Pengangkatan rektor Universitas Trisakti (Usakti) oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendikdikan Tinggi (Menristekdikti) Muhamad Nasir beberapa waktu lalu terus mendapat penolakan, baik dari internal kampus maupun dari alumni.
Keluarga Alumni Mesin Universitas Trisakti (Kamusakti) menyatakan bahwa pengangkatan rektor Usakti tersebut tidak sah.
"Kami jelas menolak rektor yang didrop dari menteri. Karena itu bertentangan dengan peraturan perundang-undangan PTS (perguruan tinggi swasta). Seharusnya rektor dipilih senat, tapi ini kan didrop. Jadi, ini tidak sah," jelas Ketua Kamusakti Adi Sempani kepada wartawan di Jakarta, Selasa (26/7).
Dia menjelaskan, terdapat tiga poin penting pengangkatan rektor Usaktsi versi Menteri Nasir tidak sah. Pertama, pengangkatan tidak sesuai dengan statuta. Kedua, bertentangan dengan peraturan tentang PTS. Dan terakhir, kehadiran menteri seharusnya memberi iklim yang kondusif bagi proses perkualiahan di Usakti.
"Tetapi yang terjadi sebaliknya. Semua akhirnya jadi terganggu," kata Adi.
Semestinya, sikap Menteri Nasir selaku perwakilan pemerintah terkait kisruh internal Usakti harus netral dan obyektif. Langkahnya dengan melakukan upaya dialogis melibatkan semua elemen di perguruan tinggi yang dijuluki kampus reformasi tersebut.
"Di zaman dulu, kalau ada menteri yang masuk jika ada perseteruan pasti cepat selesai. Cooling down gitu. Kalau sekarang malah terbalik-balik," beber Adi.
Dia memastikan bahwa jika upaya dialogis tidak dilakukan pemerintah maka konflik internal Usakti akan berkepanjangan. Dampaknya, nama besar Usakti menjadi jelek. Selain itu, proses perkuliahan pun terganggu.
"Kalau kami, kepentingannya cuma satu. Jangan sampai menganggu proses perkuliahan di Usakti," tutur Adi.
Saat ini saja, kegiatan perkuliahan di Usakti menjadi terganggu, yang mengakibatkan visi pemerintah membangun Indonesia hebat tidak dapat terwujud.
Lebih lanjut, Adi mengatakan bahwa Menteri Nasir sudah terlalu jauh mencampuri urusan internal Usakti. Intervensi menteri terdengar dalam pembicaraannya yang diunggah di situs Youtube. Dalam rekaman pembicaraan berdurasi lima menit itu, pernyataan Menteri Nasir sangat provokatif.
"Silahkan lihat bagaimana menteri berbicara dan sangat provokatif. Ada sebutan kita anggaplah Usakti ini ada dan tiada. Tidak bagus sekali itu," katanya.
Meski demikian, dia berharap agar persoalan internal Usakti segera tuntas. Hal ini penting demi kemajuan dunia pendidikan di Indonesia.
"Untuk itu, ambillah langkah dialogis. Jangan lagi ada intervensi seperti ini, kasihan mahasiswa," pungkas Adi.
[wah]