Berita

neta s pane/net

Neta IPW: Dokpol Polri Perlu Direformasi

SELASA, 17 NOVEMBER 2015 | 11:27 WIB | LAPORAN:

. Keberadaan Kedokteran Kepolisian (Dokpol) Mabes Polri perlu direformasi. Pasalnya, teknologi kedokteran semakin berkembang pesat dan Dokpol perlu mengikuti serta mengadopsi perkembangannya untuk kemajuan Polri, terutama dalam meningkatkan kualitas forensik dan otopsi serta pelayanan ke masyarakat.

Hal itu ditegaskan Ketua Presidium IPW Neta S Pane kepada Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (17/11). Pernyataan itu disampaikan setelah IPW yang diundang ke pameran High-Tech Solutions for Midecal Technologi di Dusseldorf, Jerman dari 16-19 November 2015 melihat betapa berkembangnya teknologi medical yang bisa diadopsi dan dimanfaatkan Dokpol Polri.

Di pameran itu ditampilkan juga sejumlah high-tech solutions untuk forensik dan otopsi, yang sangat dibutuhkan Polri saat ini.


Menurut dia, adopsi teknologi itu perlu dilakukan Polri apalagi selama ini masyarakat internasional sering meminta bantuan DVI Dokpol Polri, misalnya dalam tragedi di Makkah saat musim haji kemarin.

"Selama ini ada dua hal strategis di Dokpol, yakni kedokteran kepolisian dan rumah sakit kepolisian. Tapi keduanya sering kali tidak seiring. Padahal RS Polri harusnya menjadi pendukung dan pelaksana penuh bagi konsep-konsep kedokteran kepolisian," kata Neta.

Dengan demikian, dia menambahkan strategi Dokpol bermuara ke satu titik, yakni pengembangan untuk kepentingan Polri yang didukung penuh oleh RS Polri. Tidak seperti selama ini, RS Polri lebih diarahkan untuk bersaing dengan rumah sakit pemerintah dan swasta. Sementara hanya 10 persen anggota Polri yang memanfaatkannya.

" Melihat perkembangan medical technologi dimana high tech (teknologi tinggi) bisa menjadi solusi, Dokpol Polri, terutama RS Polri, perlu melakukan perubahan signifikan," ujarnya.

Apalagi Polri kata Neta memiliki 45 RS Polri yang tersebar di seluruh Indonesia bisa diarahkan 100 persen untuk kepentingan Polri dan RS Polri harus punya ciri khas dan menjadi high tech solutions.

"Dengan demikian RS Polri menjadi rumah sakit kecelakaan lalulintas (Lakalantas), rehab korban narkoba, rumah sakit untuk tahanan, patologi foreksik, forensik klinik untuk KDRT, traumatik center, merawat polisi yang luka, merawat masyarakat yang menjadi korban kelalain, dan korban teror bom‎," demikian Neta. [rus]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

AS Gempur ISIS di Suriah

Minggu, 11 Januari 2026 | 18:14

Aksi Kemanusiaan PDIP di Sumatera Turunkan Tim Kesehatan Hingga Ambulans

Minggu, 11 Januari 2026 | 18:10

Statistik Kebahagiaan di Jiwa yang Rapuh

Minggu, 11 Januari 2026 | 17:52

AS Perintahkan Warganya Segera Tinggalkan Venezuela

Minggu, 11 Januari 2026 | 17:01

Iran Ancam Balas Serangan AS di Tengah Gelombang Protes

Minggu, 11 Januari 2026 | 16:37

Turki Siap Dukung Proyek 3 Juta Rumah dan Pengembangan IKN

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:53

Rakernas PDIP Harus Berhitung Ancaman Baru di Jawa Tengah

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:22

Rossan Roeslani dan Ferry Juliantono Terpilih Jadi Pimpinan MES

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:15

Pertamina Pasok BBM dan LPG Gratis untuk Bantu Korban Banjir Sumatera

Minggu, 11 Januari 2026 | 14:50

Pesan Megawati untuk Gen Z Tekankan Jaga Alam

Minggu, 11 Januari 2026 | 14:39

Selengkapnya