Berita

teguh santosa/rmol

Politik

Horor Paris, Indonesia Tak Cukup Berduka

MINGGU, 15 NOVEMBER 2015 | 14:11 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Indonesia dan masyarakat dunia pada umumnya tengah menghadapi dua jenis fundamentalisme yang sangat berbahaya yang membuat perdamaian di muka bumi hilang digantikan kebencian dan peperangan.

Demikian disampaikan pengajar hubungan internasional Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Teguh Santosa, dalam keterangan yang diterima redaksi, Minggu (15/11).

Aktivis Forum Indonesia 2050 ini mengatakan, fundamentalisme jenis pertama bersifat kasat mata dan dengan mudah dapat dikenali. Sementara fundamentalisme jenis kedua hampir-hampir sulit dikenali, dan bahkan tak banyak yang menyadari kehadirannya.  


"Jenis pertama adalah fundamentalisme sektarian, yang menggunakan identitas dan apa yang diyakini benar, sebagai slogan perjuangan dan perlawanan. Sering kali pula menggunakan tema kesukuan, agama, ras, dan yang paling kecil tema golongan," ujar Teguh Santosa.

Penganut fundamentalisme jenis pertama ini, sambungnya, dengan mudah menciptakan identitas, menarik demarkasi antara "aku" dan "kamu", "kita" dan "mereka".

Adapun fundamentalisme jenis kedua yang tidak kasat mata adalah  keyakinan bahwa pasar ada di atas segalanya, sebagai aktor tunggal yang menentukan mana yang baik untuk rakyat dan negara.

Fundamentalisme pasar percaya bahwa setiap individu punya kebebasan yang sama di lapangan politik dan ekonomi. Pada praktiknya, paham kebebasan ini menjelma menjadi neoliberalisasi dimana pasar dikuasai hanya oleh segelintir orang dan kelompok namun bisa mendikte mayoritas orang atau kelompok lain.

"Pada gilirannya, kebebasan yang tadinya dipercaya sebagai instrumen untuk memerdekakan individu menjelma menjadi instrumen bagi individu tertentu untuk menguasai tema-tema besar politik dan ekonomi," imbuhnya.

Fundamentalisme pasar, masih kata Teguh, melahirkan ketimpangan, ketidakadilan, penjajahan gaya baru dan memicu kemarahan, kebencian, memberikan alasan bagi kelahiran fundamentalisme sektarian.

"Kita berduka atas apa yang terjadi di Paris pada Jumat malam lalu. Kengerian yang tak terbayangkan sebelumnya. Horor yang telah terjadi sejak beberapa waktu lalu di banyak tempat di muka bumi. Kita berduka, tetapi duka saja tidak cukup," kata Teguh.

Sejatinya, sambung Teguh, Indonesia pun tengah menghadapi dua jenis fundamentalisme ini. Untuk menghadapi keduanya dibutuhkan pekerjaan yang jauh lebih besar dari sekadar berduka. Dia mengajak masyarakat Indonesia berani mengatakan tidak pada kedua jenis fundamentalisme ini.

"Kita harus berani mengatakan: Indonesia tercinta ini milik semua. Indonesia tanpa penindasan, tanpa ketimpangan, tanpa ketidakadilan, tanpa kebencian. Indonesia tempat anak dan cucu kita hidup di masa depan sampai akhir zaman," seru Teguh.

Karena fundamentalisme sektarian bisa dengan mudah tumbuh subur di tengah ketimpangan dan ketidakadilan yang dihasilkan fundamentalisme pasar, Teguh mengajak semua elemen membantu pemerintah Indonesia agar menghasilkan kebijakan yang pro rakyat yang sungguh-sungguh berorientasi melindungi rakyat banyak yang kurang beruntung. [dem]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

UPDATE

PDIP Duga Ada Pengerahan Komcad Saat Pengamanan Demo Mahasiswa, Ini Penjelasannya

Senin, 15 Juni 2026 | 08:19

Bursa Asia Hijau Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 08:12

Harga Minyak Dunia Rontok Usai Trump Umumkan Kesepakatan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:54

Harga Logam Mulia Melonjak, Emas Mendekati Rekor Baru

Senin, 15 Juni 2026 | 07:42

AS dan Iran Bakal Teken Perjanjian Damai di Swiss Jumat Ini

Senin, 15 Juni 2026 | 07:26

Pemerintah Dorong Susu Hadir Setiap Hari dalam Program MBG

Senin, 15 Juni 2026 | 07:15

Trump Klaim Amankan Kesepakatan Damai Terbesar dengan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:00

Pengelolaan Blok Andaman Diusulkan Pakai Skema Hybrid

Senin, 15 Juni 2026 | 06:50

Dokter Tifa Dukung Prabowo Pimpin RI Tanpa Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 06:27

Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor

Senin, 15 Juni 2026 | 06:23

Selengkapnya