Berita

Kivlan Zein:net

Wawancara

WAWANCARA

Kivlan Zein: Kita Terkejut, Jadi Boleh Dikatakan (Yayasan Sukma) Itu Menyalip Di Tikungan

RABU, 04 MEI 2016 | 09:56 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pensiunan jenderal bintang dua TNI ini masuk dalam bari­san tim negosiator pembebasan 10 Warga Negara Indonesia (WNI) yang disandera kelompok teroris Abu Sayyaf. Bersama timnya setelah berhasil mem­bebaskan para sandera itu, dia mengaku terkejut, tiba-tiba dis­alip di tikungan oleh Tim Surya Paloh di Bandara Zamboanga Filipina dengan menjemput 10 WNI yang disandera.

"Tapi ya sudah lah, nggak usah ribut-ributlah," kata Kivlan yang mengaku masih berada di Filipina saat dihubungi Rakyat Merdeka, kemarin. Berikut pen­jelasan Kivlan;

Sebenarnya bagaimana sih proses pelepasan sandera versi Anda?
Waktu disandera 26 Maret, terus tanggal 27 Maret perusahaan sudah mengirim tim runding. Yang satu tim runding yang pakai uang, tanggal 27 Maret, yang satu lagi tim tanpa uang melalui saya.

Waktu disandera 26 Maret, terus tanggal 27 Maret perusahaan sudah mengirim tim runding. Yang satu tim runding yang pakai uang, tanggal 27 Maret, yang satu lagi tim tanpa uang melalui saya.

Kenapa Anda ikut dalam tim itu?
Karena saya sudah kenal wilayah ini, saya tugas di wilayah ini tahun 1995-1996, tugas perdamaian dan gencatan sen­jata. Dan saya punya kawan pemimpin pemberontak MNLF (Moro National liberation Front) Nur Misuari. Karena saya mem­bantu gencatan senjata, sampai damai dan terbentuk wilayah otonomi Autonomous Region in Muslim Mindanao (ARMM) Gubernurnya Nur Misuari. Saya bantu dia. Jadi saya dibantu lewat dia.

Lalu kaitannya dengan para penyandera?

Karena yang menyandera; Alhabsyi Misaya namanya, itu adalah bekas supir dan pengawal istrinya (Nur Misuari) waktu jadi Gubernur. Minta tolong lah saya sama dia (Nur Misuari) itu karena dia (Alhabsyi) be­kas anak buahnya. Pasukan minta dikirim intelijen untuk mengepung supaya para sandera diserahkan secara damai. Dan yang menyandera nanti dikasih yang namanya sedekah.

Sedekah atau tebusan?
Ya itu semacam uang penghibur karena rawat mereka (sandera) hingga makan. Ini dengan cara damai.

Nah terkait dengan uang tebusan itu bagaimana?

Ada lagi yang diutus oleh pe­rusahaan. Itu (tebusan) mintanya 50 juta peso. Sudah disiapkan perusahaan, yang bawa namanya Budiman. Budiman itu ada lima orang jalurnya. Uang itu dikawal juga, naik kapal menuju pulau Basilan, sampai Basilan ternyata tawanannya tidak ada. Itu tang­gal 28. Karena tidak ada tawa­nan balik lagi bawa uangnya ke Zamboanga.

Bagaimana tim Anda bekerja?
Tim saya tujuh orang dari Indonesia. Itu bagian dari op­erasi intelijen antara BAIS TNI bersama intelijen Filipina. Jadi kita dengan pendekatan kekelu­argaan. Kemudian kita mendekati Kepala Desa Panamau dan wa­likota untuk minta tolong.

Kenapa minta tolong ke mereka?

Jadi, mereka ini berkaitan sau­dara. Maka dari itu pendekatan yang kita lakukan kekeluargaan. Itu jalurnya saya.

Jadi Anda tidak ketemu langsung dengan penyanderanya?

Saya memakai yang namanya agen penghubung. Saya su­dah mendekati satu agen yang langsung ketemu dengan para sanderanya. Saya minta tolong supaya dilepas dengan cara damai.

Anda ketemu dengan yayasan Sukma nggak?
Nah pada tanggal 27 tim yang dari yayasan (Yayasan Sukma, afiliasi Surya Paloh) datang. Mereka baru datang 27 April, kita sudah dari 27 Maret masuk. Dan pada tanggal 1 Mei pelepasan pukul 10.00. Pelepasannya itu naik speed­boat dibawa ke pelabuhan Jolo, di Pulau Sulu. Diangkut pakai angkot diserahkan begitu saja di depan rumah Gubernur Toto Tan hujan-hujan. Dari situ datang orang yayasan.

Lalu kenapa tiba-tiba tim dari Yayasan Sukma yang jemput, bagaimana ceritanya?
Di Jolo dilepas saja begitu, tidak ada penyerahan kepada yayasan. Kepada saya juga diberitahukan oleh gubernur. Gubernurnya menerima (sandera), kasih minum dan makan serta pakaian kemudian diserahkan kepada angkatan perang Filipina, kemudian dibawa ke Bandara Kota Jolo diangkut pakai helikopter militer. Dibawa ke pangkalan militer di Kota Zambuanga. Rencananya kita mau bawa ke Manila, ke Duta Besar untuk serah terima, kar­ena itulah prosedurnya. Nah, tiba-tiba kita lihat sudah ada pesawat terbang sipil, baru tahu itu miliknya Nasdem, Pak Surya Paloh. Kemudian dibawa ke Jakarta, karena merasa itu adalah kerja Yayasan Sukma.

Lalu, Anda kemana waktu di Zambuanga?
Tadinya saya mau hadir di situ, tapi karena operasinya op­erasi di bawah tangan, rahasia, operasi intelijen, saya tidak mau hadir di situ. Ada perwakilan kita Mayor Felix ada di Zambuanga yang menerima tawanan, dari kedutaan ada namanya Edi, tiba-tiba di situ hadirlah dari partai dan pesawatnya sudah siap ternyata mau dibawa langsung ke Jakarta, padahal mestinya dibawa ke Manila.

Respons dari perwakilan yang menunggu di sana?

Kita juga terkejut, lho kok tiba-tiba ada begitu. Jadi boleh dikatakan (Yayasan Sukma) me­nyalip di tikungan gitu. ***

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Denny Indrayana Optimistis MK Diskualifikasi Gibran

Senin, 05 Oktober 2026 | 10:05

Harga Minyak Dunia Membara, Rupiah Kembali Dekati Rp18.000 per Dolar AS

Senin, 05 Oktober 2026 | 10:03

Prabowo Pimpin Upacara HUT ke-81 TNI di Cilangkap

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:55

Nonton Film ‘Istimewa’ Bareng Penyandang Disabilitas, Legislator PKS Dorong Kesetaraan

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:49

Masuknya RG Jadi Wantimpres Pelajaran untuk Tak Terlalu Anti Kekuasaan

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:43

Ribuan Prajurit Dikerahkan Dalam HUT ke-81 TNI di Cilangkap

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:34

SBY dan Jokowi Kompak Hadir di Upacara HUT Ke-81 TNI

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:33

IHSG Positif di Awal Perdagangan

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:32

Profil Komandan Upacara HUT Ke-81 TNI Letjen TNI Lucky Avianto

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:18

KPK Telusuri Dugaan Setoran dari Wajib Pajak Sektor Pertambangan di Banjarmasin

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:17

Selengkapnya