Berita

hanafi rais/net

Hanafi Rais: Serangan Di Prancis Belum Titik, Masih Koma!

SENIN, 16 NOVEMBER 2015 | 08:17 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Wakil Ketua Komisi I DPR RI Hanafi Rais mengatakan apa yang terjadi di Prancis berupa serangkaian terorisme yang menewaskan ratusan korban adalah bentuk kebiadaban dan kejahatan kemanusiaan.

"Kita semua sangat prihatin dan menolak segala bentuk kekerasan," kata dia kepada redaksi, Senin (16/11).

Namun, lanjut Hanafi, kejadian di atas belum titik, masih koma. "Kita jangan pernah lupa juga untuk mencari jawaban atas pertanyaan mengapa itu bisa terjadi. Tak mungkin ada kejadian tunggal yang berdiri sendiri tanpa interkoneksi dengan kejadian lainnya," terangnya.


Menurut politisi PAN ini, radikalisme di Prancis dan tanah Eropa lain muncul pasti bukan karena kebetulan. Bisa jadi itu bagian dari akumulasi luka sosial maupun sejarah. Praktek dan paham rasisme karena kebijakan imigrasi yang kurang tepat di Eropa bisa juga jadi salah satu faktor yang menjelaskan mengapa ISIS yang lahirnya di Suriah dan kawasan Timur Tengah bisa berkolaborasi dengan warga Eropa imigran maupun lokal dalam melakukan perlawanan berbentuk teror itu.

Ditambah lagi dengan alasan-alasan eksternal seperti perang Suriah/Irak, perlakuan terhadap Palestina, maupun kejadian-kejadian lainnya yang dianggap tidak adil.

Jelas Hanafi, beruntunglah bahwa Indonesia sebagai negara multikultural sudah bersepakat soal Bhinneka Tunggal Ika sebagai salah satu pilar kebangsaan. Kata Hanafi, ini yang membedakan Indonesia dengan Eropa.

Tambah dia, jika ke depan pemerintah selalu fokus untuk mengejar pertumbuhan ekonomi, maka harus dipastikan bahwa tak ada ketimpangan ekonomi yang malah punya implikasi pada kesenjangan SARA baik pada tingkat nasional maupun lokal.

"Terhadap ancaman ISIS yang berkolaborasi dengan berbagai warga negara, termasuk kemungkinan dari Indonesia, maka pemerintah melalui jejaring intelejennya sebaiknya lebih meningkatkan cegah dan tangkal dini terhadap berbagai upaya radikalisasi di beberapa kantung sosial yang sudah teridentifikasi," demikian Hanafi. [rus]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

UPDATE

Khalid Basalamah Ngaku Hanya jadi Korban di Kasus Yaqut

Kamis, 23 April 2026 | 20:16

Laba BCA Tembus Rp14,7 Triliun

Kamis, 23 April 2026 | 20:10

Singapura Masih jadi Investor Terbesar RI, Suntik Rp79 Triliun di Awal 2026

Kamis, 23 April 2026 | 20:04

TNI-Polri Buru Anggota OPM Penembak ASN di Yahukimo

Kamis, 23 April 2026 | 19:43

Hilirisasi Sumbang Rp147,5 Triliun Investasi di Triwulan I 2026

Kamis, 23 April 2026 | 19:26

Bareskrim Gandeng FBI Buru Ribuan Pembeli Alat Phising Ilegal

Kamis, 23 April 2026 | 19:17

Jemaah Haji Terima Uang Saku 750 Riyal dari BPKH

Kamis, 23 April 2026 | 19:15

Data Rosan Ungkap Investasi RI Lepas dari Cengkeraman Jawa-Sentris

Kamis, 23 April 2026 | 19:02

PLN Pastikan Listrik Jakarta Sudah Pulih 100 Persen

Kamis, 23 April 2026 | 18:56

Idrus Marham Sindir JK: Jangan Klaim Jasa, Biarlah Sejarah Menilai

Kamis, 23 April 2026 | 18:41

Selengkapnya