Berita

said iqbal/net

Kesenjangan Di Zaman Jokowi Bahkan Lebih Parah Ketimbang Soeharto

RABU, 16 DESEMBER 2015 | 15:30 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Presidium Komite Aksi Upah Gerakan Buruh Indonesia (KAU-GBI), Said Iqbal mengatakan satu tahun lewat pemerintahan Jokowi-JK hanya memberikan kado istimewa "pahit dan menyakitkan".

"Kesenjangan alias gap pendapatan antara orang kaya dan miskin di masa Jokowi makin melebar dibandingkan masa pemerintahan terdahulu, SBY, Megawati, Gus Dur, Habibie bahkan zaman Soeharto sekalipun," sebut dia kepada redaksi, Rabu (16/12).

Said Iqbal mengungkapkan, ini diperparah dengan angka gini ratio di Indonesia yang telah berada di angka 0,42. Artinya, sudah memasuki lampu merah. Kesenjangan ini semakin parah karena si kaya makin kaya dan si miskin makin miskin.


Bank Dunia melansir angka gini ratio Indonesia yakni 0,42 pada 2015. Ini meningkat dibandingkan 2014 (0,41) dan 2013 (0,39). Menurut Said Iqbal, bagi kaum buruh ini menunjukan pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati kalangan menengah atas sedangkan menengah ke bawah termasuk buruh dan orang miskin makin terpuruk nasibnya.

Ditambah, laporan Bank Dunia menyebutkan kesenjangan pendapatan makin lebar pada tahun 2002 yang mencatat 10 persen orang kaya mengkonsumsi 42 persen hak orang miskin, dan tahun 2015 ini 10 persen orang kaya mengkonsumsi 54 persen hak orang miskin, dan 54 persen pekerjaan ada di sektor informal dengan upah murah dan tanpa jaminan sosial serta kepastian kerja.

"Ini berarti 20 persen orang kaya menikmati sekali benefit dari pertumbuhan ekonomi, dan hal ini diperparah dengan kebijakan upah murah yang diberlakukan oleh Presiden Jokowi melalui PP 78/2015 yang akan makin mempersulit biaya hidup dan menurunkan daya beli buruh serta menurunkan angka konsumsi dikarenakan kenaikan upah kecil seiring melambungnya harga kebutuhan harian seperti sembako, gas 3 kg, TDL, BBM, ongkos transportasi dan sewa rumah," beber Said Iqbal.

Ia melanjutkan, buruh sangat yakin bila kebijakan upah murah dan pro kapitalis atau bisnis melalui paket kebijakan ekonomi tanpa diiringi upah layak untuk meningkatkan daya beli dan perlindungan untuk orang miskin, maka bisa dipastikan angka gini ratio di era Jokowi-JK akan terus meningkat.

Sejarah mencatat angka empiris menunjukan revolusi Perancis, Rusia, Amerika Latin, dan Arab (Arab spring) yang menjatuhkan pemerintah adalah ketika angka gini ratio 0,5 dan Indonesia sudah berada di angka 0,42. Artinya ini sudah lampu merah.

Said Iqbal menambahkan, buruh berpendapat untuk mengurangi kesenjangan pendapatan adalah dengan meningkatkan daya beli "purchasing power" melalui upah layak bukan upah murah dengan mencabut PP 78/2015 dan memberlakukan upah sektoral industri serta meningkatkan pelayanan dan benefit jaminan kesehatan dan jaminan pensiun.

"Tolak upah murah dengan cabut PP No. 78/2015 dan tekan kesenjangan pendapatan. Kaum buruh akan terus berjuang menekan angka gini ratio ini melalui negosiasi dan aksi-aksi massa di seluruh Indonesia pada 2015 dan 2016," tukas Said Iqbal yang Presiden Konferensi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) ini. [rus]

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Dicurigai Ada Kaitan Gibran dalam Proyek Sarjan di Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 00:40

UPDATE

Dana Asing Banjiri RI Rp2,43 Triliun di Akhir 2025

Sabtu, 03 Januari 2026 | 10:09

Pelaku Pasar Minyak Khawatirkan Pasokan Berlebih

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:48

Polisi Selidiki Kematian Tiga Orang di Rumah Kontrakan Warakas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:41

Kilau Emas Dunia Siap Tembus Level Psikologis Baru

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:19

Legislator Gerindra Dukung Pemanfaatan Kayu Hanyut Pascabanjir Sumatera

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:02

Korban Tewas Kecelakaan Lalu Lintas Tahun Baru di Thailand Tembus 145 Orang

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:51

Rekor Baru! BP Tapera Salurkan FLPP Tertinggi Sepanjang Sejarah di 2025

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:40

Wall Street Variatif di Awal 2026

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:23

Dolar AS Bangkit di Awal 2026, Akhiri Tren Pelemahan Beruntun

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:12

Iran Ancam Akan Targetkan Pangkalan AS di Timur Tengah Jika Ikut Campur Soal Demo

Sabtu, 03 Januari 2026 | 07:59

Selengkapnya