Publik media sosial ramai memperbincangkan DR Eng Warsito Purwo Taruno, terkait sikap Kementerian Kesehatan yang beÂlum mengizinkan penggunaan alat terapi pengobatan kanker temuan doktor lulusan Shizuoka University Jepang itu. PadaÂhal, sejumlah negara dan institusi internasional bonafit nganÂtre ingin memanfaatkan teknologi temuan DR Eng Warsito.
Netizen ramai membicarakan sosok penemu alat terapi kanker "Electro-Capacitive Cancer Therapy" (ECCT), DR Eng Warsito. Kabarnya, pendiri dan Ketua Umum Masyarakat Ilmuwan dan Teknologi Indonesia itu hengkang dari Indonesia, karena tidak mendaÂpat izin Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk memanfaatkan tekhnologi temuannya.
Perjuangan Warsito mengembangkan penelitian guna menanggulangi kanker penuh liku. Warsito mengaku, ECCT temuannya sudah dipakai NASA untuk keperluan anÂtariksa. Namun dia tidak menepis bahwa teknologi temuannya masih kontroversial.
Kisah itu dia posting pada akun Facebook miliknya, Senin (30/11/2015) lalu. Karena postinÂgan itu, Warsito mengaku mendaÂpat surat peringatan dari sebuah inÂstansi pemerintah yang memintanya menghentikan riset.
Berhembus kabar Warsito hengÂkang dari Indonesia. Kabar ini muncul menyusul postingannya di Facebook. "Warsawa adalah kota kelahiran Marie Curie, fisikawan, penemu polon dan radon. Satu-satunya wanita yang meraih Nobel dua kali, pionir radio terapi 100 tahun lebih yang lalu. Sekarang, kami memulai pelatihan ECCT inÂternasional pertama untuk pengobaÂtan kanker dari tempat pertama kali Curie
Intitute of Oncology, Warsawa didirikan," tulisnya.
Netizen pun heboh, menduga Warsito hengkang dari Indonesia, karena diminta menghentikan riset oleh instansi berwenang. Netizen ramai membicarakannya. Pada umÂumnya netizen mendukung Warsito melanjutkan riset, serta menyesalkan ketidakberpihakan pemerintah.
Ribuan pengguna
Kaskus. co.id membicarakan Warsito melaÂlui 15 judul pembahasan. Sedikitnya 50.000 pengguna kaskus menyamÂpaikan pendapat.
Di antaranya, pengguna akun Anto13666 yang berharap pemerintah secepatnya memberikan izin penggunaan ECCT. "Semoga izinnya dikasih. Dia mau menolong orang saja susah banget," tulisnya.
Akun 71.e menilai pemerintah kurang menghargai inovasi tekhÂnologi, "Inilah negeri ku Indonesia. Di mana orang jenius yang berkonÂtribusi untuk negara tidak dihargai, sementara koruptor dipelihara & dilindungi."
Senada disampaikan akun SHIVANANDA. "Geblek, si jenius dipingÂgirkan, perusak moral dibiarkan, semoga penguasa tak berasaskan pengusaha, hanya rakus karena harta tapi tak punya rasa, penemuan beliau bisa membantu sesama, kanker menÂjadi sirna," tulisnya.
Akun enjoy.jak menilai pemerinÂtah menghambat inovasi teknologi. "Sadis ya gan, pemerintah sekarang nggak ada yang mendukung karya anak bangsa, semua dijegal semua dibatasi, bagaimana mau maju, palÂing yang maju korupsi," cibirnya.
Ada juga netizen yang menganjurÂkan Warsito hengkang dari Indonesia untuk mengembangkan temuannya. "Pindah keluar negeri ajah pa dokÂtor, karyamu lebih dihargain di sana," usul akun phosphate.
Sementara itu, sebagian kecil neÂtizen tampaknya memahami alasan pemerintah meminta Warsito menghÂentikan penggunaan alat temuannya untuk mengobati penderita kanker di klinik miliknya. "Bukan sekadar karena Pak Warsito mau meneliti tapi dihambat. Semua ada aturannya. Mau hijrah ke luar negeripun sama juga jatuhnya," katanya.
Akun rachmacool juga menyampaiÂkan hal senada. "Bukannya memang belum terbukti ya penelitiannya di bidang medis? Kan dia doktor bukan dokter. Dia dapat penghargaan bukan dari institusi medis," ujarnya.
Pembaca media massa online juga menaruh perhatian pada Warsito.
Misalnya, akun Mohd meminta Warsito terus mengembangkan temuannya tersebut, meskipun harus ke luar negeri.
"Saya lebih mendukung Pak Warsito kembangkan setinggi-tingÂginya temuan beliau di luar negeri daripada direcoki oknum Kemenkes yang nggak paham kaidah ilmiah itu!" serunya.
Akun Dumat mempertanyakan, apakah pihak yang mereview temuan Warsito memiliki kemampuan mumÂpuni. "Itu yang review apa kapasitas ilmunya udah setara Dr Warsito? Koq berlagak sekali mengatakan temuan seorang doktor dari Jepang sebagai 'belum bisa disimpulkan keamanan dan manfaatnya,' sementara NASA dan lembaga-lembaga lain sudah antre mau memakai jasa pemikiran beliau! Jangan sok-sok-an lah!" ujarnya.
Secara terpisah, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Muhammad Nasir membantah kabar yang menyebutkan Warsito hengkang ke luar negeri. "Warsito itu belum ke luar negeri. Sekarang saja saya juga pakai alatnya beliau dalam kaitannya bagaimana untuk pengurusan badan," kata Nasir.
Menurut Nasir, pihaknya juÂga sudah membicarakan dengan Kementerian Kesehatan terkait izin klinik dan penggunaan alat terapi tersebut. Nasir juga ingin menyampaikan kepada Presiden Joko Widodo soal sinkronisasi hasil penelitian dengan kementerian-kementerian terkait.
Sebelumnya, Pelaksana Tugas Kepala Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan, Tritarayati mengatakan, hasil evaluasi tim review menunjukkan, ECCT belum bisa disimpulkan keamanan dan manÂfaatnya.
Tim review tersebut terdiri dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, dan Komite Penanggulangan Kanker Nasional. "Penelitian ECCT akan dilanjutkan sesuai dengan kaidah pengembanÂgan alat kesehatan sesuai standar," kata Tritarayati. ***