Berita

Hukum

Tanggapi Haris Azhar Jangan Seperti Menembak Nyamuk Dengan Meriam

JUMAT, 05 AGUSTUS 2016 | 04:40 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Diyakini, Koordinator Kontras, Haris Azhar, tidak punya niat untuk mendiskreditkanPolri, TNI, dan Badan Narkotika Nasional dengan membuka kesaksian Freddy Budiman kepada publik.

Haris memiliki reputasi dan kredibilitas tinggi sebagai pembal hak asasi manusia (HAM), sehingga tak mungkin pula mempublikasi kesaksian Freddy hanya untuk mencari sensasi atau menciptakan kegaduhan publik.

"Maka itu saya menyetujui imbauan Presiden Jokowi melalui jubir Istana agar masalah testimoni yang dituliskan oleh Haris itu disikapi secara proporsional, yakni sebagai masukan untuk koreksi bagi aparat untuk bebenah," kata analis politik, Muhammad AS Hikam, di halaman facebook pribadinya beberapa saat lalu.


Pihak-pihak yang keberatan (TNI, Polri, BNN) bisa saja meminta Haris memberi klarifikasi dan membantu proses penyelidikan lebih lanjut terhadap substansi kesaksian Freddy yang sudah dieksekusi mati pada 29 Juli lalu.

"Dengan cara demikian tak perlu ada kekhawatiran terjadinya pencemaran nama baik, di samping itu publik juga dapat menimbang sendiri sejauh mana validitas kesaksian yang ditulis Haris," kata Hikam.

Ia akui langkah BNN, Polri dan TNI mempersoalkan Haris secara hukum bukan tindakan keliru, tetapi juga belum tentu banyak manfaatnya. Malah sebaliknya, cara seperti itu bisa lebih mudarat karena berpotensi memperluas ketidakpercayaan masyarakat terhadap tiga lembaga negara itu.

Setidaknya akan muncul kesan bahwa lembaga-lembaga yang memiliki kekuatan besar itu sangat sensitif terhadap pandangan yang dianggap kritis tentang ihwal yang sejatinya sudah menjadi "rahasia umum".

Jika kemudian menjadi polemik berkepanjangan dan kegaduhan, maka ujungnya akan sangat kontraproduktif bagi kehidupan berbangsa.

"Seperti kata ungkapan, tak perlu menembak nyamuk dengan meriam," lontar tokoh Nahdlatul Ulama ini. [ald]

Populer

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Rakyat Lampung Syukuran HGU Sugar Group Companies Diduga Korupsi Rp14,5 Triliun Dicabut

Kamis, 22 Januari 2026 | 18:16

Kasi Intel-Pidsus Kejari Ponorogo Terseret Kasus Korupsi Bupati Sugiri

Rabu, 21 Januari 2026 | 14:15

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Eggi Sudjana Kerjain Balik Jokowi

Selasa, 20 Januari 2026 | 15:27

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

UPDATE

Presiden Prabowo Minta Fokus Pengelolaan SDA untuk Kesejahteraan Rakyat

Rabu, 28 Januari 2026 | 20:15

BMKG: Cuaca Ekstrem Efek Samping OMC adalah Kekeliruan Sains

Rabu, 28 Januari 2026 | 19:58

Kasus Penjual Es Gabus di Kemayoran Disorot DPR

Rabu, 28 Januari 2026 | 19:54

Berikut Tiga Kesimpulan RDPU DPR soal Kasus Hogi Minaya

Rabu, 28 Januari 2026 | 19:35

Disanksi Disiplin, Serda Heri Minta Maaf dan Peluk Pedagang Es Gabus

Rabu, 28 Januari 2026 | 19:29

Pemuda dan Aktivis Mahasiswa Ingin Dilibatkan dalam Tim Reformasi Polri

Rabu, 28 Januari 2026 | 19:20

Raja Juli Pantas Masuk Daftar List Menteri yang Harus Diganti

Rabu, 28 Januari 2026 | 19:04

Kacamata Kuda Hukum Positif

Rabu, 28 Januari 2026 | 19:04

Thomas Djiwandono Tegaskan Tidak Ada Cawe-cawe Prabowo

Rabu, 28 Januari 2026 | 18:33

Lomba Menembak TSC Panglima Kopassus Cup 2026 Resmi Dibuka

Rabu, 28 Januari 2026 | 18:22

Selengkapnya