Berita

Daniel Johan/net

Hukum

Anggota Pansus: Bos RJ Lino Bukan Pemerintah Tapi Pengusaha Besar Asing

MINGGU, 08 NOVEMBER 2015 | 06:40 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Tidak ada alasan Pemerintah mempertahankan RJ Lino sebagai Direktur Utama PT. Pelindo II. Temuan sementara Pansus Angket Pelindo II DPR menunjukkan, Lino terbukti gagal menjaga pelabuhan sebagai aset nasional dan lebih tunduk kepada asing.

Demikian diungkapkan Anggota Pansus Angket Pelindo II DPR, Daniel Johan saat dihubungi, Minggu (8/10).

Yang dimaksud Danil adalah pengelolaan Terminal Peti Kemas Jakarta (Jakarta International Container Terminal/JICT). JICT dikelola Hutchinson Port Holding (HPH), sebuah perusahaan asal Hong Kong, sejak 1999 dan seharusnya kontrak habis pada 2019. Namun oleh Lino, kontrak diperpanjang sejak 2014 lalu dan tanpa persetujuan Pemerintah seperti disyaratkan undang-undang.


"Lino seharusnya memperjuangkan agar pelabuhan itu dikelola anak bangsa. Toh itu pekerjaan yang pasti bisa kita kerjakan, enggak susah. Tapi dia justru bangga kalau JICT itu diserahkan ke asing," kata Danil.

"Apalagi kalau dia berargumen lebih untung diserahkan ke HPH. Maka lebih baik diganti saja," tegas politisi PKB itu menambahkan.

Oleh pihak Lino, penyerahan JICT ke HPH itu memang menguntungkan perusahaan secara finansial karena sudah ada kepastian fee dibayar di muka dari HPH. Ada juga sejumlah pengeluaran yang batal dikeluarkan PT. Pelindo II bila JICT tetap diserahkan kepada HPH. Tapi bagi Daniel, alasan-alasan keuangan itu tak berarti bila dihadapkan dengan prinsip kemandirian anak bangsa yang seharusnya didorong dan dibela setiap dirut BUMN.

"Untuk apa dioperasionalkan asing. Harus diingat, pelabuhan itu pintu gerbang Indonesia. Pelindo tak ngapa-ngapain saja, pelabuhan pasti untung," ujarnya.

Pansus Pelindo II DPR lalu mencoba menelusuri siapa saja pihak yang membuat Lino tunduk. Setelah ditelusuri, ketahuan bahwa ada Li Ka Shing, pengusaha asal Hongkong, yang berteman dengan Rothschild, pengusaha besar berbasis di Eropa, AS, dan Asia, ada di baliknya. Li Ka Shing, kata Daniel, adalah pemilik HPH. Sementara perusahaan grup Rothschild terlibat sebagai penasehat keuangan independen yang disewa oleh Pelindo II.

"Kok kita ujung-ujungnya masa tunduk dengan Li Ka Shing? Ngapain Indonesia dibuat tunduk dengan asing? Jadi, sebenarnya siapa bos Lino? Bukan Pemerintah. Tapi adalah Li Ka Shing," imbuhnya.

Li Ka Shing adalah salah satu orang terkaya di dunia dengan kekayaan terakhir diprediksi sekitar USD 31,9 miliar atau setara Rp 430 triliun. Sementara keluarga Rothschild sudah lama dikenal sebagai salah satu keluarga keturunan Yahudi yang 'mengatur' dunia melalui industri keuangan.

Sementara itu tambah Daniel, salah satu misi Pansus Pelindo II adalah memberi sinyal kepada dunia bahwa Indonesia sudah tak mau lagi hanya menjadi sapi perahan, dan harus menjadi pihak yang paling diuntungkan dari setiap pengelolaan investasi asing. Maka itu, Pelindo II juga harus dijadikan pionir untuk niatan itu.

Atas hal itu pula Daniel menilai RJ Lino sudah tak layak memimpin Pelindo II atas berbagai kegagalannya. Selain menyerahkan aset penting seperti JICT kepada asing, Lino juga memiliki sejumlah kegagalan dalam memimpin manajemen perusahaan itu. Misalnya, adanya masalah ketenagakerjaan dan kisruh manajemen. Lalu belum selesainya terminal peti kemas baru di Kalibaru yang berdasarkan Perpres seharusnya selesai di tahun ini.

"Lalu manajemen gali lobang tutup lubang. Pinjam uang untuk menutup utang. Begitu terus," kata Daniel menutup komentarnya. [rus]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

UPDATE

PDIP Duga Ada Pengerahan Komcad Saat Pengamanan Demo Mahasiswa, Ini Penjelasannya

Senin, 15 Juni 2026 | 08:19

Bursa Asia Hijau Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 08:12

Harga Minyak Dunia Rontok Usai Trump Umumkan Kesepakatan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:54

Harga Logam Mulia Melonjak, Emas Mendekati Rekor Baru

Senin, 15 Juni 2026 | 07:42

AS dan Iran Bakal Teken Perjanjian Damai di Swiss Jumat Ini

Senin, 15 Juni 2026 | 07:26

Pemerintah Dorong Susu Hadir Setiap Hari dalam Program MBG

Senin, 15 Juni 2026 | 07:15

Trump Klaim Amankan Kesepakatan Damai Terbesar dengan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:00

Pengelolaan Blok Andaman Diusulkan Pakai Skema Hybrid

Senin, 15 Juni 2026 | 06:50

Dokter Tifa Dukung Prabowo Pimpin RI Tanpa Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 06:27

Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor

Senin, 15 Juni 2026 | 06:23

Selengkapnya