Berita

ilustrasi/net

Bisnis

Haposan Napitupulu: Tuduhan Faisal Basri Tidak Berdasar!

MINGGU, 31 JANUARI 2016 | 17:32 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Ekonom Faisal Basri menuduh pengembangan Blok Masela dengan kilang LNG di darat dapat menguntungkan Grup Bakrie. Faisal Basri mencurigai proyek perpipaan yang menyertai pengembangan kilang LNG darat dikerjakan oleh grup bisnis pimpinan Aburizal Bakrie (ARB) tersebut.

Terhadap tuduhan ini tenaga ahli Kemenko Maritim dan Sumber Daya DR. Haposan Napitupulu dengan tegas membantahnya.

"Tuduhan FB (Faisal Basri) tidak berdasar sama sekali! Pengembangan kilang LNG darat dengan mengalirkan gas melalui jalur pipa dari lapangan Abadi ke Pulau Selaru yang berjarak 90 Km, membutuhkan jenis pipa khusus yang memenuhi beberapa persyaratan teknis yang tidak mampu dipenuhi speknya oleh Grup Bakrie selaku produsen pipa," kata Haposan dalam keterangannya, Minggu (31/1).


Pipa yang dibutuhkan, jelasnya, harus mampu menahan tekanan air di dasar laut di kedalaman sekian ribu meter, tahan terhadap proses korosi yang terjadi di dasar laut, tahan menahan timbunan longsoran di dasar laut dan flexible mengantisipasi tekanan arus air di dasar laut.
 
Menurut doktor di bidang teknik perminyakan ini, jenis pipa yang memenuhi persyaratan-persyaratan tersebut hingga saat ini belum diproduksikan di Indonesia, termasuk oleh Grup Bakrie sekalipun. Atau dengan kata lain, seluruh perpipaan untuk kilang LNG darat masih perlu diimpor.

Selain itu Haposan juga mengoreksi pernyataan Faisal Basri yang menyebut bagi hasil gas di Blok Masela adalah 70% untuk pemerintah dan 30% untuk kontraktor.

"Pernyataan bahwa skema floating akan memberikan pendapatan bagian pemerintah 70% dan swasta 30% muncul adalah karena yang bersangkutan (FB) tidak memahami tentang PSC (production sharing contract). Yang benar, bagian Pemerintah yang diperoleh setelah gross produksi  dikurangi oleh cost recovery dan bagi hasil, untuk Blok Masela adalah 60% untuk pemerintah dan 40 % untuk kontraktor."

Haposan melanjutkan, memang umumnya bagi hasil untuk gas adalah 70/30 namun khusus di Blok Masela bagi hasilnya adalah 60/40 karena blok ini dikategorikan blok frontier yang risiko eksplorasinya tinggi. Selain itu, prosentase bagian pemerintah sangat bergantung kepada harga jual LNG yang diikat dengan harga minyak dunia.

"Makin rendah harga minyak dunia, maka makin besar volume cost recovery sehingga makin kecil pula bagian pemerintah," tukasnya.[dem]

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

UPDATE

SGU Gandeng Poltek SSN Perkuat Pendidikan Siber Keamanan

Rabu, 29 Juli 2026 | 02:09

Jokowi Bohong soal 54 Kali Ajak Makan Siang PKL Solo

Rabu, 29 Juli 2026 | 02:02

Sentralisasi Hambat Otonomi Daerah

Rabu, 29 Juli 2026 | 01:49

Kejagung Periksa Tujuh Saksi Kasus TPPU Febrie, Empat Penyidik Polri

Rabu, 29 Juli 2026 | 01:05

Terungkap Jokowi Ikut Dirikan Gerindra di Solo Jelang Pemilu 2009

Rabu, 29 Juli 2026 | 01:00

Satgas Jaga Jakarta dan FKDM Jangan Loyo Antisipasi Tawuran Warga

Rabu, 29 Juli 2026 | 00:28

Polda Metro Jaya Bongkar Sindikat Pengedar Etomidate

Rabu, 29 Juli 2026 | 00:24

Beredar Hasil Survei 32 Capres 2029

Rabu, 29 Juli 2026 | 00:02

DKPP Putus Perkara Helikopter KPU pada 29 Juli

Selasa, 28 Juli 2026 | 23:23

GOR Ciracas Diserbu 3.190 Pelamar Kerja

Selasa, 28 Juli 2026 | 23:05

Selengkapnya