MPR RI menyelenggarakan Sosialisasi Empat Pilar MPR bekerjasama dengan Kwartir Nasional Pramuka. Kegiatan yang mengambil tema "Kemah/Jambore Sosialisasi Empat Pilar MPR" berlangsung di Bumi Perkemahan Letjen TNI (Purn) DR (HC) Mashudi, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat.
Kepala Biro Persidangan Setjen MPR RI, Muhammad Rizal mengatakan, kegiatan yang berlangsung 20-23 November ini diikuti oleh 250 anggota pramuka penegak/ pendega dari wilayah Bandung Raya, meliputi Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi.
"Untuk tahun ini ada dua kegiatan Kemah/Jambore. Kalau nanti kegiatan ini ada hasilnya maka tahun depan kita akan tingkatkan lagi," kata dia dalam keterangan, Jumat (20/11).
Rizal memberi apresiasi pada Kwartir Nasional Pramuka yang telah memberi dukungan hingga terselenggaranya kegiatan sosialisasi ini. "Pramuka jadi sasaran sosialisasi, karena pramuka termasuk salah satu pilihan dari pimpinan MPR dalam rangka membentuk kader bangsa," jelas dia dalam sambutan.
Sosialisasi Empat Pilar dengan metode Kemah/Jambore untuk anggota pramuka ini dibuka secara resmi oleh pimpinan Fraksi Golkar di MPR H. Hardisoesilo. Anggota Badan Sosialisasi yang juga anggota MPR kelompok DPD RI H. Ghazali Abbas Adan, Wakil Ketua Kwartir Nasional Pramuka Marbawi, dan Ketua Kwartir Daerah Pramuka Jawa Barat juga hadir dalam acara tersebut.
Hardisoesilo menyatakan, setelah reformasi terasa ada kekosongan dalam membangun karakter bangsa. Kalau pada masa Orde Baru sosialisasi Empat Pilar diselenggarakan oleh sebuah badan, BP-7, dan kegiatannya dikenal dengan P-4. "Dulu seseorang yang mau anggota DPR/MPR harus lulus P-4 model 120 jam," ujar dia dalam sambutan.
Setelah Orde Baru tidak ada lembaga yang melakukan sosialisasi Empat Pilar. MPR kemudian diberi amanat oleh undang-undang untuk melaksanakan sosialisasi Empat Pilar. "Jadi, sosialisasi ini bukan wewenang MPR ditetapkan oleh UUD, melainkan oleh UU," ungkap Hardisoesilo.
Menurutnya, sosialisi ini penting karena setelah reformasi orang seakan lupa Pancasila dan malu menyebutnya karena dianggap berbau orde baru. Sekarang, setelah MPR secara masif menyelenggarakan sosialisasi Empat Pilar, orang mulai tak lagi malu-malu menyebut Pancasila.
Kepada anggota pramuka, Hardisoesilo berharap, kegiatan ini dapat menambah wawasan dalam tata kehidupan berbangsa dan bernegara, dan di kegiatan ini para peserta mmendapat informasi berbagai hal, termasuk GBHN. Ini untuk anggota Pramuka, karena pramuka adalah salah satunya sisa harapan bangsa.
Seperti juga diungkapkan oleh Wakil Ketua Kwartir Nasional Pramuka Marbawi bahwa menjadi Pramuka pada hakikatnya adalah tulang punggung negara dan bangsa. Maka, kerjasama dengan MPR ini, menurut Marbawi, dimakasudkan untuk menyiapkan gerasi sebagai penanggung jawab pembangunan bangsa yang besar ini.
"Ini negara besar tidak bisa dipimpin oleh pemimpin yang setiap hari pegang HP. Kita membangun bangsa ini dengan disiplin," ujar Marbawi.
[sam]