Berita

net

Hukum

Pansus: Skandal Di Pelindo II Libatkan Banyak Pihak

SABTU, 19 DESEMBER 2015 | 20:59 WIB | LAPORAN:

Pansus Pelindo II DPR mengapresiasi penegakan hukum yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi, terkait penetapan status tersangka terhadap Dirut PT Pelindo II RJ Lino dalam dugaan korupsi pengadaan Quay Container Crane (QCC) tahun 2010.

Menurut anggota Pansus Pelindo II Masinton Pasaribu, proses penanganan berbagai dugaan korupsi di Pelindo II oleh penegak hukum baik KPK maupun Bareskrim Polri harus didukung.

"Jangan ada intervensi dari pihak manapun untuk menghalang-halangi proses penegakan hukum yang sedang berjalan," ujarnya kepada redaksi di Jakarta, Sabtu (19/12).


Dia menjelaskan, penyelidikan tahap pertama Pansus tentang pengadaan barang dan jasa, serta perpanjangan kontrak pengelolaan Jakarta International Container Terminal (JICT) antara Pelindo II dengan Hutchison Port Holdings Hongkong menemukan banyak pelanggaran hukum, pelanggaran berbagai perundang-undangan serta penyalahgunaan kewenangan dalam pengelolaan Pelindo II.

Sementara, penyelidikan tahap kedua Pansus akan dimulai awal Januari 2016 dengan mendalami persoalan ketenagakerjaan serta pembangunan dan pengembangan terminal pelabuhan baru (New Priok) oleh Pelindo II.

"Ada banyak kasus dalam pengelolaan BUMN kita, khususnya di Pelindo II yang selama ini tertutup rapat. Skandal di Pelindo II bukan hanya melibatkan jajaran direksi tapi juga melibatkan menteri dan mantan pimpinan KPK, serta tokoh-tokoh publik yang selama ini dikenal berintegritas dan independen," jelas Masinton.

Apalagi, tambahnya, kesimpulan Rapat Paripurna DPR tanggal 17 Desember 2015 berdasarkan hasil laporan penyelidikan Pansus Pelindo II merekomendasikan Presiden Joko Widodo memberhentikan Menteri BUMN Rini Sumarno dan Dirut Pelindo II RJ Lino. Karena telah melakukan perbuatan melanggar undang-undang dalam perpanjangan kontrak JICT.

"Skandal Pelindo II harus dibongkar setuntas-tuntasnya. Siapapun yang terlibat dalam skandal Pelindo II harus dimintai pertanggungjawaban hukum maupun moral," tegas politisi PDI Perjuangan itu. [wah]

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

UPDATE

Tinjau Situs Bersejarah

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:59

KPK Harus Berani Ungkap 'Borok' Sejumlah Forwarder di Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:40

Kalkulasi Strategis Akuisisi Rudal BrahMos

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:27

Gabungan Aliansi BEM Nasional Tolak Penunggangan Gerakan Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:57

Siapa Sebenarnya Pengkhianat?

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:40

Perlindungan Warga Sipil Papua Harus Berbasis Riset dan Demokrasi

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:20

Ini Pesan Panglima TNI kepada 1.737 Perwira Remaja yang Baru Dilantik

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:58

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Berikut Usulan Perpemindo ke KSP soal Penempatan PMI

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:01

Jembatan Pemikiran Frans Seda

Jumat, 26 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya