Berita

Pengunduran Diri Maroef Sjamsoeddin Momentum Mengevaluasi Freeport

SELASA, 19 JANUARI 2016 | 12:57 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

‎RMOL. Pemerintah harus menjadikan pengunduran diri Maroef Sjamsoedin dari kursi Presiden Direktur PT Freeport Indonesia sebagai momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap Freeport.

"Pemerintah harus melakukan evaluasi terbuka bersama seluruh stake holder, unsur masyarakat dan para ahli untuk menghasilkan rekomendasi keputusan dalam rangka mengambil kebijakan atas nasib Freeport," kata Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia, Ferdinand Hutahaean, Selasa (19/1).

Menurut dia ada beberapa hal yang perlu dibahas pasca mundurnya Maroef. Pertama soal divestasi saham, apakah harus diambil pemerintah atau ditolak? Apakah nilainya terlalu tinggi atau tidak? Dan, apa urgensi mengambil divestasi saham di tengah merosotnya harga saham Freeport?

Kedua, terkait kelanjutan operasi Freeport, apakah Indonesia mampu secara teknologi dan finansial untuk meneruskan tambang Freeport? Jika tidak mampu, apa solusinya?

Hal lain yang juga penting terkait berapa cadangan komoditi yang masih tersisa pada tambang Freeport?

Pertanyaan-pertanyaan ini, kata Ferdinand, akan menghasilkan kesimpulan bagaimana pemerintah harus bersikap. Satu hal yang juga perlu dicermati oleh pemerintah adalah manuver manuver yang dilakukan oleh pihak Amerika dan Freeport di Papua dan dikancah internasional.

"Kita perlu waspada jangan sampai isu kontrak Freeport bergeser kepada isu politik internasional dan lokal," tukasnya.

Kabar Marsda TNI (Purn) Maroef Sjamsoeddin mundur dari jabatan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia diketahui dalam surat Interoffice Memorandum PT Freeport Indonesia Management yang beredar di kalangan media, tadi malam. Dalam surat tertulis pemberitahuan pengunduran diri Maroef pada tanggal 18 Januari 2016.

Pada Desember 2015 lalu, Direktur Utama (Executive Chairman) sekaligus pendiri perusahaan Freeport-McMoRan, James R. Moffett, lebih dulu mengundurkan diri dari jabatanya. Hal ini menyusul terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) massal dan jatuhnya harga komoditas perusahaan tambangnya.[dem]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Tourism Malaysia Gencarkan Promosi Wisata di Tiga Kota Indonesia

Selasa, 28 April 2026 | 10:20

DPR Desak Evaluasi Nasional Perlintasan Sebidang Usai Tabrakan Kereta di Bekasi

Selasa, 28 April 2026 | 10:13

Bus Shalawat Gratis 24 Jam Disiapkan untuk Jemaah Haji di Makkah

Selasa, 28 April 2026 | 10:09

Update Korban Jiwa Tabrakan KA di Bekasi Bertambah Jadi 14 Orang

Selasa, 28 April 2026 | 10:00

Prabowo Minta Segera Investigasi Kasus Tabrakan Kereta Bekasi

Selasa, 28 April 2026 | 09:56

Lokomotif Argo Bromo Berhasil Dipindahkan, Tim SAR Fokus Evakuasi Korban

Selasa, 28 April 2026 | 09:53

Purbaya Pede IHSG Bisa Terbang 28.000, Pasar Langsung Terkoreksi

Selasa, 28 April 2026 | 09:51

Dinamika Global Tekan Indeks DXY ke Level 98,45 Jelang Keputusan Federal Reserve

Selasa, 28 April 2026 | 09:48

Kopdes Jadi Instrumen Capai Nol Kemiskinan Ekstrem

Selasa, 28 April 2026 | 09:39

Imbas Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Belasan Perjalanan KA Jarak Jauh dari Jakarta Resmi Dibatalkan

Selasa, 28 April 2026 | 09:27

Selengkapnya