Berita

natalius pigai/net

Nusantara

KASUS HAM PAPUA

Natalius Pastikan Komnas HAM Tidak Masuk Tim Bentukan Luhut

MINGGU, 12 JUNI 2016 | 12:39 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM RI) Natalius Pigai memastikan Komnas HAM tidak terlibat dalam penyelesaian kasus HAM Papua bentukan Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan. Saat ini, tim bentukan Menko Polhukam itu mendapat penolakan dari LSM dan rakyat Papua.

"Saya tegaskan bahwa Komnas HAM tidak bisa diintervensi, dan Komnas  HAM telah memutuskan melalui Sidang Paripurna pada 23 Mei 2016 bahwa Komnas HAM tidak boleh menjadi bagian dari Pemerintah," kata Natalius dalam keterangannya kepada redaksi, Minggu (12/6).

Komnas HAM adalah lembaga independen negara berdasarkan UU 39/1999 dan di bawah pengawasan ICC, Dewan HAM PBB melalui Paris prinsipil bahwa dalam menangani kasus, Komnas HAM lembaga tidak boleh menjadi bagian dari negara sebagai aktor pelaku pelanggar HAM (state actors) tetapi berfungsi hanya mengawasi Pemeintah.


Karena itu, kata Natalius, jika seandainya ada anggota Komnas HAM yang terlibat, maka komisoner tersebut dapat saja dilaporkan untuk dimintai pertanggungjawaban di ICC, Dewan HAM PBB atau pelanggaran kode etik Komnas HAM.

"Salah satu contoh, saya dulu waktu tahun 2013. Saya membela menyelamatkan rakyat karena komentar saya kepada Pemerintah supaya melindungi dan tidak berimbas kepada rakyat Papua dari pembunuhan besar-besaran di Puncak Papua. Namun KontraS dan Imparsial melaporkan saya ke Dewan HAM PBB dan diadili, tetapi saya dipuji oleh Dewan HAM sebagai komisoner yang melaksanakan tugas dengan baik," ungkapnya.

Sekarang, LSM dan rakyat Papua melihat ternyata ada komisoner yang bekerjasama atau menjadi bagian dari aktor pelaku pelanggar HAM, Menkopolhukam, dan pihak terkait dengan bukti SK Tim maka masyarakat punya kewajiban untuk mengajukan protes.

"Bagi kami, percaya bahwa kami punya integritas dan punya kelas sendiri, tidak akan bisa diintervensi oleh siapun apalagi hanya sekelas Luhut Panjaitan, yang orang lain hormati sebagai orang hebat, sementara orang lain nilai dia sebagai seorang menteri pas-pasan dengan nilai di bawah 5 kata Ray Rangkuti di Mata Najwa. Betul juga karena kami tahu rahasia Pak Luhut tentang Freeport Papua dan dia pernah cerita dengan kami dan ada saksi 3 orang termasuk Judith orang dekatnya dan juga saya rekam, jadi Luhut itu tidak lebih baik soal integritasnya dalam menangani masalah HAM," beber Natalius.

Dia menambahkan, berbagai kegaduhan bidang politik, hukum dan HAM saat ini termasuk tidakmampuan mengendalikan soal PKI, pembentukan Intelijen tumpang tindih, penyelesaian soal HAM berat, intervensi ke partai politik, penyelesaian berbagai kasus, termasuk kasus dirinya dan tidak mampu koordinir menteri dan pimpinan kesatuan di bawah Polhukam seperti Menteri Pertahanan.

"Menlu juga sama, Pak Luhut tidak bisa kendalikan, demikian pula Mendagri, Menteri Bappenas, Kepala Kantor Staf Kepresidenan, Staf Khusus Presiden dan BIN, yang masing-masing bentuk Tim Penyelesaian masalah Papua, sebanyak 8 Tim di pusat dan Tim Pak Luhut itu hanya 1 Tim, semua tim berjalan sendiri-sendiri. Bagaimana kita bisa percaya?" ujar dia.

"Pemimpin kita saja bekerja berjalan sendiri-sendiri. Seharusnya tugas seorang Menko Polhukam dimaksimalkan saat sedang diberi tugas oleh negara kalau tidak mampu instrospeksi diri karena hambur-hamburkan uang rakyat Indonesia," tukas Natalius menambahkan. [rus]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

IHSG Merah, Rupiah Tembus Rp17.130 Usai Negosiasi AS-Iran Gagal

Senin, 13 April 2026 | 10:15

Kebangkitan Saham AI Asia: Investor Global Mulai Agresif Pasca-Redanya Tensi Geopolitik

Senin, 13 April 2026 | 10:02

Kasus Tas Branded Dicuri, EcoRing Diminta Tak Lepas Tangan

Senin, 13 April 2026 | 10:02

AS Blokade Kapal yang Keluar Masuk Pelabuhan Iran Mulai Hari Ini

Senin, 13 April 2026 | 09:52

Pembangunan Kawasan Legislatif dan Yudikatif IKN Terus Dikebut

Senin, 13 April 2026 | 09:43

Feel Good Network Bidik Pasar Ekonomi Digital Asia Tenggara

Senin, 13 April 2026 | 09:24

Australia Tolak Gabung Blokade AS di Selat Hormuz

Senin, 13 April 2026 | 09:21

PM Viktor Orban Tumbang setelah 16 Tahun Berkuasa

Senin, 13 April 2026 | 09:18

Tidak Ada Ajaran Kristen Benarkan Membunuh Sebagai Jalan Spiritual

Senin, 13 April 2026 | 09:16

Ubah Krisis Jadi Peluang: Strategi Indonesia Perkuat Ketahanan Ekonomi

Senin, 13 April 2026 | 09:09

Selengkapnya