Berita

nasaruddin umar:net

RELIGIOUS-HATE SPEECH (39)

Pernyataan Sembrono

SENIN, 15 FEBRUARI 2016 | 09:30 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

PERNYATAAN sembrono tentang agama orang lain bisa dianggap Religious-Hate Speech (RHS). Pernyataan sebrono bisa muncul dalam bentuk pernyataan lisan, tu­lisan, ukiran, pamphlet, dan karikatur. Kita tentu masih ingat Salman Rushdie, se­orang warganegara Inggeris keturunan India, pernah mendapatkan fatwa hukuman mati dari Ayatollah Khomeini, pemimpin spiritual tertinggi Iran dalam tahun 1989, yang hingga kini belum dicabut. Pernyataannya di dalam buku The Sa­tanic Verses dinilai menghina Nabi Muhammad Saw. Semenjak itu Salman Rushdi hidup di da­lam persembunyian, karena menghebohkan dan membuat umat Islam marah terhadapnya. Ka­sus yang sama juga muncul ketika Renald Luzier membuat kartun Nabi Muhammad di dalam cover majalah Charlie Hebdo pada edisi Januari 2015 lalu. Akibat karukatur tersebut sudah menelan banyak korban, termasuk 12 orang tewas ketika dua pria bersenjata menyerang dan menemba­ki kantor redaksi Charlie Hebdo pada beberapa waktu lalu.

Di dalam negeri juga pernah terjadi beberapa kasus yang sangat disesalkan karena pernyataan tokoh masyarakat yang berbau SARA, khususnya yang menyingkut agama. Pernyataan Pendeta Antonius R.Bawengan yang menghi­na agama Islam dan Kristen menyulut kerusu­han karena hukumannya dinilai terlalu ringan. Pernyataan Pak Ahok beberapa waktu lalu juga mengundang demo dari sejumlah ormas Islam karena dinilai membuat pernyataan yang dinilai menghina Islam. Di beberapa daerah juga sejum­lah pejabat dan tokoh masyarakat pernah mem­berikan pernyataan yang berbau SARA dan men­jadi pemicu terjadinya konflik terbuka.

Dari berbagai pengalaman tersebut di atas maka sebaiknya menjadi pelajaran berharga bagi bangsa ini bahwa siapapun yang memiliki status social lebih tinggi di dalam masyarakat untuk berhati-hati memberikan pernyataan kar­ena pengaruhnya bisa di luar dugaan, memicu konflik terbuka. Dalam masyarakat yang sudah sarat dengan berbagai ketidak adilan, ibaratnya alang-alang kering yang gampang disulut api dan menimbulkan kebakaran luas.


Di dalam Islam ditegaskan beberapa ayat dan hadis agar siapapun jangan sembarangan mem­buat pernyataan yang tidak perlu, seperti meng­hasut dan memprfikasi. Hampir semua ayat da­lam Q.S. al-Hujurat/49, khususnya ayat 11-16, memberikan peringatan kepada siapapun untuk berhati-his juga ati membuat pernyataan. Dalam hadis juga ditegaskan: "Barang siapa yang beri­man kepada Allah dan Hari Kiamat maka berikan­lah pernyataan yang baik atau lebih baik diam". Tentu agama-agama lain juga memiliki dasar yang sama, bahwa pernyataan yang menista dan memprofokasi sebaiknya dihindari.

Pernyataan yang berisi penistaan dan profoka­si sesungguhnya melanggar aturan sebagaima­na diatur di dalam UU PNPS No. 1 Tahun 1965, pasal 1 dan 2 sebagai berikut: (1) Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan du­kungan umum, untuk melakukan penafsiran ten­tang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan keagamaan dari agama itu, penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu. (2) Barang siapa melanggar ketentuan terse­but dalam pasal 1 diberi perintah dan peringatan keras untuk menghentikan perbuatannya itu di dalam suatu keputusan bersama Menteri Agama, Menteri/Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri. Apabila pelanggaran tersebut dalam ayat (1) di­lakukan oleh organisasi atau sesuatu aliran ke­percayaan, maka Presiden Republik Indonesia dapat membubarkan organisasi itu dan menya­takan organisasi atau aliran tersebut sebagai organisasi/aliran terlarang, satu dan lain setelah Presiden mendapat pertimbangan dari Menteri Agama, Menteri/Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri. ***

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

IHSG Terkoreksi 1,97 Persen, Mayoritas Saham Berakhir di Zona Merah

Jumat, 06 November 2026 | 12:31

Ekonom Soroti Potensi Konflik Kepentingan CIO Danantara

Jumat, 06 November 2026 | 12:22

Menperin Ungkap Strategi Hadapi Tekanan Industri Tembakau

Jumat, 06 November 2026 | 12:11

Ketum Partai dan Pejabat yang Terlibat Penyadapan Presiden Harus Jadi Tersangka

Jumat, 06 November 2026 | 12:01

Di Tengah Polemik Ijazah, Pengaruh Politik Jokowi Masih Jadi Perhatian

Jumat, 06 November 2026 | 11:51

Bantah Narasi Deindustrialisasi, Menperin: Industri RI Tidak Gelap

Jumat, 06 November 2026 | 11:40

Indonesia-Somalia Bahas Peluang Kerja Sama Perikanan hingga Keamanan Maritim

Jumat, 06 November 2026 | 11:34

Cokbang Buka Peluang Ekonomi Baru dari Kakao Sabang

Jumat, 06 November 2026 | 11:30

KPK Periksa Komisaris PT Murakabi Media Indonesia di Kasus Asuransi Pelni

Jumat, 06 November 2026 | 11:29

Utang Paylater Masyarakat di Bank Tembus Rp31,5 Triliun hingga September 2026

Jumat, 06 November 2026 | 11:16

Selengkapnya