Satu bulan pasca Lebaran, seÂjumlah harga kebutuhan pokok belum mengalami penurunan. Kejadian ini pertama terjadi selama lima tahun terakhir.
Dari pemantauan Rakyat Merdeka di beberapa pasar tradisional di Jabodetabek, beberapa harga pangan belum mengalami penurunan. Antara lain, harga bawang merah Rp 45 ribu-Rp 48 ribu per kilo gram (kg). Harga bawang putih Rp 40 ribu per kg. Harga daging sapi Rp 120 ribu per kg, harga gula Rp 16 ribu sampai Rp 17 ribu per kg, harga Ayam Rp 33 ribu per kg, dan cabe rawit merah Rp 53 ribu per kg. Harga-harga tersebut kurang lebih sama dengan pada saat bulan Ramadan lalu.
Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri menilai, belum turunÂnya sejumlah harga pangan menjadi catatan buruk kinerja pemerintah. "Ini fenomena pertama dalam lima tahun terakhir, biasanya dua pekan setelah Lebaran harga sudah turun," kata Mansuri kepada Rakyat Merdeka, pada akhir pekan.
Menurut Mansuri, belum tuÂrunnya sejumlah harga pangan menunjukkan kegagalan pemerintah memperbaiki sistem distribusi. Karena, beberapa pangan sedang panen raya.
Dia meminta, pemerintah segera mengambil langkah-langkah untuk mengintervensi harga. Karena, harga saat ini tidak terjangkau masyarakat berpenghasilan rendah.
Wakil Sekretaris Jenderal Ikappi Miftahudin berharap, Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menjadikan penurunan harga pangan menjadi fokus utama kerjanya.
"Konsumsi masyarakat sudah menurun, tetapi harga belum turun. Ini harus disikapi secara serius," kata Miftahudin.
Kejanggalan harga pangan telah menjadi perhatian Presiden Jokowi. Empat hari lalu, pada saat memimpin rapat koordinasi nasional Tim Pengendalian Inflasi Daerah, Jokowi menginstruksikan kepada jaÂjarannya untuk melakukan pengecekan stok dan harga.
Dia menilai aneh harga bawang di pasaran mencapai Rp 40 ribu per kg, padahal ditingkat petani hanya Rp 14 ribu per kg. "Kalau harga yang seharusnya Rp 14 ribu, dijual Rp 40 ribu itu pasti ada apa-apanya," cetusnya.
Sementara itu, Guru BeÂsar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa mengatakan, belum turunnya harga pangan di Indonesia hanya ada dua kemungkinan penyebabnya. Yakni, pertama, data produksi dengan permintaan tidak akurat. Sehingga, harga tetap mahal karena stok terbatas. Kedua, ulah spekuÂlan. "Kalau benar stok cukup, seharusnya spekulan bisa dianÂtisipasi. Karena, oknum spekuÂlan sebenarnya orangnya itu-itu saja. Negara nggak boleh kalah dong dengan spekulan," cetusnya.
Dwi meminta, pemerintah menurunkan harga dengan cara melakukan pembenahan secara komperhensif. Yakni, melakuÂkan pembenahan sistem pasar yang saat ini terlalu liberal. "Jangan hanya operasi pasar, karena itu seperti menjaring angin," cetusnya.
Sebelumnya, Menteri Enggar telah menyampaiÂkan akan fokus menurunkan harga pangan. Karena, menÂjaga stabilitas dan ketersediaan pangan merupakan perintah yang disampaikan pertama kali Presiden Jokowi kepada dirinya.
Enggar mengatakan, dalam waktu dekat ini akan menemui Perum Bulog dan Kementerian Pertanian untuk bahas masalah pangan.
Rakyat Menjerit Ibu rumah tangga jengkel dengan belum turunnya harga pangan. "Saya bingung juga, kok Lebarannya udah lewat, harganya nggak turun-turun," kata Nunung, warga Cipete, Jakarta Selatan.
Nunung mengatakan, sebagai rakyat kecil, harga bisa kemÂbali normal sangat berarti bagi dirinya. Karena, dengan maÂhalnya harga kebutuhan pokok otomatis, maka kebutuhan lainÂnya di luar kebutuhan makan menjadi sulit terpenuhi.
Sementara itu, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) makanan, Anita Kusuma juga jengkel dengan belum turunnya harga kebutuÂhan pokok.
"Saya bisnis jualan donat kentang. Sejak bulan RamaÂdhan sampai skearang harga masih Rp 24 ribu per kg. PadaÂhal sebelum puasa hanya Rp 20 ribu per kg," keluh Anita.
Dia mengaku omsetnya mengalami penurunan. Kondisi ini tentu menyulitkan usahanya karena dirinya memiliki dua orang karyawan yang harus diÂgaji setiap bulannya. ***