Berita

foto:net

Bisnis

Produsen Menggantungkan Harapan Kepada Sri Mulyani

Pajak Mobil Sedan Bikin Penjualan Melempem
MINGGU, 31 JULI 2016 | 09:09 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Produsen otomotif berharap Menteri Keuangan (Menkeu) yang baru Sri Mulyani mau menurunkan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) mobil sedan. Kebijakan itu akan mendongkrak penjualan mobil sedan di Tanah Air.
 
Ketua Umum Gabungan In­dustri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohannes Nangoi mengatakan, saat ini belum ada titik temu persentase PPnBM dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). "Per­gantian pucuk kepemimpinan Menkeu dari Bambang Brod­jonegoro kepada Sri Mulyani Indrawati menjadi momentum yang tepat untuk merealisasikan itu," ujarnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Menurut dia, pengusaha hanya meminta pengurangan PPnBM sedan dari 30 persen menjadi 10 persen saja. Tujuannya ada­lah agar harga jual sedan lebih murah, yang menyebabkan per­mintaan di dalam dan luar negeri meningkat.


Ia mengakui, bahwa peruba­han struktur pajak memerlukan waktu yang cukup lama da­lam pengkajiannya. Sehingga Gaikindo akan menunggu Ke­menkeu membuka komunikasi terkait hal ini. "Intinya kami tetap di 10 persen," tegasnya.

Pergantian pucuk pimpinan di Kemenkeu malah membuat proses negosiasi semakin tidak jelas jika tidak segera dibi­carakan. "PPnBM sedang kami bicarakan karena belum ada kejelasan," katanya.

Yohannes pesimis, keputusan pengurangan PPnBM sedan bisa selesai tahun ini. Untuk memangkas PPnBM sedan, dia akan kembali mendekati Menteri Perindustrian yang baru, Air­langga Hartarto guna membantu mendorong usulan tersebut kepada Sri Mulyani.

"Bapak angkat dari Gaikindo itu kan Kementerian Perindus­trian (Kemenperin), jadi kami mau tidak mau harus melaku­kan pendekatan ulang setelah pak Saleh Husin dicopot," katanya.

Dalam waktu dekat, Gaikindo akan menghadap Menteri Per­industrian Airlangga Hartarto untuk membasas PPnBM sedan ini. Pihaknya optimis, Airlangga akan mendukung Gaikindo. "Dia pengalaman di bidang industri. Jadi paham yang dihadapi indus­tri. Dirjennya juga masih sama (kemenperin)," tukasnya.

Ketua III Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Rizwan Alamsyah mengatakan, walaupun ada per­gantian menteri, pihaknya akan terus meminta pajak sedan agar bisa diturunkan.

"Semua sudah dimasukkan, tinggal proses saja semuanya. Itu kan sebenarnya hanya melanjut­kan saja. Pergantian bukan be­rarti berarti tak jadi, sebetulnya hanya dilanjutkan saja. Tetap berjalan," ujar Rizwan.

Skema penurunan pajak terse­but akan mirip dengan pajak yang dikenakan pada mobil jenis MPV. Namun masih ada kendala dengan Kementerian Keuangan, Gaikindo harus membuktikan dengan adanya pengurangan pajak tersebut pemerintah akan mendapatkan pemasukan yang lebih baik.

"Rencananya begitu, keingi­nan kami seperti itu (pajak MPV). Sebenarnya kalau ke Ke­menperin tidak terlalu masalah. Tapi Kementerian Keuangan kami masih harus membuktikan kalau pemerintah akan menda­patkan pemasukan yang baik," ujarnya.

Untuk diketahui, pemerintah masih mempertimbangkan stabilitas atau keseimbangan dalam hal penerimaan negara sebelum memberikan keputu­san terkait permintaan dunia usaha untuk menurunkan PP­nBM sedan dari 30 persen menjadi 10 persen.

Setidaknya ada empat per­timbangan Kemenkeu sebelum memberi keputusan terkait per­mintaan tersebut. Yaitu kes­eimbangan pembebasan pajak antara konsumen berpenghasilan rendah dan yang berpenghasi­lan tinggi, pengendalian pola konsumsi barang mewah, per­lindungan produsen kecil, dan penerimaan negara.

Kemenkeu sendiri telah mem­berikan keringanan pajak untuk pengembangan industri otomo­tif, yakni melalui penghapusan PPnBM untuk kendaraan low cost green car (LCGC). Alhasil, harga jual kendaraan ini lebih terjangkau.

Sebelumnya, Direktur Pera­turan Perpajakan I Direktorat Jenderal Pajak Irawan menga­takan, pemerintah masih per­lu menganalisa dampak dari penerapan pemangkasan pajak mobil sedan yang lebih rendah terhadap penerimaan negara dan manfaatnya bagi industri otomotif.

"Kami juga dukung kalau industri tumbuh, tenaga kerja juga terserap. Tapi kan harus seimbang nih antara kebutuhan Anggaran Pendapatan dan Be­lanja Negara (APBN) dengan industri," tuturnya. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

UPDATE

Penumpang Kereta Bandara Tembus 6,2 Juta Pelanggan Hingga Mei 2026

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:20

Fantastis! Harta Menteri dari PAN Trenggono Melejit Setengah Triliun dalam Setahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:15

Prabowo Dorong WNI Masuk Pasar Kerja Teknologi Jerman

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:11

Warna-warni Kendaraan Hias Meriahkan Perayaan 1 Muharam

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:10

Oktasari: Kritik Boleh, Tapi Jangan Abaikan Kerja Pemerintah

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:46

Prabowo Sampaikan Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:20

Belum Lapor LHKPN 2025, Mendes Yandri Punya Harta Rp20,95 Miliar Saat Awal Menjabat

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:20

Israel Masih Tak Terima Rencana Damai Iran-AS

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:12

Kekayaan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan Naik 83 Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 12:52

Universitas Binawan Buka Akses Penyetaraan Kualifikasi Nakes Indonesia di Uni Eropa

Selasa, 16 Juni 2026 | 12:44

Selengkapnya