Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Revolusi Mental

Revolusi Mental Mulai Bergulir (2)

Reshuffle Kabinet Penuh Kejutan
SELASA, 02 AGUSTUS 2016 | 15:13 WIB | OLEH: ZAINAL BINTANG

AKHIRNYA, Presiden Joko Widodo mengumumkan perombakan kabinet atau reshuffle jilid II di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu 27 Juli 2016. Sebelum mengumumkan daftar nama menteri baru, Presiden menjelaskan kondisi yang dialami Indonesia dan apa yang harus dilakukan pada masa depan.

Presiden menyadari tantangan selalu berubah dan diperlukan kecepatan dalam bertindak. Jokowi berusaha semaksimal mungkin agar kabinet bekerja lebih cepat, efektif, dan solid. "Dengan demikian, hasilnya nyata dalam waktu secepatnya," kata Jokowi dalam jumpa pers.

Hasil reshuffle Kabinet Jilid II ternyata penuh kejutan. Lagi-lagi  Jokowi mengambil langkah yang tidak linear alias out of the box. Terpentalnya Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli (RR), tergesernya Luhut B. Panjaitan (LBP) menjadi Menko Maritim serta masuknya kembali Sri Mulyani Indrawati (SMI) membuat publik tersentak. Dan kalangan Istana pun tak ketinggalan ikut terkejut.


Pertanyaan kembali bergulir: Dengan siapa Jokowi melakukan perundingan, diskusi dan bertukar pikiran untuk mengambil putusan yang drastis itu? Pertanyaan ini masuk akal jika bergulir, karena peran Wapres JK sudah menjadi rahasia umum sangat minimal belakangan ini untuk mendikte Jokowi.

Semula nama LBP banyak disebut sebagai tokoh paling berpengaruh disisi Jokowi untuk pengambilan langkah-langkah politik yang bersifat strategis. Dia disebut-sebut mampu menggeser peran JK disamping presiden. Tetapi ternyata LBP secara kekuasaan pun mengalami degradasi panggung permainan. Tangan LBP yang semula sangat fullpower mengatur jalannya politik, hukum dan keamanan (sebut TNI) dipangkas.

Secara umum dapat dikatakan, langkah strategis dan serba kilat yang dilakukan Jokowi mengocok ulang kabinet, mengidikasikan terkonsolidasinya secara perlahan-lahan kekuasaan politik esekutif ke dalam tangannya. Mandat konstitusi yang diperoleh JK sebagai Wapres pelan-pelan melemah, sejak munculnya banyak data ke ruang yang menunjukkan JK memperluas wilayah bisnis keluarganya dengan menumpang pada kewenangan dan kekuasaan yang ada di tangannya.

Rasa percaya diri Jokowi bukanlah sesuatu yang turun secara biasa dari langit. Akan tetapi diperoleh melalui suatu proses yang dapat dianalogikan sebagai "Lone Ranger"; seorang ksatria yang bekerja sendiri tapi penuh idealisme dan keyakinan. Pengaruh dan perilaku  "Lone Ranger" memang diperlukan oleh seorang Jokowi, yang terpilih menjadi presiden ke tujuh di tengah-tengah instabilitas politik pada Pilpres 2014.

Dipersukar dengan adanya sejumlah regulasi yang tidak prorakyat diwarisi dari pemerintahan sebelumnya. Serta dan ini yang dinilai oleh banyak kalangan,  sebagai "persekongkolan" poltik yang tidak sehat; yakni terbentuknya pengelompokkan kekuatan politk yang mendadak oposisi melalui "perang kilat" alias bliz krieg,  jauh sebelum presiden dilantik. Dengan cara merombak UU MD3 yang menafikan demokrasi.

Dengan latar belakang medan juang demikian tidak mulus, maka wajar apabila Jokowi pada akhirnya memilih sendiri jalan ibarat "Lone Ranger". Tujuannya untuk membangun suatu konsolidasi politik internal di kalangan eksukutif atau Istana. Sambil begitu, diapun pelan-pelan mengirim sinyal bersemangat idealisme pembangunan bangsa, kepada kekuatan politik yang semula berseberangan dengan dirinya.

Semangat Nawacita yang di dalamnya sangat sarat dengan cita-cita perbaikan bangsa, yang mengedepankan kesejahteraan masyarakat banyak. Dipegang teguh dan penuh keyakinan oleh Jokowi. Hal itu diyakini sebagai pintu masuk terbaik untuk menjaga amanat dan cita-cita para pendiri bangsa ini.

Kebenaran akan hal tersebut dapat kita temukan di dalam pengakuan   mantan Menteri ESDM Sudriman Said  yang mencuit di Twitter saat sehari sebelum dirinya diganti sebagai pembantu presiden, dengan menulis begini :
"Alhamdulillah, tugas besar selesai," kata Sudirman seperti dikutip dari akun resminya, Selasa, 26 Juli 2016. "Jangan pernah lelah mencintai Indonesia yang hebat ini. Thanks semua,"

Jangan pernah lelah mencintai Indonesia yang hebat ini. Sebuah pesan yang mendalam dan substansif sifatnya. Sudirman Said secara jitu dapat membaca apa yang ada di dalam lubuk hati yang paling dalam Jokowi.

Reshuffle Kabinet Jilid II yang penuh kejutan ini, ternyata juga mengirim banyak pesan kepada seluruh rakyat Indonesia. Pesan pertama, hendaknya seluruh rakyat Indonesia tidak boleh berhenti mencintai Indonesia yang hebat ini. Dengan bahasa lain, janganlah yang mencoba-coba merusak bangsa besar ini. Bangsa besar diperoleh melalui revolusi yang penuh pengorbanan dari rakyat dalam bentuk harta, darah, air mata dan nyawa.

Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah karya agung bangsa Indonesia yang harus terus menerus  dijaga, dirawat, dilindungi dan dimuliakan sampai kapanpun.

Kedua, di dalam membangun konsolidasi politik guna mengantar bangsa ini bergerak terus di jalur semangat Proklamasi 45, sepertinya Jokowi tidak akan pernah mau berkompromi terhadap mereka yang memiliki agenda politik kelompok.

Ketiga, Jokowi tidak segan-segan mengambil tindakan tegas kepada mereka yang tidak serius membantu pemerintah di dalam program perbaikan dan kemajuan bangsa ini.

Melalui gebrakannya pada Reshuffle Kabinet Jilid II, rakyat banyak sangat berharap proses Revolusi Mental yang dicanangkan Jokowi telah bergulir. Dan Revolusi Mental yang sukses adalah jembatan yang kokoh terwujudnya amanat Tri Sakti. Berdaulat di bidang politik ; Berdikari di bidang ekonomi : Berkperibadian di bidang Budaya.

Sekali lagi, yang menjadi masterkey keberhasilan pembangunan Indonesia sesuai cita-cita Proklamasi 45, adalah perlu disegerakan konsolidasi politik. Semua kekuatan politk dan stakeholder bangsa ini: Jangan pernah lelah mencintai  Indonesia yang hebat ini. [***]

Penulis adalah wartawan senior dan anggota Dewan Pakar Partai Golkar

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Bos Exxon Prediksi Harga Minyak Bakal Lebih Meledak

Sabtu, 02 Mei 2026 | 14:21

SSMS Bagikan Dividen Rp800 Miliar dari Laba 2025

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:51

Postidar Kecam Video Diduga Pernyataan Amien Rais soal Sekkab Teddy

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:18

Bank Dunia Proyeksikan Harga Emas dan Perak Turun pada 2027

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:00

Hardiknas 2026, Komisi X DPR Ingin Pendidikan Berkualitas Merata ke Pelosok

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:37

Polda Metro Pulangkan 101 Orang yang Diamankan Saat May Day

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:30

China Minta PBB Tinjau Ulang Rencana Penarikan Pasukan UNIFIL dari Lebanon

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:21

Ratusan Demonstran Ditangkap dalam Aksi Hari Buruh di Turki

Sabtu, 02 Mei 2026 | 11:17

Komisi III DPR: Pemberantasan Narkoba Tak Boleh Kendor!

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:59

Yen Bergolak: Intervensi Jepang Paksa Dolar AS Rasakan Kerugian Mingguan Terburuk

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:41

Selengkapnya