Berita

foto:net

Banyak Makan Korban, Pak Ahok Kenapa Nggak Bubarin Metromini

KAMIS, 17 DESEMBER 2015 | 09:15 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Angkutan umum Ibukota Jakarta banyak menelan korban. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta belum mampu menyediakan angkutan umum yang layak, nyaman dan aman bagi warga pengguna jalan raya Ibukota. Buktinya, kasus Metromini maut saja pada bulan Desember ini terjadi dua kali dan menelan banyak nyawa. Itu belum termasuk yang melibatkan jenis-jenis angkutan umum Kopaja dan lainnya.

Bus Metromini kembali kecelakaan hingga menimbulkan korban tewas. Kejadian teranyar di Jalan Meruya Utara, Kembangan, Jakarta Barat.

Kecelakaan maut itu melibatkan Metromini 92 jurusan Grogol- Ciledug yang menabrak bocah bernama Azam Flamboyan (7) dan ibunya Muntiarsih (35) pukul 06.00 WIB, Rabu (16/12). Akibat peristiwa itu, Azam yang hendak pergi ke sekolah, meninggal di tempat. Sementara ibunya kini dira­wat di rumah sakit karena menderita luka berat.


Polda Metro Jaya telah menga­mankan sopir Metromini bernama Denny Irawan (36). Sopir itu su­dah ditetapkan sebagai tersangka. Penyebab kecelakaan diduga karena rem bus tidak berfungsi alias blong.

Sebelumnya pada Desember ini, kecelakaan maut juga melibatkan bus Metromini, Minggu (6/12), melibatkan Metromini B 80 jurusan Kota-Kalideres bernomor polisi B 7060 FD. Bus maut itu menero­bos pintu perlintasan kereta api sehingga tertabrak kereta rel listrik (KRL) di pelintasan Tubagus Angke, Tambora, Jakarta Barat. Peristiwa itu menewaskan 18 orang dan me­lukai 6 penumpang lainnya.

Tabrakan maut angkutan umum di ibukota itu mendapat perhatian Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). "Saya sudah bilang sama mereka (Metromini, red), eng­gak ada toleransi. Semua Metromini tangkap, habisin saja," tegas Ahok di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, kemarin.

Dia meminta kepolisian bekerja cepat menertibkan angkutan kota itu. "Sekarang pemilik Metromini itu lagi diurus polisi. Yang bertang­gung jawab itu pemiliknya, harus digugat," desak Ahok.

Netizen juga menyebarluaskan informasi tabrakan maut itu di je­jaring sosial Twitter dan Kaskus. Netizen mengecam dan mendesak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Gubernur Ahok untuk men­ertibkan semua armada angkutan umum di ibukota yang tidak layak beroperasi, terutama Metromini.

Di jejaring sosial Kaskus, hingga kemarin sore, postingan tentang insiden Metromini sudah dibaca dan dikomentari lebih dari 2.000 kaskuser.

Di antaranya, akun Bozat men­desak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk meniadakan semua armada Metromini yang umumnya berusia uzur. "Satu lagi memakan korban jiwa. Pemprov apa masih belum berani bersihin Metromini dari jalanan Jakarta," kecamnya.

Akun Revantine mengaku heran kok bisa Pemprov DKI Jakarta masih membiarkan bus Metromini yang sudah uzur beroperasi. Padahal, bus ukuran tiga perempat berwarna orange itu sudah sering kecelakaan

"Lucu negeri ini, ngakunya sudah modern. Tapi masih ada kelakuan orang kayak sopir Metromini di ibukota, negara malah kayak masih di hutan," kritiknya.

Akun Pneumono Cyclone ikut me­nyalahkan pemerintah yang kurang tanggap menyediakan transportasi publik yang aman dan nyaman. "Semakin membludak penggunaan kendaraan pribadi. Harusnya diim­bangi penyediaan bus kota yang layak jalan pak. Ini juga tanggung jawab bapak (Ahok)," komennya.

Netizen yang lain menyalahkan Organda sebagai induk organisasi angkutan umum. Pengguna akun tukangbecak1 menilai, Organda merupakan pihak yang paling ber­tanggung jawab. Karen itu, Organda harus mendapatkan sanksi.

"Harusnya Organda juga ikut dipidanakan karena lalai membina anggotanya. Organda jangan cuma minta hak, tapi mengabaikan kewa­jiban," semprotnya.

Akun duipee menyayangkan pen­gusaha pemilik armada Metromini yang tidak merawat kendaraannya baik-baik. "Semestinya pengusaha Metromini dan sopirnya meningkat­kan kualitas pelayanan, bukan malah ugal-ugalan. Sekarang sudah banyak alternatif transportasi di Jakarta (Gojek dan kawan-kawan). Bentar lagi MRT, kalau nanti tersingkir pada demo, wis ora nggenah babar blas," tuturnya.

Netizen Darkthinker menyarank­an, pemerintah membuat perjan­jian dengan Organda dan pengusaha Metromini. "Sudah waktunya Pemda bikin warning, kalau sampai ada satu kasus saja Metromini yang menabrak orang lagi, semua Metromini dan Kopaja harus dihilangkan dan dilarang beroperasi di Jakarta. Jangan cuma hapus satu trayek doang," sarannya.

Netizen pengguna Twitter juga menyoroti kecelakaan Metromini yang terjadi berulangkali. Di antaran­ya, pemilik akun @regi2111190 mengaku takut naik Metromini. "Waaaaahhhhh bener-bener nih Metromini. Semakin ngeri aja. Baru saja kemarin kejadian sama kereta, sekarang? Sungguh, sungguh dan sungguh terlalu," cuitnya.

Akun @koeswantoronto meny­indir Pemprov DKI Jakarta yang tidak menindak tegas Metromini. "#METROMINI. Lo lagi..Lo lagi. Ampuunn Ahook. Lama-lama war­gamu habis dibunuhnya. Seolah nya­wa orang seperti STNK. Bisa diper­panjang 'JIKA MATI'," sindirnya.

Akun @wrahardian2 mengusulkan juga minta Metromini dan Kopaja dihilangkan dari Jakarta. Alasannya, sudah banyak memakan korban jiwa. "Setuju sekali semua Metromini dan Kopaja dilarang beroperasi, karena selalu menimbulkan korban rakyat meninggal dunia. Fasilitas pun jauh dari kata selamat," kicaunya.

Usulan lain juga disampaikan oleh akun @sofyanmr31. Menurut dia, sopir angkutan umum yang menge­mudikan ugal-ugalan harus dipidana. "Pengemudi ugal-ugalan langsung dipenjarakan untuk efek jera. Dishub dan Ditlantas jangan mau disuap, tapi apa mungkin???" cuitnya.

Akun @_ichad_ juga mendesak penghapusan operasional Metromini dan Kopaja. Tapi dia mengusulkan agar Pemprov DKI Jakarta tidak me­nelantarkan para sopir dua angkutan Ibukota itu, karena tidak semua sopir Metromini dan Kopaja mengemudi ugal-ugalan. "Kalau bisa Metromini segera dihapus dan sopirnya diberi pembekalan yang layak dengan armada yang lebih bagus semacam Transjakarta," usulnya. ***

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Dicurigai Ada Kaitan Gibran dalam Proyek Sarjan di Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 00:40

UPDATE

Dana Asing Banjiri RI Rp2,43 Triliun di Akhir 2025

Sabtu, 03 Januari 2026 | 10:09

Pelaku Pasar Minyak Khawatirkan Pasokan Berlebih

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:48

Polisi Selidiki Kematian Tiga Orang di Rumah Kontrakan Warakas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:41

Kilau Emas Dunia Siap Tembus Level Psikologis Baru

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:19

Legislator Gerindra Dukung Pemanfaatan Kayu Hanyut Pascabanjir Sumatera

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:02

Korban Tewas Kecelakaan Lalu Lintas Tahun Baru di Thailand Tembus 145 Orang

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:51

Rekor Baru! BP Tapera Salurkan FLPP Tertinggi Sepanjang Sejarah di 2025

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:40

Wall Street Variatif di Awal 2026

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:23

Dolar AS Bangkit di Awal 2026, Akhiri Tren Pelemahan Beruntun

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:12

Iran Ancam Akan Targetkan Pangkalan AS di Timur Tengah Jika Ikut Campur Soal Demo

Sabtu, 03 Januari 2026 | 07:59

Selengkapnya