Berita

foto: net

Pemerintah Tidak Boleh Lemah Soal Keamanan Papua

SELASA, 29 DESEMBER 2015 | 08:19 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Pemerintah harus mengkaji ulang kebijakannya terkait keamanan di Papua. Sebab, penembakan demi penembakan terus terjadi sepanjang tahun ini.

"Penembakan terhadap Polsek Sinai (Kabupaten Puncak, Papua) sangat patut disesalkan. Kita kecewa. Pemerintah harus mengkaji ulang kebijakannya terkait keamanan di Papua. Kenapa ini tidak selesai-selesai," kata Anggota Komisi I DPR, Ahmad Zainuddin, Selasa (29/12).

Menurut Zainuddin, kebijakan yang dilakukan pemerintah tidak cukup efektif meredam hingga melenyapkan tindakan terorisme dan separatisme di Bumi Cendrawasih. Penembakan oleh sekelompok bersenjata yang menewaskan tiga anggota Polsek Sinai Papua pada Minggu (27/12) menambah panjang rentetan krisis keamanan di Papua.


Wakil Ketua Fraksi PKS MPR ini mengatakan, tindakan seperatisme di Papua sudah berlangsung lama. Konflik asimetris di Papua menurutnya, tidak akan berlangsung lama jika negara melakukan kebijakan tegas terhadap kelompok-kelompok separatis dan dibarengi diplomasi konprehensif di tingkat internasional. Dia mencontohkan, keberadaan kantor perwakilan OPM di beberapa negara asing, 'kebebasan' peringatan Papua merdeka dengan mengibarkan bendera Bintang Kejora, hingga bebasnya media asing masuk ke Papua adalah beberapa contoh lemahnya kebijakan dalam negeri dan diplomasi luar negeri Indonesia.

"Kelompok-kelompok bersenjata ini seakan semakin berani menantang NKRI, yang tidak terjadi sebelumnya. Apa artinya? Helikopter Kapolda Papua saja mereka tembaki, sehari setelah mereka menembaki anggotanya," geram Zainuddin.

Dalam konflik asimetris yang mengancam kedaulatan negara, Zainuddin menekankan agar pemerintah tidak lemah dan kalah. Jika akar persoalan Papua adalah kesejahteraan, menurut Zainuddin, serangkaian solusi sudah dilakukan oleh pemerintah. Namun eskalasi krisis keamanan tidak mengendur di Papua.

Pemerintah menurutnya, perlu melakukan strategi baru agar gangguan keamanan di Papua tidak terulang lagi di masa mendatang, dan pembangunan serta kesejahteraan dapat dilakukan dengan baik dan lancar.

"Saya duga ini berkaitan dengan Freeport. Karena itu harus ada kebijakan progressif dan berani dari negara dalam masalah Papua. Konflik di Papua sudah berdimensi pertahanan dan kedaulatan. Pemerintah jangan gagal memutus akar masalah di Papua," tukas Zainuddin. [rus]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

UPDATE

Adab di Atas Selebrasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 04:12

Belgia vs Mesir Berbagi Skor 1-1

Selasa, 16 Juni 2026 | 04:10

Pidato Bernuansa Sindiran Berpotensi Memicu Reaksi Balik Publik

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:39

Membongkar Skandal #SellIndonesia, Hebatnya Rupiah Menguat

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:19

Edura School Jawab Tantangan Guru di Era Digital

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:03

SEI Bongkar Dampak Kebijakan Batu Bara Bahlil: Pasokan Tersendat, Listrik Alami Gangguan!

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:37

Mahfud MD: UU Polri Abaikan Komisi Reformasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:24

ART Indonesia Disiksa Mirip Samsak Tinju di Malaysia

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:01

Kerja Prabowo Sudah Bagus, tapi Jangan Pidato Meledek Lagi

Selasa, 16 Juni 2026 | 01:29

Sambut 1 Muharam Setop Saling Fitnah dan Provokasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 01:25

Selengkapnya