Berita

ilustrasi/net

Bisnis

Impor Jeroan Bunuh Peternak & Membuat RI Dicibir Dunia

JUMAT, 22 JULI 2016 | 22:17 WIB | LAPORAN:

Komisi IV DPR mendesak pemerintah mengurungkan rencana impor jeroan sapi. Sebab, kebijakan tersebut dianggap berdampak buruk bagi para peternak lokal dan mencoreng nama Indonesia di dunia internasional.

Anggota Komisi IV DPR, Hermanto menegaskan, impor jeroan jelas merugikan peternakan lokal. Dengan melimpahnya jeroan, bisa membuat pasar daging dalam negeri berkurang dan menyebabkan sapi petani lokal tidak laku. Selain itu, jeroan juga tidak sehat untuk dikonsumsi.

Yang lebih parah lagi, kata politisi PKS ini, impor jeroan bisa membuat Indonesia dicibir dunia internasional. "Impor jeroan ini bisa merendahkan martabat bangsa. Sebab, di luar negeri sana, jeroan dijadikan sebagai pakan ternak dan hewan peliharaan. Di kita malah dikonsumsi manusia,” tegasnya dalam keterangan, Jumat (22/7).


Kata Hermanto, jika ingin menurunkan harga daging menjadi Rp 80 per kilogram, pemerintah bisa menggunakan banyak cara yang lebih baik. Misalnya, menggiring masyarakat untuk mengganti daging dengan ikan atau ayam. Bukan malah mendorong masyarakat memakan jeroan yang terbukti kurang sehat.

"Cara berpikir pemerintah sangat instan. Ini bukan terobosan kebijakan yang diharapkan bisa mengatasi gejolak kenaikan harga daging sapi,” sindirnya.

Jika ingin harga daging bisa ditekan, lanjutnya, pemerintah harus menggenjot produk sapi dalam negeri. Program swasembada daging harus dilanjutkan. Program pembinan dan subsidi untuk petani harus ditambah. Dengan begitu, produksi sapi dalam negeri akan meningkat dan bisa memenuhi permintaan pasar.

"Kebijakan yang digulirkan itu harus kompehensif. Jangan hanya sisi supply-nya saja yang dibenahi, sisi demand-nya juga perlu diperhatikan. Misalnya, adanya beragam substitusi daging sapi yang sehat dan bergizi, seperti daging ayam, telur, atau komoditas lainnya. Atau program diversifikasi melalui swasembada protein. Sebab, sumber protein bukan hanya dari daging sapi, tapi juga bisa dari ikan atau lainnya,” demikian Hermanto. [sam]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lagi Sakit, Jangan Biarkan Jokowi Terus-terusan Temui Fans

Senin, 12 Januari 2026 | 04:13

Eggi-Damai Dicurigai Bohong soal Bawa Misi TPUA saat Jumpa Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 04:08

Membongkar Praktik Manipulasi Pegawai Pajak

Senin, 12 Januari 2026 | 03:38

Jokowi Bermanuver Pecah Belah Perjuangan Bongkar Kasus Ijazah

Senin, 12 Januari 2026 | 03:08

Kata Yaqut, Korupsi Adalah Musuh Bersama

Senin, 12 Januari 2026 | 03:04

Sindiran Telak Dokter Tifa Usai Eggi-Damai Datangi Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 02:35

Jokowi Masih Meninggalkan Jejak Buruk setelah Lengser

Senin, 12 Januari 2026 | 02:15

PDIP Gelar Bimtek DPRD se-Indonesia di Ancol

Senin, 12 Januari 2026 | 02:13

RFCC Complex Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 01:37

Awalnya Pertemuan Eggi-Damai dengan Jokowi Diagendakan Rahasia

Senin, 12 Januari 2026 | 01:16

Selengkapnya