Berita

Ujian Nasional Berbasis Komputer:net

On The Spot

"Pak, Ini Belum Bisa Log In"

Melihat Ujian Nasional Berbasis Komputer
RABU, 11 MEI 2016 | 09:09 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pemerintah menggelar Ujian Nasional (UN) SMP sejak Senin (9/5). Dari puluhan ribu SMP, ada sejumlah sekolah yang menggelar UN Berbasis Komputer (UNBK), salah satunya SMPN 11 Jakarta.

Hari masih pagi. Jam menun­jukkan pukul 07.15 WIB. Bayu berjalan terburu-buru menuju salah satu ruang kelas di SMPN 11, Jalan Kerinci VII, Blok E, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, kemarin.

Pelajar yang mengenakan seragam putih biru ini, lantas duduk di deretan meja bagian tengah. Sejurus kemudian, rema­ja berambut keriting ini mencoba log in di laptop yang telah terse­dia di mejanya.


Empat menit menunggu, Bayu terlihat panik karena belum bisa masuk ke dalam soal ujian matematika. "Pak, ini belum bisa log in," kata Bayu kepada guru yang berjaga di ruang tersebut.

Tak lama kemudian, salah seorang guru menghampiri dan membantu log in. Bayu akh­irnya bisa mengerjakan soal dengantenang. Begitulah suasana pelaksanaan UNBK di SMPN 11 Jakarta.

Pelaksanaan UN mengguna­kan komputer, sedikit berbeda dibanding cara manual. Dalam UNBK, siswa tidak wajib lagi membawa pensil. Selain itu, kondisi ruangan lebih lega. Sebab, ruangan yang biasanya diisi 30 siswa, hanya diisi 17 siswa.

Di setiap meja ditempatkan satu unit laptop. Setiap siswa mengerjakan soal menggunakan komputer jinjing itu. Kendati de­mikian, kemarin, seluruh siswa masih membawa kertas dan pensil. Maklum, saat itu yang diker­jakan adalah soal matematika, sehingga membutuhkan kertas untuk berhitung.

Waktu mengerjakannya cukuplama, yaitu dua jam. Bayu mengerjakan 40 soal matematikase­lama dua jam. "Bingung banget mengetik jawabannya, soalnya baru pertama kali ini saya ikut UN menggunakan komputer," ujar Bayu.

Dia mengaku waswas selama mengerjakan soal karena takut laptop yang digunakannya tiba-tiba hang. "Tapi Alhamdulillah, ujian tadi berjalan lancar," syukurnya.

Kendati bisa menjawab semua pertanyaan, Bayu mengaku ragu-ragu dengan jawabannya. Pasalnya, apa yang diujikan dalam UN sama sekali berbeda dengan apa yang pernah diajar­kan. "Yang penting, saya seka­rang berdoa, semoga mendapat nilai baik," tuturnya.

Bayu merasa lebih nyaman mengerjakan soal UN dengan cara manual. "Kalau manual tidak mungkin hang," tutupnya.

Senada, siswa Kelas IX SMPN 11 Jakarta lainnya, Firsty Annisa juga mengaku kesulitan menger­jakan soal matematika meng­gunakan komputer. Sebab, saat mengerjakan soal, laptopnya hangbeberapa menit. "Tapi Alhamdulillah, bisa dibetulkan tek­nisi yang stand by," ujar Firsty.

Kendati laptop bisa berfungsi seperti sediakala, pelajar putri berambut panjang ini, sempat waswas tidak maksimal dalam mengerjakan soal UN. "Soalnya sulit-sulit, ditambah cara jawab­nya juga sulit," sebut dia.

Kendati begitu, dia bisa mengatasi masalah. "Sebulan sebelum ujian sudah sering latihan. Jadi sudah terbiasa," tuturnya.

Staf administrasi SMPN 11 Jakarta, Widodo mengatakan, jumlah siswa yang mengikuti UNBK di sekolah ini sebanyak 298 orang. Mereka dibagi men­jadi dua sesi. Sesi pertama pukul 07.30 WIB- 09.30 WIB. Sesi kedua pukul 09.30 WIB-11.30 WIB. "Laptopnya tidak cukup, jadi harus dibagi menjadi dua sesi," ujar Widodo.

Lebih lanjut, kata Widodo, kelas yang digunakan untuk UNBK sebanyak delapan ruang. Masing-masing ruangan paling banyak 18 siswa.

Menurut Widodo, selama dua hari pelaksanaan UN, tidak ada hambatan berarti dalam UNBK. "Siswa sudah terbiasa, karena sebulan sebelum UN, sudah seringdigelar try out," kata dia.

UNBK, kata Widodo, akan berlangsung empat hari dengan empat mata pelajaran, yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, matematika dan IPA. "Sehari satu mata pelajaran," sebut dia.

Setiap jawaban siswa, lanjut Widodo, akan diinput ke dalam database milik sekolah, setelah itu akan upload ke sistem milik Kementerian Pendidikan. "Soal hasil, nanti Kementerian yang mengumumkan," tutupnya.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta, Sopan Adrianto mengatakan, sebanyak 107 SMP menggelar UNBK. Lebih banyak dibanding tahun 2015. "Ada kenaikan 13 persen sekolah yang memanfaatkan UN Berbasis Komputer," ujar Sopan di Jakarta, kemarin.

Sopan menguraikan, jumlah toal SMP Negeri di Jakarta yang mengikuti UN sebanyak 289. "Tahun 2015 hanya satu sekolah yang UNBK, sekarang sudah 38 sekolah," sebut dia.

Sedangkan untuk swasta, lan­jut dia, ada kenaikan 80 persen. "Sekarang menjadi 69 sekolah dari 8 sekolah," tandas dia.

Ia optimis, soal UNBK tidak akan menemui kendala koneksi yang berarti. Sebab, tim ahli IT Kementerian Pendidikan, telah ditempatkan di setiap sekolah yang menggelar UNBK.

"Kita selalu dikawal dengan tim IT Kementerian," tandasnya.

Lebih lanjut, menurut Sopan, bila sesi pagi siswa gagal mengi­kuti UNBK, bisa mengikuti sesi siang. Hal itu dilakukan, karena keterbatasan komputer di setiap sekolah. "Sekolah bisa menye­lenggarakan UN sebanyak tiga shift. Satu komputer dipakai tiga siswa yang terbagi dalam tiga sesi," ucapnya.

Meski terbagi dalam tiga sesi, Sopan menjamin soal UNBK tidak akan bocor karena ber­varias. "Tidak mungkin peserta mendapatkan soal sama, karena berbasis komputer yang memang banyak varian soal."

Selain itu, Sopan juga beru­paya mewujudkan seluruh UN di Jakarta berbasis komputer pada 2017. Caranya, kata dia, bekerjasama dengan sejumlah perguruan tinggi di Jakarta agar meminjamkan komputernya kepada sekolah yang belum memiliki komputer.

Selain itu, pihaknya juga akan mengusahakan subsidi silang komputer antar sekolah. Sehingga, sekolah yang sudah selesai melaksanakan UN seperti SMA, wajib meminjamkan komputernya ke SMP atau SD yang kekurangan.

Terpisah, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menargetkan, tahun de­pan pelaksanaan UN di seluruh sekolah di Jakarta sudah berbasis komputer. "Tahun depan, tidak ada lagi ujian yang mengguna­kan lembar soal dari kertas," ujar Ahok.

Kendati seluruh sekolah men­erapkan UNBK, Ahok menegas­kan, tidak ingin ada pengadaan unit komputer. Untuk menyia­satinya, bekas Bupati Belitung Timur ini ingin sekolah yang kelebihan stok komputer, mem­berikan peralatannya ke sekolah yang kekurangan. "Sistem pinjam lebih baik," pungkasnya. ***

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Ini Pemicu Perubahan Sikap Jokowi ke Prabowo

Minggu, 18 Oktober 2026 | 08:15

Prancis Membara, Demonstran Bakar Gedung Pemerintah hingga Jarah Toko

Minggu, 18 Oktober 2026 | 07:57

OMC di Sumsel Turunkan Polusi Asap dari Kategori Berbahaya

Minggu, 18 Oktober 2026 | 07:40

Kopdes Buka Peluang Kerja dan Usaha bagi Generasi Muda

Minggu, 18 Oktober 2026 | 07:32

Gerindra Pilih Redam Polemik Gibran

Minggu, 18 Oktober 2026 | 07:21

Dua Tahun Rezim Prabowo-Gibran: Double-Track Menuju Swasembada Energi

Minggu, 18 Oktober 2026 | 06:55

Ketum BPP HIPMI Ajak Pelaku Usaha Tetap Optimistis di Tengah Gejolak Pasar

Minggu, 18 Oktober 2026 | 06:23

Seorang Peserta ITB Ultra Marathon 2026 Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 05:47

Desa dalam Otonomi Terpasung

Minggu, 18 Oktober 2026 | 05:21

Operasi Badai Kasuari Sukses Rampas Kembali Persenjataan OPM

Minggu, 18 Oktober 2026 | 04:59

Selengkapnya