Berita

Hukum

Demonstran: Prasetyo Tak Paham Hukum, BW Dan AS Palsu

KAMIS, 18 FEBRUARI 2016 | 16:59 WIB | LAPORAN:

Kejaksaan Agung kembali dikritik terkait rencana pengesampingan perkara demi kepentingan umum (deponering) terhadap kasus mantan Komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad dan Bambang Widjojanto, serta penyidik KPK Novel Baswedan.

Puluhan demonstran yang tergabung dalam Mahasiswa, Pemuda dan Rakyat Penyelamat Hukum (MPR-PH), memperingatkan Kejagung agar dalam penegakan hukum mempertimbangkan kepentingan yang lebih besar yakni kepentingan bangsa dan negara, bukan kepentingan individual.

"Jangan-jangan Prasetyo tidak paham hukum. Prasetyo adalah orang pertama yang memimpin Kejagung yang melanggar peraturan Kejagung sendiri," ujar salah seorang demonstran Abdul Azis dalam aksinya di depan Kejagung, Kamis (18/2).


Padahal menurut dia, syarat utama memberikan deponering ialah demi kepentingan umum dan setelah memperhatikan saran dan pendapat dari badan-badan kekuasaan negara yang berhubungan dengan masalah tersebut.

"Yang dimaksud kepentingan umum adalah kepentingan bangsa dan negara atau kepentingan masyarakat luas, mendeponering kasus tersebut jelas tidak termasuk dalam kepentingan umum," ungkap Azis.

Oleh sebab itu, mereka menganggap Prasetyo tidak mengerti hukum karena mengindahkan persyaratan dalam memberikan deponering kepada oknum yang melakukan pelanggaran hukum.

Selain mengkritisi Jaksa Agung, para demonstran juga membakar topeng mantan pemimpin dan penyidik KPK yakni Abraham Samad, Bambang Widjojanto dan Novel Baswedan.

Aksi pembakaran yang mereka lakukan tersebut sebagai bentuk perlawanan terhadap sikap palsu yang dilakukan oleh ketiga mantan anggota KPK tersebut.

"Ini merupakan bentuk perlawanan dari kami, perlawanan atas kepalsuan yang telah mereka berikan selama ini," tegas Abdul.

Kepalsuan yang dimaksud ialah sosok yang mulanya diagung-agungkan dalam melawan korupsi tersebut, ternyata juga memiliki kasus masing-masing.an korupsi tersebut, ternyata juga memiliki kasus masing-masing.[dem]

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Awal Pekan, Harga Emas Antam Terpantau Turun ke Rp2.668.000 per Gram

Senin, 22 Juni 2026 | 10:21

Harta Zita Anjani Melonjak Rp100 Miliar, Hari Purwanto: Mungkin Menang Lotre

Senin, 22 Juni 2026 | 10:11

Emas Antam Mandek di Awal Pekan, Satu Gram Rp2,6 Juta

Senin, 22 Juni 2026 | 09:49

Bajak Kader Partai Lain, PSI Dinilai Tetap Berpotensi Jadi Partai Gurem

Senin, 22 Juni 2026 | 09:43

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan Rp17.812 per Dolar AS

Senin, 22 Juni 2026 | 09:30

Dolar AS Menguat di Tengah Amblesnya Yen dan Poundsterling

Senin, 22 Juni 2026 | 09:20

Trump Sebut Starmer Gagal, Isu Pengunduran Diri PM Inggris Kian Menguat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:11

Gibran Ingin Layanan Kesehatan di Wilayah 3T Diperkuat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:00

Rayakan HUT ke-499, Jakarta Berikan Tarif Spesial Rp1 untuk MRT, LRT, dan TransJakarta Hari Ini

Senin, 22 Juni 2026 | 08:47

Bakal Turun Gunung Bareng PSI, Jokowi Dinilai Sulit Lepas dari Bayang-bayang Kekuasaan

Senin, 22 Juni 2026 | 08:46

Selengkapnya