Berita

DR Eng Warsito Purwo Taruno:net

NASA & Lembaga Dunia Antre, Kok Kemenkes Malah Menjegal

Soal Teknologi Terapi Kanker Temuan Dr Eng Warsito
KAMIS, 18 FEBRUARI 2016 | 09:21 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Publik media sosial ramai memperbincangkan DR Eng Warsito Purwo Taruno, terkait sikap Kementerian Kesehatan yang be­lum mengizinkan penggunaan alat terapi pengobatan kanker temuan doktor lulusan Shizuoka University Jepang itu. Pada­hal, sejumlah negara dan institusi internasional bonafit ngan­tre ingin memanfaatkan teknologi temuan DR Eng Warsito.

Netizen ramai membicarakan sosok penemu alat terapi kanker "Electro-Capacitive Cancer Therapy" (ECCT), DR Eng Warsito. Kabarnya, pendiri dan Ketua Umum Masyarakat Ilmuwan dan Teknologi Indonesia itu hengkang dari Indonesia, karena tidak menda­pat izin Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk memanfaatkan tekhnologi temuannya.

Perjuangan Warsito mengembangkan penelitian guna menanggulangi kanker penuh liku. Warsito mengaku, ECCT temuannya sudah dipakai NASA untuk keperluan an­tariksa. Namun dia tidak menepis bahwa teknologi temuannya masih kontroversial.


Kisah itu dia posting pada akun Facebook miliknya, Senin (30/11/2015) lalu. Karena postin­gan itu, Warsito mengaku menda­pat surat peringatan dari sebuah in­stansi pemerintah yang memintanya menghentikan riset.

Berhembus kabar Warsito heng­kang dari Indonesia. Kabar ini muncul menyusul postingannya di Facebook. "Warsawa adalah kota kelahiran Marie Curie, fisikawan, penemu polon dan radon. Satu-satunya wanita yang meraih Nobel dua kali, pionir radio terapi 100 tahun lebih yang lalu. Sekarang, kami memulai pelatihan ECCT in­ternasional pertama untuk pengoba­tan kanker dari tempat pertama kali Curie Intitute of Oncology, Warsawa didirikan," tulisnya.

Netizen pun heboh, menduga Warsito hengkang dari Indonesia, karena diminta menghentikan riset oleh instansi berwenang. Netizen ramai membicarakannya. Pada um­umnya netizen mendukung Warsito melanjutkan riset, serta menyesalkan ketidakberpihakan pemerintah.

Ribuan pengguna Kaskus. co.id membicarakan Warsito mela­lui 15 judul pembahasan. Sedikitnya 50.000 pengguna kaskus menyam­paikan pendapat.

Di antaranya, pengguna akun Anto13666 yang berharap pemerintah secepatnya memberikan izin penggunaan ECCT. "Semoga izinnya dikasih. Dia mau menolong orang saja susah banget," tulisnya.

Akun 71.e menilai pemerintah kurang menghargai inovasi tekh­nologi, "Inilah negeri ku Indonesia. Di mana orang jenius yang berkon­tribusi untuk negara tidak dihargai, sementara koruptor dipelihara & dilindungi."

Senada disampaikan akun SHIVANANDA. "Geblek, si jenius diping­girkan, perusak moral dibiarkan, semoga penguasa tak berasaskan pengusaha, hanya rakus karena harta tapi tak punya rasa, penemuan beliau bisa membantu sesama, kanker men­jadi sirna," tulisnya.

Akun enjoy.jak menilai pemerin­tah menghambat inovasi teknologi. "Sadis ya gan, pemerintah sekarang nggak ada yang mendukung karya anak bangsa, semua dijegal semua dibatasi, bagaimana mau maju, pal­ing yang maju korupsi," cibirnya.

Ada juga netizen yang menganjur­kan Warsito hengkang dari Indonesia untuk mengembangkan temuannya. "Pindah keluar negeri ajah pa dok­tor, karyamu lebih dihargain di sana," usul akun phosphate.

Sementara itu, sebagian kecil ne­tizen tampaknya memahami alasan pemerintah meminta Warsito mengh­entikan penggunaan alat temuannya untuk mengobati penderita kanker di klinik miliknya. "Bukan sekadar karena Pak Warsito mau meneliti tapi dihambat. Semua ada aturannya. Mau hijrah ke luar negeripun sama juga jatuhnya," katanya.

Akun rachmacool juga menyampai­kan hal senada. "Bukannya memang belum terbukti ya penelitiannya di bidang medis? Kan dia doktor bukan dokter. Dia dapat penghargaan bukan dari institusi medis," ujarnya.

Pembaca media massa online juga menaruh perhatian pada Warsito.

Misalnya, akun Mohd meminta Warsito terus mengembangkan temuannya tersebut, meskipun harus ke luar negeri.

"Saya lebih mendukung Pak Warsito kembangkan setinggi-ting­ginya temuan beliau di luar negeri daripada direcoki oknum Kemenkes yang nggak paham kaidah ilmiah itu!" serunya.

Akun Dumat mempertanyakan, apakah pihak yang mereview temuan Warsito memiliki kemampuan mum­puni. "Itu yang review apa kapasitas ilmunya udah setara Dr Warsito? Koq berlagak sekali mengatakan temuan seorang doktor dari Jepang sebagai 'belum bisa disimpulkan keamanan dan manfaatnya,' sementara NASA dan lembaga-lembaga lain sudah antre mau memakai jasa pemikiran beliau! Jangan sok-sok-an lah!" ujarnya.

Secara terpisah, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Muhammad Nasir membantah kabar yang menyebutkan Warsito hengkang ke luar negeri. "Warsito itu belum ke luar negeri. Sekarang saja saya juga pakai alatnya beliau dalam kaitannya bagaimana untuk pengurusan badan," kata Nasir.

Menurut Nasir, pihaknya ju­ga sudah membicarakan dengan Kementerian Kesehatan terkait izin klinik dan penggunaan alat terapi tersebut. Nasir juga ingin menyampaikan kepada Presiden Joko Widodo soal sinkronisasi hasil penelitian dengan kementerian-kementerian terkait.

Sebelumnya, Pelaksana Tugas Kepala Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan, Tritarayati mengatakan, hasil evaluasi tim review menunjukkan, ECCT belum bisa disimpulkan keamanan dan man­faatnya.

Tim review tersebut terdiri dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, dan Komite Penanggulangan Kanker Nasional. "Penelitian ECCT akan dilanjutkan sesuai dengan kaidah pengemban­gan alat kesehatan sesuai standar," kata Tritarayati. ***

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Prabowo-Pramono Pasangan Kuat Luar Dalam

Sabtu, 04 April 2026 | 06:08

Ancaman Cuaca Ekstrem dan Air Bersih Warga

Sabtu, 04 April 2026 | 05:40

Batas ‘Scroll’ Anak

Sabtu, 04 April 2026 | 05:14

Jangan Keliru Pahami Langkah Prabowo soal Kunjungan ke Luar Negeri

Sabtu, 04 April 2026 | 05:12

Vicky Mundur dari Polisi, Kasus yang Ditangani juga Ikutan Mundur

Sabtu, 04 April 2026 | 04:38

Satu Orang Tewas Imbas Kecelakaan Beruntun di Tol Solo-Semarang

Sabtu, 04 April 2026 | 04:03

Negara Harus Tegas atas Gugurnya Tiga Prajurit TNI

Sabtu, 04 April 2026 | 04:00

Mobil Tertimpa Pohon Tumbang di Bandung, Sopir Tewas

Sabtu, 04 April 2026 | 03:38

IAW Peringatkan Potensi Kebocoran Lebih Besar di Bea Cukai

Sabtu, 04 April 2026 | 03:26

Dedi Mulyadi Lunasi Tunggakan Gaji Pegawai Bandung Zoo

Sabtu, 04 April 2026 | 03:03

Selengkapnya