu per kg. "Kalau harga yang seharusnya Rp 14 ribu, dijual Rp 40 ribu itu pasti ada apa-apanya," cetusnya.

Sementara itu, Guru Be­sar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa mengatakan, belum turunnya harga pangan di Indonesia hanya ada dua kemungkinan penyebabnya. Yakni, pertama, data produksi dengan permintaan tidak akurat. Sehingga, harga tetap mahal karena stok terbatas. Kedua, ulah speku­lan. "Kalau benar stok cukup, seharusnya spekulan bisa dian­tisipasi. Karena, oknum speku­lan sebenarnya orangnya itu-itu saja. Negara nggak boleh kalah dong dengan spekulan," cetusnya.

Dwi meminta, pemerintah menurunkan harga dengan cara melakukan pembenahan secara komperhensif. Yakni, melaku­kan pembenahan sistem pasar yang saat ini terlalu liberal. "Jangan hanya operasi pasar, karena itu seperti menjaring angin," cetusnya.

Sebelumnya, Menteri Enggar telah menyampai­kan akan fokus menurunkan harga pangan. Karena, men­jaga stabilitas dan ketersediaan pangan merupakan perintah yang disampaikan pertama kali Presiden Jokowi kepada dirinya.

Enggar mengatakan, dalam waktu dekat ini akan menemui Perum Bulog dan Kementerian Pertanian untuk bahas masalah pangan.

Rakyat Menjerit

Ibu rumah tangga jengkel dengan belum turunnya harga pangan. "Saya bingung juga, kok Lebarannya udah lewat, harganya nggak turun-turun," kata Nunung, warga Cipete, Jakarta Selatan.

Nunung mengatakan, sebagai rakyat kecil, harga bisa kem­bali normal sangat berarti bagi dirinya. Karena, dengan ma­halnya harga kebutuhan pokok otomatis, maka kebutuhan lain­nya di luar kebutuhan makan menjadi sulit terpenuhi.

Sementara itu, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) makanan, Anita Kusuma juga jengkel dengan belum turunnya harga kebutu­han pokok.

"Saya bisnis jualan donat kentang. Sejak bulan Rama­dhan sampai skearang harga masih Rp 24 ribu per kg. Pada­hal sebelum puasa hanya Rp 20 ribu per kg," keluh Anita.

Dia mengaku omsetnya mengalami penurunan. Kondisi ini tentu menyulitkan usahanya karena dirinya memiliki dua orang karyawan yang harus di­gaji setiap bulannya. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

UPDATE

Adab di Atas Selebrasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 04:12

Belgia vs Mesir Berbagi Skor 1-1

Selasa, 16 Juni 2026 | 04:10

Pidato Bernuansa Sindiran Berpotensi Memicu Reaksi Balik Publik

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:39

Membongkar Skandal #SellIndonesia, Hebatnya Rupiah Menguat

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:19

Edura School Jawab Tantangan Guru di Era Digital

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:03

SEI Bongkar Dampak Kebijakan Batu Bara Bahlil: Pasokan Tersendat, Listrik Alami Gangguan!

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:37

Mahfud MD: UU Polri Abaikan Komisi Reformasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:24

ART Indonesia Disiksa Mirip Samsak Tinju di Malaysia

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:01

Kerja Prabowo Sudah Bagus, tapi Jangan Pidato Meledek Lagi

Selasa, 16 Juni 2026 | 01:29

Sambut 1 Muharam Setop Saling Fitnah dan Provokasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 01:25

Selengkapnya