Berita

Hukum

Demokrat Sesalkan Kinerja KPK Kian Tak Jelas

SELASA, 24 MEI 2016 | 19:00 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Ketua Biro Bidang Hubungan Antar Lembaga Departemen Urusan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Partai Demokrat, Ardi Malembot menyesalkan ‎kinerja KPK yang makin ke sini makin tak menggembirakan. Pertama dalam hal independensi dan menjaga marwah lembaga anti rasuah tersebut.

‎"Indikasinya pimpinan KPK turut serta mendampingi Presiden ke Korea Selatan. Padahal KPK selama ini kredibel dan dipercaya. KPK periode sebelumnya menjaga marwah dan indpendensi.‎ Artinya, pimpinannya harusnya menjaga jangan sampai langkah dan sikap mereka jadi bikin publik bertanya-tanya," ujar Ardi dalam keterangannya, Selasa (24/5).

‎Selain itu,‎ KPK semestinya bertindak dan bekerja secara objektif dalam menuntaskan berbagai kasus korupsi.

‎Misalnya ‎kasus reklamasi pantai utara Jakarta. Dia menilai, selama ini, KPK dalam menuntaskan kasus ini kurang kredibel. ‎Malahan, kesannya KPK terus mencari analogi dan pembenaran untuk Gubernur DKI Jakarta Basuki Thajaja Purnama.

‎"Kalau KPK mencari analogi kebenaran buat Ahok terus, itu sama saja KPK menjadi juru bicara Ahok. Penegakan hukum itu harus independen, jangan membela. Kebenaran tentang ijon reklamasi ini dengan pengembang harus diperjelas," tambah Ardi yang juga Ketua Persatuan Pemuda Kupang.

‎‎Dia membandingkan, dengan kasus yang membelit Sekjen Partai Nasional Demokrat (NasDem). Patrice Rio Capella. Padahal nominalnya hanya Rp 200 juta.

‎"Waktu sekjen partai politik, KPK agresif betul menanganinya," katanya.

‎Diingatkan Ardi, Partai Demokrat sampai sekarang jadi satu-satunya partai yang terus mendukung keberadaan KPK. Partai Demokrat di garda terdepan menolak tegas rencana revisi Undang-Undang KPK beberapa waktu lalu.

‎Sampai saat ini, Partai Demokrat juga terus bekerjasama menggela sekolah antikorupsi dengan lembaga pemberantas tindak korupsi tersebut.

‎"Jangan sampai kita melihat KPK abu-abu dalam sikap dan tindakannya, antara Rechstaat dan Machstaat, politik dan penegakan hukum. ‎Jangan sampai kasus reklamasi dan berbagai tindak tanduk KPK, jadi titik balik hancurnya pengakuan publik terhadap KPK," tegasnya.[dem]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

UPDATE

PDIP Duga Ada Pengerahan Komcad Saat Pengamanan Demo Mahasiswa, Ini Penjelasannya

Senin, 15 Juni 2026 | 08:19

Bursa Asia Hijau Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 08:12

Harga Minyak Dunia Rontok Usai Trump Umumkan Kesepakatan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:54

Harga Logam Mulia Melonjak, Emas Mendekati Rekor Baru

Senin, 15 Juni 2026 | 07:42

AS dan Iran Bakal Teken Perjanjian Damai di Swiss Jumat Ini

Senin, 15 Juni 2026 | 07:26

Pemerintah Dorong Susu Hadir Setiap Hari dalam Program MBG

Senin, 15 Juni 2026 | 07:15

Trump Klaim Amankan Kesepakatan Damai Terbesar dengan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:00

Pengelolaan Blok Andaman Diusulkan Pakai Skema Hybrid

Senin, 15 Juni 2026 | 06:50

Dokter Tifa Dukung Prabowo Pimpin RI Tanpa Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 06:27

Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor

Senin, 15 Juni 2026 | 06:23

Selengkapnya