. Walapaun gerimis membasahi Desa Broto, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, namun hal itu tidak mengurangi minat masyarakat untuk berduyun-duyun menuju lapangan desa, Minggu malam (7/10).
Di lapangan desa itu digelar pertunjukkan wayang kulit semalam penuh. Pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Fajar Apriyanto dengan lakon Wahyu Cakraningrat itu diadakan dalam rangka untuk mensosialisasikan 4 Pilar MPR RI, yakni Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Sebelum pertunjukkan dimulai dalam sambutan Kabiro Humas Setjen MPR Maruf Cahyono mengatakan pagelaran wayang kulit merupakan salah satu metode Sosialisasi 4 Pilar. Di lain daerah menurut Maruf disesuaikan dengan budaya masyarakat setempat.
Bagi Maruf sosialisasi merupakan sesuatu yang penting sehingga perlu disosialisasikan hingga masyarakat desa. Dikatakan bahwa 4 Pilar MPR harus diamalkan dalam kehidupan keseharian.
Disampaikan kepada masyarakat bahwa pagelaran wayang bukan sekadar tontonan namun juga harus jadi tuntunan. Tuntunan untuk menginternalisasikan 4 Pilar MPR. Dikatakan kembali bahwa 4 Pilar MPR tidak hanya dipahami namun juga harus diaktualisasikan dalam keseharian.
"Mari kita saksikan pagelaran wayang kulit ini dan mari kita terus jaga dan laksanakan nilai-nilai luhur bangsa," tegas Maruf mengajak seperti dalam rilis Humas MPR. Hadir dalam acara itu Anggota MPR RI Edi Baskoro Yudhoyono.
Kisah Wahyu Cakraningrat adalah lakon yang menceritakan tiga satria yakni Raden Lesmana Mandrakumara, Raden Samba, dan Raden Abimanyu. Mereka dengan cara masing-masing bertapa di hutan Gangga Wirayang dengan harapan untuk mendapat Wahyu Cakraningrat.
Ketiga raden itu berambisi untuk menjadi raja. Untuk menjadi raja tentu tidak mudah sebab wahyu yang diinginkan tersebut bisa diraih apabila mereka mampu memenuhi syarat yang ditentukan. Untuk mendapat wahyu itu, mereka harus bisa menjadi tauladan bagi banyak orang, memberi rasa aman dan tentram serta pada masyarakat, amanah, juga bisa dekat dengan masyarakat dan peduli pada lingkungan.
Suatu ketika, wahyu yang berwujud Batara Cakraningrat turun ke bumi. Sang batara mencari sosok yang bisa memenuhi syarat untuk menjadi pemimpin atau raja. Kali pertama, batara masuk dalam diri Lesmana. Sayang Lesmana tak bisa mengendalikan diri ketika batara menyatu dalam jiwa dan raganya. Lasmana rupanya mudah tergoda dengan perempuan.
Gagal pada tubuh dan jiwa Lesmana, batara pindah ke tubuh dan jiwa Samba. Rupanya apa yang dialami batara saat menyatu di dalam jiwa dan raga Lesmana sama dengan saat pada diri Samba. Samba rupanya sosok yang juga mudah tergoda pada perempuan. Akhirnya batara masuk pada tubuh Abimanyu. Rupanya Wahyu Cakraningrat itu mampu menyatu dengan jiwa dan raga Abimanyu. Dari sinilah akhirnya Abimanyu dapat meraih Wahyu Cakraningrat.
Saat Abimanyu mendapat wahyu, rupanya Lesmana tidak terima. Dengan bantuan Kurawa, Lesmana ingin merebut wahyu itu sehingga terjadi perang antara Kurawa dan Pandawa namun kebenaran selalu berpihak pada yang benar, pada Abimanyu dan Pandawa, seperti ungkapan sura dira jayadiningrat lebur dining pangastuti.
[rus]