Berita

joko widodo/net

G7 Cegah RI Berkiblat ke RRT Dan Rusia

JUMAT, 27 MEI 2016 | 11:48 WIB | OLEH: DEREK MANANGKA

ENTAH kapan Perdana Menteri Shinzo Abe mengirimkan undangannya kepada Presiden Joko Widodo untuk hadir di KTT G-7 di Ise- Shima, Nagoya, Jepang, pekan ini.

Undangan itu sangat istimewa. Sebab Presiden RI berstatus tamu tapi justru diminta sebagai pembicara utama. Ini berarti forum G-7, sangat menghargai Kepala Negara sekaligus Kepala Pemerintahan RI tersebut.

Sisi lain yang menarik, undangan tuan rumah Jepang tersebut memperlihatkan Jepang secara diam-diam berupaya kuat agar Indonesia jangan sampai terlalu dekat dengan RRT dan Rusia.


Kiblat Indonesia dalam politik luar negeri dan investasi, hendaknya tidak beralih ke poros RRT dan Rusia.

Jika Indonesia menjadi lebih dekat dengan dua negara tersebut, setidaknya hal ini bisa merupakan sebuah kekalahan Jepang dalam persaingan. Sebab RRT terutama merupakan saingan terdekat Jepang, sedang Rusia untuk jangka panjang.

Negeri Sakura ini juga merupakan salah satu investor tertua di Indonesia. Kegiatan investasi Jepang di Indoneia dimulai tahun 1968, bersamaan dengan diberlakukannya pertama kali UU Penanaman Modal Asing di Indonesia.

Ketika Jepang memulai investasinya di Indonesia, di saat itu RRT justru merupakan salah satu negara yang paling dimusuhi oleh Indonesia. Jadi kalau tiba-tiba di tahun 2016, di era Joko Widodo, RRT menyisihkan Jepang, justru kejadian ini merupakan hal yang janggal.

G-7 atau Kelompok Tujuh yang terdiri atas Jepang, Kanada, Amerika Serikat, Itali, Prancis, Inggris dan Jerman, mewakili 64% kekayaaan bersih global atau setara dengan US$ 263 triliun.

G-7 sejauh ini dikenal sebagai kartel negara industri yang berusaha mendominasi dunia. Dalam berbagai kebijakannya, hampir sulit menemukan penjabaran policy-nya yang bersedia merangkul negara-negara lainnya, apalagi negara yang sedang berkembang seperti Indonesia.

Oleh karena itu dibukanya pintu KTT G-7 bagi Presiden RI, merupakan sebuah peristiwa yang tak bisa dilihat sebagai hal yang tanpa maksud.

Pada tahun 1993, Presiden Soeharto selaku Ketua Gerakan Non-Blok (GNB) berusaha masuk ke forum KTT G-7 yang saat itu digelar di Tokyo.

Dengan status membawa mandat atau pesan 110 negara anggota GNB bagi G-7, Presiden RI tersebut, berusaha berbicara di forum KTT G-7, Jepang. Presiden Soeharto tak berhasil, sekalipun saat itu Presiden RI sudah berada di Tokyo bersama dengan rombongan yang relatif cukup besar. Yang diterima G-7 hanya Presiden Rusia, Boris Yeltsin.

Tapi cara Jepang atau anggota G-7 menolak Persiden RI masuk ke forum KTT, dilakukan secara bermartabat.

Konsep yang dibawa Presiden Soeharto yang mengatas namakan kepentingan negara-negara anggota GNB, tetap diterima. Tetapi acara penerimaan dilakukan di luar forum KTT G-7.

Presiden Soeharto diberi waktu bertemu dengan Perdana Menteri Jepang Keichi Miyazawa. Pertemuan mereka dilakukan di kediaman resmi Miyazawa, bukan di tempat penyelenggaraan KTT G-7. Waktunya pun dilaksanakan sebelum KTT dibuka resmi pada pukul 10.00 pagi waktu Tokyo.

Untuk lebih menghargai Presiden Soeharto, sebelum kembali ke tanah air, Presiden Soeharto diterima oleh Presiden AS Bill Clinton, di kediaman Dubes AS untuk Jepang.

Jadi Presiden Soeharto tak sempat menyaksikan pembukaan KTT G-7, sekalipun hanya melalui siaran langsung televisi. Ketika KTT dibuka oleh PM Keichi Miyazawa, Presiden Soeharto dan rombongan sudah berada di dalam perut pesawat kepresidenan Garuda, menuju Jakarta.

Sementara semua media atau wartawan Indonesia yang meliput kunjungan Presiden Soeharto ke Tokyo, wajib melaporkan skenario Sekretariat Negara RI pada waktu itu. Bahwa usulan Presiden RI selaku Ketua GNB kepada negara-negara G-7, sudah diterima dengan baik. Tanpa boleh menyebut bahwa Presiden Soeharto ditolak hadir oleh anggota G-7.

Oleh sebab itu, urgensi kehadiran Presiden Joko Widodo di KTT G-7 di Jepang tahun ini, perspektifnya perlu dibandingkan dengan situasi KTT G-7 23 tahun lalu.

Status Indonesia 23 tahun lalu yang berada di blok netral, tidak disukai oleh negara-negara Barat yang semuanya berada di G-7.

Keadaan Indonesia saat ini yang relatif tidak punya posisi tawar yang kuat terhadap Barat, tetapi mulai mendekat ke RRT dan Rusia - dua negara yang sangat dimusuhi Barat, juga menjadi kajian oleh berbagai pihak.

Setidaknya bisa disimpulkan bahwa lawatan Presiden Joko Widodo pekan ini ke Jepang, perlu dilihat sebagai perjalanan yang sangat berarti. Perjalanan ini bisa disamakan dengan pertarungan memperebutkan posisi dan keseimbangan global.

Seluruh rakyat Indonesia, tak peduli waktu Pilpres 2014 lalu tidak memilih Joko Widodo, sudah sepatutnya ikut melihat perjalanan Presiden ke Jepang, sebagai sebuah lawatan penting. Terutama adanya suasana yang menghargai dan memperhitungkan posisi Indonesia.

Kesempatan yang diberikan G-7 (Group of Seven) kepada Presiden RI untuk menjadi pembicara utama dalam Pertemuan Puncak Tujuh Negara Termaju di Dunia ini, perlu diartikan sebagai sebuah pengakuan atas pentingnya Indonesia dalam persaingan global.

Dunia tidak hanya melihat status Indonesia sebagai sebuah negara yang terus dilanda krisis politik dan ekonomi. Dunia juga tetap memperhitungkan posisi strategis Indonesia.

Sekalipun Indonesia tetap dengan berbagai ketertinggalan, tetapi oleh negara industri masih dianggap memiliki potensi yang tidak bisa diabaikan.

Masalahnya terpulang kepada bangsa Indonesia sendiri - apakah masih mau berusaha maju dan keluar dari krisis atau terus berkelahi tanpa akhir.

Undangan G-7 kepada pemimpin Indonesia menunjukkan,
cara pandang negara kreditor terhadap Indonesia di bawah Presiden Joko Widodo, berbeda 180 derajat dengan pihak yang beroposisi atau yang apriori tidak suka terhadap rezim Joko Widodo - Jusuf Kalla.

Bahwa RI masih atau tengah menghadapi krisis ekonomi yang berat, merupakan sebuah realita. Krisis berat - dengan utang ribuan triliun, juga merupakan fakta.

Tapi realita dan fakta itu tak bisa dicampur adukkan begitu saja dengan potensi Indonesia sebagai negara yang kedudukan geopolitiknya di dunia, sangat strategis.

Undangan PM Jepang kali ini patut diartikan sebagai sikap seluruh anggota G-7. Dan pada hakekatnya G-7, sedang menghalangi Indonesia agar tidak terpengaruh oleh tarikan RRT dan Rusia.

Secara konseptual dua negara ini sudah membentuk kartel yang dikenal dengan BRICS (Brasil, Rusia, India, China, South Africa).

BRICS berusaha mencegah terus mendominasinya G-7 dalam ekonomi global. BRICS juga berusaha menghapus penggunaan mata uang dolar Amerika sebagai satu-satunya alat pembayaran yang sah secara global.

BRICS dengan inisiatif RRT, juga sudah membentuk AIIB (Asian Infrastucture Investment Bank). AIIB dimaksudkan untuk mencegah terus meluasnya peranan Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund) dan Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank).

Bagi RRT, semua lembaga keuangan yang disebut paling akhir ini, terbukti tidak menjadikan negara-negara dunia ketiga yang mereka bantu, menjadi makmur. Justru mereka terjerumus dalam lilitan hutang dan tertular oleh penyakit korupsi.

Nah AIIB hadir dengan semboyan membangun tanpa korupsi. Di AIIB, negara pendirinya RRT, menempatkan teknokrat Indonesia sebagai salah satu personel penting.

Semua gerakan dan perkembangan ini dipantau dicatat oleh Jepang dan G-7.

Itu sebabnya geliat Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo yang mulai membuka pintu bagi RRT dan Rusia, menjadi sebuah kecenderungan yang membahayakan bagi Jepang khususnya dan G-7 pada umumnya.

Dari perspektif inilah kita perlu melihat lawatan Presiden Joko Widodo ke Jepang yang berakhir Jumat 27 Mei 2016 ini. *****

*penulis adalah wartawan senior

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Turbulensi Kepercayaan dalam Teropong Nobel Ekonomi

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 22:16

Jadi Tersangka KPK, Bupati Klaten Didepak PDIP

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:45

Kapolri Rangkul Ulama Jatim untuk Jaga Kamtibmas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:32

Ilham Habibie hingga Chappy Hakim Dianugerahi Golden PIN INACA

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:02

DPR: Kehadiran Kapolri di BEI Sinyal Negara Serius Menegakkan Hukum

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 20:33

Ketua Gappura Minta DPR Turun Tangan Mediasi PHK dan GHS di Krakatau Steel

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:35

Walhi Soroti Tanggung Jawab Lintas Sektor dalam Penanganan Karhutla

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:28

Kementerian UMKM Pulihkan 908 Usaha Terdampak Bencana di Sumatera

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:51

Komjak Diminta Turun Tangan Teliti JPU di Kasus Febrie

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:30

Surati Presiden Prabowo, YLKI Minta Menteri Bahlil Dicopot

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 17:49

Selengkapnya