Berita

foto:net

On The Spot

Pembantu Royani Ngaku Tidak Bisa Masuk Rumah

Melongok Rumah Supir Sekretaris MA Yang Menghilang
JUMAT, 27 MEI 2016 | 09:20 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Dari siang hingga malam hari, rumah Royani hanya ditinggali oleh seorang pembantu. Kedua anak pasangan Eni dan Royani yang masih sekolah, dititipkan sementara kepada sepupu mereka, hingga Eni menjemput mereka untuk pulang malam harinya.

Royani alias Roy tinggal di sebuah rumah di bilangan segiti­ga emas Jakarta, tepatnya di Jalan Taman Bendungan Jatiluhur I, No 9, RT 7/2, Kelurahan Bendungan Hilir, Kecamatan Tanah Abang. Rumah gaya minima­lis itu terdiri dari dua lantai. Dindingnya didominasi warna putih dan abu-abu, dengan empat jendela cokelat di bagian depan. Pagar hitam setinggi dua meter menutupi rumah tersebut. Pagar tersebut dilapisi fiber hitam.

Saat disambangi kemarin siang dan sore, kediaman sopir Sekretaris Mahkamah Agung (MA), Nurhadi itu tertutup ra­pat. Pagar dikunci gembok dan tidak bisa dibuka. Beberapa kali diketuk, tidak ada satu pun orang yang membukanya. Padahal, halaman rumah tampak rapi terawat, dan terdapat sandal berjejer di depan pintu. Salah se­orang pembantu Royani menjaga rumah tersebut, ketika Eni dan keempat anaknya sedang tidak berada di rumah.


"Mungkin lagi keluar," ujar Dwi Puspita, pembantu keluarga tersebut di depan pagar rumah, kemarin.

Sejak kasus suap Panitera Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat (Jakpus) Edy Nasution mencuat dan Sekretaris MA Nurhadi dipanggil KPK, Royani memerintahkan pembantunya untuk selalu mengunci pagar rumah, dan tidak sembarangan membukakan pagar. Puspita pun tidak bisa masuk ke rumah majikannya, lantaran tidak me­megang kunci.

Selain majikannya, pembantu lainnya yang sedang memegang kunci. Akibatnya, wanita berkaos merah muda dengan gambar dan tulisan candi Borobudur tersebut harus menunggu di luar. Tas jinjing warna merah muda digeletakkan begitu saja di depan pagar. "Saya harus nunggu di sini sampai dia (pembantu yang satu lagi) kembali," ucap Puspita.

Pembantu yang baru saja bekerja salama sebulan di rumah keluarga Eni itu, mengaku tidak tahu apa-apa tentang kasus yang menimpa majikan laki-lakinya. Dia mengaku tidak banyak berinteraksi dengan keluarga tersebut. Sebab, meski mengaku tinggal di rumah itu, keluarga tersebut sangat sibuk dan jarang berada di rumah.

"Semuanya berangkat pagi, malam baru pulang. Anak yang masih sekolah juga dititipkan sementara ke kerabat ibu. Malam baru dijemput dan pulang ke rumah," terangnya.

Puspita menyatakan, sejak bergulirnya kasus ini, Eni se­lalu terlihat sedih dan tidak bisa tenang. Sang majikan merasa tertekan dengan kondisi yang menimpa suaminya saat ini. Sementara tentang majikan laki-lakinya, Puspita mengaku tidak tahu bagaimana kondisinya, dan sekarang ada dimana.

"Berkali-kali ibu juga bilang tak tahu apa-apa, dan tak tahu bapak kemana. Dia ngomong kayak gitu sering sambil nan­gis. Sekarang ibu sering bangun malam untuk shalat biar tenang," kata dia.

Menurut Puspita, majikan wanitanya berharap agar Royani mau menghadap KPK untuk memberikan keterangan se­bagai saksi. Eni pun meminta agar Royani tidak perlu takut untuk mengungkapkan fakta apa adanya. Hal itu perlu dilakukan agar kehidupan keluarga tersebut kembali tenang.

"Ibu ingin agar masalah dih­adapi saja, supaya selesai. Kalau menghilang begini, pasti akan dikejar terus dan keluarga jadi tidak bisa tenang," ucapnya.

Sementara itu, Ketua RT 7/2 Jalan Taman Bendungan Jatiluhur 1, Budi Ar Siregar mengatakan, sudah sejak lama tetangganya tersebut tidak ter­lihat di rumahnya. Biasanya Royani selalu tampak ketika hendak pergi dan pulang kerja. Budi pun mengaku tidak tahu persis sejak kapan warganya tersebut menghilang. "Biasanya selalu kelihatan, pergi kerja jam setengah delapan pagi dan pulang jam sembilan malam," katanya.

Budi menceritakan, Royani sudah menjadi warganya sekitar lima tahun lalu setelah me­nikah dengan istrinya, Eni. Sebelumnya, Royani diketahui tinggal di kawasan Pos Pengumben, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

"Pindah ke sini setelah menikah dengan warga sini. Tinggal dengan empat anaknya, dua merupakan anaknya Eni dari pernikahan sebelumnya, dan dua lagi yang dibawa Royani," imbuhnya.

Budi memaparkan, sejak pin­dah ke lingkungannya, Royani tidak pernah menyebutkan sama sekali pekerjaannya. Budi hanya mengira-ngira, Royani bek­erja sebagai sopir di MA. Itu ia ketahui karena Royani kerap mengenakan seragam.

Meski bekerja sebagai sopir, Royani memiliki kendaraan bernilai ratusan juta. Setiap akhir pekan, Royani jalan-jalan meng­gunakan motor gede Harley Davidson. Mobil yang dimi­likinya pun ada tiga, yaitu Vios, Swift, dan Innova. "Dia baru beli satu tahun yang lalu. Yang Innova itu buat antar jemput anaknya," ucapnya.

Royani juga menyekolahkan dua anaknya di sekolah swasta favorit di Jakarta Selatan. Dua tahun terakhir, Royani mereno­vasi rumahnya menjadi rumah bertingkat dua. "Dulu rumah tua. Dua tahun lalu dirombak semuanya jadi tingkat," kata Budi. ***

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Ini Pemicu Perubahan Sikap Jokowi ke Prabowo

Minggu, 18 Oktober 2026 | 08:15

Prancis Membara, Demonstran Bakar Gedung Pemerintah hingga Jarah Toko

Minggu, 18 Oktober 2026 | 07:57

OMC di Sumsel Turunkan Polusi Asap dari Kategori Berbahaya

Minggu, 18 Oktober 2026 | 07:40

Kopdes Buka Peluang Kerja dan Usaha bagi Generasi Muda

Minggu, 18 Oktober 2026 | 07:32

Gerindra Pilih Redam Polemik Gibran

Minggu, 18 Oktober 2026 | 07:21

Dua Tahun Rezim Prabowo-Gibran: Double-Track Menuju Swasembada Energi

Minggu, 18 Oktober 2026 | 06:55

Ketum BPP HIPMI Ajak Pelaku Usaha Tetap Optimistis di Tengah Gejolak Pasar

Minggu, 18 Oktober 2026 | 06:23

Seorang Peserta ITB Ultra Marathon 2026 Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 05:47

Desa dalam Otonomi Terpasung

Minggu, 18 Oktober 2026 | 05:21

Operasi Badai Kasuari Sukses Rampas Kembali Persenjataan OPM

Minggu, 18 Oktober 2026 | 04:59

Selengkapnya