Berita

jokowi/net

Jokowi Harus Jelaskan Tak Selamanya Tahu Perilaku Ahok

SENIN, 27 JUNI 2016 | 07:45 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Hubungan Joko Widodo dengan Basuki Tjahaja Purnama memang sudah terjalin cukup lama, sejak Pilkada DKI Jakarta 2012. Karena itu, wajar saja bila keduanya memahami "dapur" masing-masing.

"Termasuk dalam hal pendanaan dan biaya kampanye, baik untuk Pilgub maupun untuk Pilpres," kata pakar hukum tatangera dari Universitas Parahyangan (Unpar) Bandung, Asep Warlan Yusuf, kepada Kantor Berita Politik RMOL beberapa saat lalu (Senin, 27/6).

Menurut Asep, dalam politik memang hal nisacaya bila ada komunikasi antara politik dengan pengusaha. Bagaimapun selalu saja ada pengusaha yang berkepentingan dengan penguasa, atau calon penguasa. Karena itu, tak heran bila Jokowi dan Ahok juga berkomunikasi dengan para pengusaha, khususnya pengusaha di bidang properti.


"Dalam konstruksi hukum, bantuan pengusaha ini boleh-boleh saja selama tidak melebihi batas maksimal yang telah ditetapkan oleh aturan. Sah-sah saja," ungkap Asep, menanggapi rekaman video, yang dalam video tersebut Ahok mengatakan bahwa Jokowi tak bisa jadi presiden bila tak dibantu pengusaha.

Dengan demikian, sambung Asep, ungkapan Ahok bahwa ada pengusaha yang membantu Jokowi dalam Pillpres, merupakan hal yang wajar saja. Ungkapan itu tidak berdampak apa-apa, selama tidak ada unsur korupsi dan kolutifnya.

Bila di kemudian hari ada persoalan lain, termasuk suap, lanjut Asep, maka ini menjadi tugas penegak hukum, terutama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), untuk membongkar dan menuntaskannya. Namun yang jelas, persoalan yang belakangan ini terungkap, memang jelas terlihat Ahok mau membawa-bawa nama Jokowi dalam persoalan yang melilitnya, seperti dalam kasus reklamasi maupun pembelian lahan untuk Rumah sakit Sumber Waras.

"Karena itu, jelas ini menjadi tugas penegak hukum untuk menelusrinya. Dari sisi komunikasi, untuk menepis asumsi orang bahwa Jokowi terlibat dalam persoalan Ahok, Pak Jokowi bisa mengatakan dan menjelaskan secara normatif kepada publik, bahwa ia tak selamanya memantau perilaku dan langkah Ahok," ungkap Asep.

Dalam kasus hukumnya, Asep berharap penegak hukum berani bisa men-clearkan-masalah ini. Namun ia juga meminta pada publik tak underestimate terhadap penegak hukum, khusunya KPK. [ysa]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Legislator Nasdem: Bukan Hal Sulit bagi Polri Kejar Spam Judol

Kamis, 02 Juli 2026 | 19:57

Aksi Dramatis Anggota TNI Selamatkan Balita dari Cengkeraman Paman Sakau

Kamis, 02 Juli 2026 | 19:45

Sempat Lolos OTT KPK, Bos PT MSA Fika Nur Alawi Resmi Pakai Rompi Oranye

Kamis, 02 Juli 2026 | 19:35

Lagu ‘Mas Bahlil Ganteng’ Berdampak Positif terhadap Citra Golkar

Kamis, 02 Juli 2026 | 19:10

Cak Imin Pastikan Sekolah Rakyat Sukoharjo Siap Sambut Tahun Ajaran Baru

Kamis, 02 Juli 2026 | 19:07

Telkom Akses Perkuat Kompetensi SDM Digital di Daerah 3T

Kamis, 02 Juli 2026 | 18:48

Aliansi Kontraktor Geruduk Sudin PRKP Jakut Gegara Dugaan Monopoli Proyek

Kamis, 02 Juli 2026 | 18:41

Peresmian Kantor UN Tourism Kukuhkan Spanyol di Garda Terdepan Multilateralisme

Kamis, 02 Juli 2026 | 18:30

Kejagung Endus Dugaan Keterlibatan Kolonel TNI Aktif dalam Korupsi MBG

Kamis, 02 Juli 2026 | 18:25

Baru Tiga Bulan Menjabat, Dirut Pos Indonesia Mundur

Kamis, 02 Juli 2026 | 18:21

Selengkapnya