Berita

jusuf kalla/net

KISRUH FREEPORT

Sinyal JK Sebuah Persekongkolan Jahat

MINGGU, 20 DESEMBER 2015 | 13:56 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Keberadaan perusahaan asing di Indonesia sebenarnya tidak masalah, sepanjang memberikan keuntungan bagi rakyat dan bangsa.

Demikian diungkapkan pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Pangi Syarwi Chaniago kepada redaksi, Minggu (20/12).

Menurut Pangi, kalau PT. Freeport Indonesia memberikan keuntungan yang lebih besar, publik dan pemerintah tidak akan masalah kontraknya diperpanjang. Tapi kalau hanya memberikan royalti 1 persen, itu jelas-jelas melanggar konstitusi dan UUD 1945.


Soal pernyataan Wakil Presiden M. Jusuf Kalla yang seakan-akan memberikan sinyal akan memperpanjang kontrak Freeport, Pangi melihatnya sebuah persekongkolan jahat.

"Sinyal perpanjangan kontrak oleh JK jelas sebuah persekongkolan eksekutif dengan Freeport kalau sekiranya Indonesia tetap dirugikan dari perpanjangan kontrak tersebut. Ingat, kepentingan nasional harus di atas kehendak perusahaan asing," tegas dia.

Sementara itu, tambah Pangi, panggung drama politik yang dipentaskan oleh Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR terkait pelanggaran etika tidak ada gunanya. Sidang itu mengkonfirmasi bahwa drama etika hanya salah satu cara perselingkuhan politik Freeport dan pemerintah.

"Permainan etika sebagai pintu masuk mematikan lampu yang berebut kekuasaan dan saham. Ini hanya soal perebutan kekuasaan dan saham namun etika dijadikan panggung politik," tegas peneliti politik IndoStrategi ini.

Wapres JK mengindikasikan persetujuan Pemerintah untuk tetap memperpanjang kontrak perusahaan asal Amerika Serikat tersebut. Kata JK, Pemerintah selalu menginginkan adanya peningkatan investasi langsung dari asing. Apalagi selama ini, Presiden Joko Widodo dan para menteri sengaja datang ke luar negeri untuk mengundang para investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

"Kalau undang investasi dari luar, tentu investasi yang sudah ada kita jaga kelangsungannya. Kalau tidak dijaga, bagaimana bisa undang investasi lain?" terang JK pada 9 Desember lalu. [rus]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

UPDATE

Adab di Atas Selebrasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 04:12

Belgia vs Mesir Berbagi Skor 1-1

Selasa, 16 Juni 2026 | 04:10

Pidato Bernuansa Sindiran Berpotensi Memicu Reaksi Balik Publik

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:39

Membongkar Skandal #SellIndonesia, Hebatnya Rupiah Menguat

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:19

Edura School Jawab Tantangan Guru di Era Digital

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:03

SEI Bongkar Dampak Kebijakan Batu Bara Bahlil: Pasokan Tersendat, Listrik Alami Gangguan!

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:37

Mahfud MD: UU Polri Abaikan Komisi Reformasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:24

ART Indonesia Disiksa Mirip Samsak Tinju di Malaysia

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:01

Kerja Prabowo Sudah Bagus, tapi Jangan Pidato Meledek Lagi

Selasa, 16 Juni 2026 | 01:29

Sambut 1 Muharam Setop Saling Fitnah dan Provokasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 01:25

Selengkapnya