Sosok Amin Ben Gas patut menjadi teladan dan diapresiasi, terutama dalam upayanya mendukung Indonesia menjadi poros maritim dunia.
Amin berhasil membuat konverter kit BBM ke gas bagi nelayan di tempatnya tinggal, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Saat ini, semua nelayan di Kubu Raya sudah menggunakan masterpiece dari Amin tersebut.
Amin menyebut konverter kit buatannya ini merupakan karya lokal wisdom atau kearifan lokal. ABG (Amin Bensin Gas) dinamainya ini merupakan generasi ke 9, sejak ia mulai merakit konverter gas tahun 2010.
"Kenapa kearifan lokal, karena setiap generasi yang kita hasilkan merupakan hasil masukan dari nelayan untuk penyempurnaan. Kalau ada nelayan yang mengeluhkan kekuarangannya, segera kita sempurnakan, hingga generasi ke 9," kata Amin di Kubu Raya, Kamis, (12/5).
Cara kerja konverter kit karya Amin sederhana, alat yang berbentuk persegi dengan ketebalan lima cm berwarna biru disambungkan melalui pipa dari mesin kapal ke gas elpiji. Konverter akan mengalirkan gas ke mesin.
Amin memang mendedikasikan karyanya ini untuk nelayan. Generasi 9 konverter miliknya ini bisa digunakan untuk berbagai macam mesin, seperti genset dan mesin lainnya, sehingga tidak lagi menggunakan bensin.
"Mesin kecil masuk, besar masuk, merk apa aja bisa masuk. Kalau kita dagang, tentunya kita bikin tiap-tiap mesin kita bikin beda konverternya, ini kita bikin satu, karena memang untuk nelayan, biar mereka gampang kerjanya," ujar Amin yang berasal dari keluarga nelayan Kubu Raya.
Ide membuat konverter kit ini diceritakan Amin ketika kelangkaan bahan bakar minyak kerap dirasakan nelayan.
Di Kalimantan Barat, musim hujan dan musim kemarau sangat berpengaruh terhadap pasokan minyak ke nelayan.
Jika masuk musim ombak besar, kapal-kapal besar pengangkut BBM biasanya akan tertahan sehingga pasokan BBM ke nelayan terhambat. Begitu pun saat musim kemarau, kapal-kapal banyak yang kandas, sehingga menghalangi kapal besar pengangkut BBM masuk ke pelabuhan.
Karena stok BBM kerap langka, nelayan di Kalimantan Barat menjadi jarang melaut, atau harus bersusah payah menggunakan dayung jika ngotot mencari ikan demi kebutuhan keluarga.
"Saya keluarga nelayan, kita dari kecil dari nelayan. Permasalahannya kita tahu. 80 persen biaya operasional nelayan itu di bahan bakar," tutur Amin yang mengaku sarjana ekonomi sosial pertanian.
Kebijakan pemerintah mengkonversi minyak tanah ke gas menjadi awal mula ide Amin membuat konverter kit bagi nelayan. Di awal-awal inovasinya, banyak diiringi kegagalan, dan nelayan juga takut menggunakan elpiji karena khawatir meledak.
Amin mengaku, inovasinya ini dihasilkan dari dana pribadi. Bahkan karena keadaan sulit, konverternya masih butuh penyempurnaan, dia terpaksa menjual rukonya di Pontianak dan menjual dua mobilnya.
"Kalau tanya pernah gagal, lebih banyak gagalnya. Mesin rusak udah semobil itu, berapa kali gagal. Mesin itu kan buat bensin, mau kita selaraskan ke gas, mencari titik temu ini yang susah," ceritanya.
"Ini saya melihat ada tantangan, saya yang memiliki pendidikan, melihat persoalan nelayan, apa saya akan diam saja? Saya harap pemerintah mendukung ini, membeli konverter kit ini untuk dibagikan ke nelayan-nelayan, itu harapan saya," imbuhnya.
Di tengah kehadiran pihak dari Kemenko Maritim dan Sumber Daya, Amin berharap pemerintah mengawalnya untuk "bertarung" dengan produk-produk konverter kit impor yang sewaktu-waktu bisa saja menguasai pangsa pasar karena kekuatan finansial. Konverter kit ABG kini sudah memiliki SNI, dan pabriknya beralamat di Cikupa, Cikarang. Amin menginginkan, produksi konverter kit ciptaannya, diborong oleh pemerintah untuk dibagikan ke nelayan-nelayan.
"Saat ini masih tarik menarik antara produk impor dan lokal. Kita berharap keberpikan Pemerintah kepada industri dalam negeri. Kita sudah berbuat, aturan sudah kita ikutin, sudah SNI, hak paten, hasil uji, pabrik sudah ada barang sudah ada. Kita juga sudah buat semua jenis mesin, ini buat dua silinder juga sudah kita buat. Bukan hnya untuk nelayan, untuk genset, mesin pakan, pompa air, bisa kita gunakan," papar Amin.
Perjalanan konverter kit ABG ini, yang awalnya hanyalah diproduksi di bengkel tepi sungai, kini sudah memiliki pabrik dan mempekerjakan pegawai. Dalam sehari, pabrik konverter kit ABG menghasilkan seribu hingga 2 ribu unit per hari. Bahkan, luar negeri berminat terhadap konverter kit milik Amin ini.
"Sri Lanka udah penjajakan. Katanya mereka berminat. Saya ingin kerjasama dengan pemerintah, untuk kebutuhan nelayan. Tidak hanya nelayan Kalbar tapi seluruh Indonesia," ujar Amin yang enggan menjual pabriknya ini ke salah satu BUMN.
Kini Amin sedang mempersiapkan konverter kit miliknya untuk menjadi pemasok utama konverter kit bagi nelayan di Indonesia.
[wid]