Berita

syahganda nainggolan/net

Rajawali Kepret, Rumah Perubahan Dan Perubahan "Rumah"

Catatan Soal Reklamasi
RABU, 20 APRIL 2016 | 07:02 WIB | OLEH: DR. SYAHGANDA NAINGGOLAN*

KEMARIN Rizal Ramli, si Rajawali Kepret, muncul menghiasi televisi, didampingi Menteri Lingkungan Hidup Siti Nurbaya dan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja alias Ahok. Mereka mengumumkan moratorium reklamasi teluk Jakarta dan pembentukan tim bersama inter departemen plus Pemda DKI Jakarta untuk menselaraskan dasar hukum bagi pelanjutan proyek reklamasi tersebut.

Meski Rizal menyampaikan bahwa kelanjutan reklamasi akan memperhitungkan kepentingan negara, rakyat dan komersial, jelas nyata dia tidak sama sekali "mengepret" proyek reklamasi ini, dan juga pemiliknya.

Kepret mengepret ala Rajawali ini memang menarik untuk diselidiki. Ketika dia mengepret projek unggulan Jusuf Kalla (dan Jokowi?) hal listrik 35.000 MW, rakyat hanya jadi penonton. Sebab, debat penting tidak pentingnya angka 35.000 MW itu tidak langsung berurusan dengan rakyat. Maksudnya, rakyat korban secara langsung. Begitu pula kepretan pada proyek Masela dan Freeport.


Kepretan lainnya yang dilakukan Rizal, terkait Menteri Negara BUMN Rini Suwandi. Rizal mempersoalkan rencana pembelian puluhan pesawat Airbus (dan Boeing) PT. Garuda. Selain itu, Rizal mengecam harga jual listrik token yang dinilainya tinggi. Begitu pula, dia mengecam Pelindo yang gagal memenuhi standar kecepatan pelayanan bongkar muat (dwelling time)

Dalam tampilannya, Rizal biasanya mengepret lawannya dengan gagah. Jurus Kepret ini juga dilengkapi dengan pelibatan aktivis-aktivis pro Rizal mengeluarkan statemen di media atau dengan tulisan yang mengutuk Jusuf Kalla, Kuntoro, Sudirman Said sebagai agena-gen neoliberal, mafia proyek dan harus dimusnahkan dari bumi ini.

Rini Suwandi, yang sempat mengalami kepretan, memang sedikit jadi pertanyaan, kenapa kepretannya hanya sekejap saja?Jika dibanding JK

Lalu, mengapa Rajawali Kepret tidak mengepret Ahok atau pengembang atau proyek Reklamasi Jakarta ini?

Rajawali Kepret Dan Rumah Perubahan

Rizal Ramli dan rumah perubahan merupakan satu koin dengan dua sisi. Berbeda dengan Rumah Perubahan versi Rhenald Kasali, Rumah Perubahan ini menghimpun para aktifis dari berbagai generasi, yang umumnya eks aktivis mahasiswa, khususnya angkatan 77/78.

Hampir selama 10 tahun rezim SBY dari "rumah" ini, Rizal membangun pusat gerakan dengan tema Kedaulatan Rakyat. Gerakan-gerakan besar, dengan tema anti neoliberal dijalankan secara intelektual dan gerakan massa. Gerakan intelektual terkait dengan penolakan UU Migas, UU Sumberdaya Air, dan berbagai UU yang dianggap tidak pro rakyat. Sedangkan gerakan massa, Rizal memimpin sendiri gerakan massa mengutuk kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tahun 2008.

Alhasil Rizal selama 10 tahun berhasil menancapkan klaim sebagai satu-satunya mantan aktivis mahasiswa yang dipenjara Orde Baru sebagai pemimpin alternatif bagi perubahan. Perubahan bangsa dari penindasan kapitalis dan ketidakadilan yang disebabkannya, menjadi bangsa yang berdaulat, sesuai ajaran Bung Karno, Trisakti.

Reklamasi Dan Perubahan Rumah

Puluhan lembaga swadaya masyarakat, ratusan tokoh lintas pergerakan, dan ribuan rakyat saat ini menentang keberadaan reklamasi Jakarta.

Mengikuti klaim kerusakan yang digelar aktifis "Save Teluk Benoa", gerakan anti reklamasi Jakarta juga mengeluarkan belasan argumen buruknya reklamasi tersebut. LBH Jakarta, misalnya, merilis 19 kerusakan/keburukan dalam web-nya. Hal ini mencakup kerusakan lingkungan, kerakusan pengembang haus tanah, penggusuran ribuan KK nelayan miskin, penyebab banjir, dan menyerahkan hak eksklusif pantai bagi orang-orang kaya, dan lain-lain.

Kelompok Islam, mengklaim telah terjadi penggusuran simbolik masyarakat Islam dan sejarahnya di pinggiran pantai jakarta.

Kelompok anti imigran China, menilai bahayanya penguasaan pantai jika mayoritas pembeli datang dari RRC. Sebab, sebuah pengembang menawarkan promosi properti ini kepada mereka. Dan lain-lain.

Heroisme LSM dan tokoh-tokoh perjuangan rakyat ini, salah satunya, dilakukan dengan aksi pendudukan Pulau G, beberapa hari yang lalu. Mereka berlayar dari pantai ke pulau tersebut sambil menancapkan bendera serta penyegelan.

Mengapa Rajawali Kepret berbeda dengan basis rakyat yang selama ini mengaguminya? Dan menjadikannya ikon perubahan? Bukankah mereka semua yang selama ini melihat musuh Rizal sebagai musuh mereka? (kapitalis)

Ada tiga hal penting yang mungkin perlu diselidiki.

Pertama, ada tekanan kuat bagi Rizal dalam isu reshuffle kabinet yang hangat saat ini. Di mana Rizal harus berkompromi dengan kekuatan-kekuatan strategis di sekitar Jokowi. Jika tidak berkompromi, bisa dikatakan membangun aliansi strategis.

Kedua, Rizal mentransformasikan diri dari sosok radikal menjadi sosok kompromistis. Hal ini dilakukan untuk mengurangi keributan dalam rezim Jokowi, sekaligus menjalankan fungsinya sebagai menteri kordinasi.

Ketiga, Rizal sudah menemukan "rumah" baru. "Rumah" ini adalah kekuasaan. Bukan lagi pusat gerakan (rumah perubahan). Dalam perjalanan psikologi, dia beradaptasi dengan "rumah" barunya setelah setahun meninggalkan "rumah" lamanya.

Perlu waktu sedikit lagi untuk melihat perubahan sikap. [***]

Penulis adalah peneliti Asian Institute for Information and Development Studies

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Jadi Menperin, Sarmuji Tegaskan akan Lanjutkan Rintisan Agus Gumiwang

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:23

Mengenang Warisan Luhur Pesona Batik Tulungagung di Hari Batik Nasional

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:16

Ketua KPK Ucapkan Selamat kepada Kapolri Jenderal Suyudi, Dorong Sinergi Pemberantasan Korupsi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

MUI: Jangan Sampai Konser “Till The Whole World Knows” Jadi Sarana Propaganda Zionisme

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

BEI Awasi Pergerakan Tiga Saham yang Masuk Radar UMA

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:49

KPK Ungkap Besaran Uang Silmy Karim ke Dosen UB Saat Bimbingan Doktoral

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Garuda Tantang Gajah Perang di Final FIFA ASEAN Cup 2026

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Emas Antam Mulai Turun Hari Ini, Intip Daftar Lengkapnya

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:14

Dua Tahun Danantara, Efisiensi BUMN Digenjot untuk Kejar Pertumbuhan

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:02

Harga Minyak Naik Lagi ke Level 102 Dolar AS

Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:59

Selengkapnya