Berita

HE Purnomo

Nusantara

PNTI Temukan Solusi Kelangkaan BBM Bagi Nelayan

MINGGU, 31 JULI 2016 | 19:32 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Para nelayan tradisional Indonesia tidak perlu mengeluh terkait dengan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) saat akan melaut yang sering dialami kesehariannya.

Persatuan Nelayan Tradisional Indonesia (PNTI) telah berhasil melalui risetnya membuat alat converter menjadikan gas elpiji melon (3 kg) dapat digunakan untuk melaut selama 14 jam. Jika menggunakan alat converter ini, hal itu berarti menghemat 25 liter BBM.
 
Demikian ditegaskan oleh Ketua Umum PNTI, HE Purnomo dalam acara Halal Bihalal di Jakarta, Sabtu malam (30/7). Dalam halal bi halal tersebut oleh Purnomo ditunjukkan juga cara kerja mesin converter tersebut kepada para hadirin.


Hadir dalam acara tersebut antara lain Perwakilan Papua, Papua Barat, Maluku Utara, Sulwaesi, Indramayu dan Pandeglang. Hadir juga para tokoh PNTI termasuk Dewan Pembina  Laksda TNI (Pur) Heru Srihanto, Dewan Penasehat Mayjen TNI (Pur) O. Sudjatmiko serta Staf Ahli (POKJA) BAKAMLA RI Bidang Komunikasi Publik AM Putut Prabantoro dan perwakilan BPJS pusat Haryani.
 
Dalam penjelasannya, Purnomo menegaskan bahwa, masalah utama yang dihadapi nelayan tradisional dalam melaut adalah kelangkaan BBM karena sulit didapat. Kelangkaan BBM ini seharusnya dapat diatasi dengan menyediakan pasokan yang cukup mengingat nelayan tradisional harus beberapa hari di laut untuk mendapatkan tangkapannya.
 
"Namun kita semua tahu, bahwa penyediaan stok yang cukup itu mempunyai kendala dan itu sudah terjadi bertahun-tahun. Sehingga adalah penting bagi sebuah organisasi nelayan untuk membantu para anggotanya untuk ikut menyelesaikan persoalan dasar yang dihadapi," ujar Purnomo.
 
Menurut Purnomo, sebagai organisasi PNTI memang memiliki tujuan utama meningkatkan kesejahteraan nelayan. Kesejahteraan itu harus dicapai dalam proses hulu dan hilir termasuk di dalamnya adalah meningkatkan kesejahteraan melalui penghematan BBM. Dan, penemuan alat converter ini menguntungkan para nelayan yang hanya membutuhkan beberapa gallon gas melon untuk melaut.
 
"Saya merasa yakin bahwa alat ini akan membawa meningkatkan kesejahteraan para nelayan tradisional. Meski dalam penyempurnaan, namun alat ini sudah diuji coba di lembaga riset PNTI. Berharap bahwa alat ini juga akan membawa nelayan tradisional melaut lebih jauh daripada biasanya," ujar Purnomo
 
Sementara itu, AM Putut Prabantoro menegaskan bahwa harus dimulai cara pandang baru bagi nelayan tradisional dalam meningkatkan kesejahteraan. Nelayan tradisional harus belajar sejarah tentang kehebatan pelaut-pelaut nusantara dan ini akan menjadi alat komunikasi kepada dunia pendidikan.
 
"Jika PNTI mau menggarap anggotanya untuk melek sejarah, dan menjadi guru alam bagi generasi muda Indonesia, saya kira ini akan mempercepat Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. Yang dihadapi dalam menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia adalah budaya, kultur yang sudah lama diabaikan oleh masyarakat Indonesia yang telah beranggapan dirinya sebagai masyarakat agraris saja.Yang bisa mempercepat penularan budaya maritim, budaya kelautan adalah nelayan tradisional ini yang benar-benar hidup karena alam," tegas Putut Prabantoro.
 
Heru Srihanto juga menegaskan bahwa kesejahteraan nelayan tidak bisa dicapai hanya dengan menunggu untuk diberi. Nelayan Indonesia harus benar-benar solid dalam membangun jejaring dan juga memperkuat organisasi dalam arti sebenarnya.
 
"Laut Indonesia begitu luas. Namun kalau laut Indonesia yang begitu luas tidak mampu menyejahterakan nelayannya, berarti ada sesuatu yang harus diluruskan. Indonesia sebagai negara maritim hanya dapat diakui kebenarannya jika para nelayan tradisionalnya sejahtera," ujar Heru Srihanto. [rus]

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

UPDATE

KSP Kawal Pembangunan MRT Jakarta sebagai Proyek Strategis Nasional

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:24

BI Rate Naik Lagi Jadi 5,75 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:19

Putusan Hakim Tegaskan Keabsahan Tanda Tangan Ketum PPP dan Wasekjen

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:17

PPKGBK Memverifikasi Penghuni Hotel Sultan Usai Eksekusi Pengosongan

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:17

Pemerintah Harus Benahi Kebijakan Domestik agar Investor Tak Kabur

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:10

PKB Usul Ambang Batas Parlemen 5 Sampai 7 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:01

Disinggung Aliran Duit ke Gus Yaqut, Fuad Hasan: Bahaya Kamu!

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:57

UMKM Binaan Pertamina Gelar Promo Gila-gilaan di Jakarta Fair 2026

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:55

Rapimnas II di Banten, KAMMI Teguhkan Arah Gerakan Kebangsaan

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:51

Pertamina Patra Niaga Pastikan Harga BBM Nonsubsidi Ikuti Formula Pasar

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:48

Selengkapnya