Berita

yuyuk andriati/net

Hukum

KPK Berkelit Soal Kebersamaan Jokowi Dan Agus Rahardjo Di Korea

RABU, 18 MEI 2016 | 22:25 WIB | LAPORAN:

Komisi Pemberantasan Korupsi angkat bicara mengenai kunjungan Ketua KPK Agus Rahardjo ke Korea Selatan, beberapa waktu lalu.

Pelaksana harian Kabiro KPK, Yuyuk Andriati menjelaskan, kunjungan Ketua KPK ke Korea Selatan merupakan lawatan kerja dalam rangka penandatanganan nota kesepahaman pertukaran informasi tindak pidana korupsi antara Chairman of the Anti Corruption and Civil Rights Commission (ACCRC) dari Korea Selatan dengan KPK.

Nota kesepahaman tersebut ditandatangai oleh Sung Yung Hoon dari ACCRC dan Agus Rahardjo selaku pimpinan lembaga antirasuah tersebut disaksikan oleh Presiden Joko Widodo serta Presiden Korea Selatan Park Geun-hye, di Cheong Wa Dae, Seoul, Senin (16/5) lalu.


"Memang ada Kunker (kunjungan kerja) Ketua KPK mulai 16 hingga 20 Mei dalam rangka pendandatangan kerja sama antara KPK dengan ACCRC. Kerja sama sudah sejak 2006," ujar Yuyuk dalam konfrensi pers di Gedung KPK, Jakarta Selatan, Rabu (18/5).

Dia menambahkan, beberapa hal yang menjadi rencana kerja dari penandatanganan MoU tersebut menyototi soal perbaikan kapasitasn SDM, IT dan informasi lain. Termasuk juga tentang best practice di sana apakah mungkin dikembangkan di KPK.

Lebih jauh, Yuyuk menegaskan tidak ada kepentingan tertentu mengenai lawatan kerja Presiden ke Korea Selatan dengan pimpinan KPK. Menurut dia, keduanya hanya sama-sama memiliki agenda di Korea Selatan.

"Tidak ada kaitannya dengan presiden. Pimpinan KPK menggunakan pesawat komersil, tidak ikut rombongan presiden. Bertemu di Korea memang benar, karena penandatanganan dilakukan di Istana negara Korea dan disaksikan Presiden Joko Widodo," pungkas Yuyuk.

Tokoh politik nasional, Rachmawati Soekarnoputri sebelumnya menilai kebersamaan Presiden Joko Widodo dan Ketua KPK Agus Rahardjo sangan tidak etis. Rachma juga menilai, tindakan Agus ini menjatuhkan wibawa dan posisi institusi KPK, yang seharusnya independen.

Rachma mengingatkan, KPK bukanlah lembaga subordinat keperesiden. KPK dan Presiden memiliki otoritas sendiri-sendiri. Presiden hanya pembuat kebijakan, dan bukan operasional menangani penyidikan-pemeriksaan dan penangkapan layaknya hukum acara pidana.

Sementara KPK, lanjut Rachma, merupakan lembaga lex specialis yang punya kewenangan memeriksa siapapun, termasuk memeriksa Presiden. Karena itu, bila ternyata seorang presiden terlibat korupsi, dengan cara mau berada dalam romobongan presiden, apakah KPK ke depannya berani bertindak atau tidak.

"Rakyat sudah bosan dengar janji-janji pemberantasan korupsi rezim penguasa," demikian Rachma. [sam]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

UPDATE

PDIP Duga Ada Pengerahan Komcad Saat Pengamanan Demo Mahasiswa, Ini Penjelasannya

Senin, 15 Juni 2026 | 08:19

Bursa Asia Hijau Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 08:12

Harga Minyak Dunia Rontok Usai Trump Umumkan Kesepakatan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:54

Harga Logam Mulia Melonjak, Emas Mendekati Rekor Baru

Senin, 15 Juni 2026 | 07:42

AS dan Iran Bakal Teken Perjanjian Damai di Swiss Jumat Ini

Senin, 15 Juni 2026 | 07:26

Pemerintah Dorong Susu Hadir Setiap Hari dalam Program MBG

Senin, 15 Juni 2026 | 07:15

Trump Klaim Amankan Kesepakatan Damai Terbesar dengan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:00

Pengelolaan Blok Andaman Diusulkan Pakai Skema Hybrid

Senin, 15 Juni 2026 | 06:50

Dokter Tifa Dukung Prabowo Pimpin RI Tanpa Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 06:27

Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor

Senin, 15 Juni 2026 | 06:23

Selengkapnya